#SemangArtSenin: Anthony Sinisuka Ginting dan Perjalanan Menggapai Puncak

The Winner (sumber: badmintonindonesia.org)

The Winner (sumber: badmintonindonesia.org)

Siapa yang minggu siang kemarin ikutan senam jantung melihat laga final China Open 1000 antara Ginting lawan Kento Momota? Saya *ngacung paling tinggi.

Sepanjang pertandingan saya deg-degan nggak karuan. Udah nonton di MNC, ngintip livescore di situs BWF, livescore di @badmintontalk, dan sesekali streaming di @BadVidLiv saat siaran TV error. Saya teriak-teriak sendiri, gemas sendiri, dan jingkrak-jingkrak sendiri mirip orang gila ahahaha.

Semenjak Asian Games 2018 saya emang jadi lebih intens nontonin badminton dan ngikutin semua beritanya. Kalau dulu hanya nonton dan baca berita turnamen-turnamen penting saja, sekarang jadi ngikutin semuanya. Saya semacam menemukan kesenangan baru.

Satu hal yang nggak boleh dilewatkan dari pertandingan cabor Bulutangkis di Asian Games 2018 tentu saja momen selebrasi kemenangan Jojo buka baju pertandingan final tim beregu putra antara Indonesia vs China.

Semua pasti ingat bagaimana Ginting yang menjadi MS pembuka harus menyerah karena kram di tengah pertandingan. Tapi dia tidak mengalah dengan mudah. Sekali jatuh dia masih berusaha untuk bangkit dan main lagi. Hingga di satu titik dia jatuh di pinggir lapangan dan tidak bisa bangun sehingga harus dibawa tim medis keluar lapangan. Duh, saya berkaca-kaca kalau ingat momen itu.

Saat itu Ginting menjadi perbincangan di dunia maya, menjadi trending di twitter. Semua terharu dan memuji perjuangannya yang tak mau menyerah sebelum benar-benar tidak bisa bangun lagi. Saya ingat banget twit Mas Zen, senior saya di padepokan dulu, “Dalam sejarah olahraga, tidak banyak kekalahan yang akan terus diingat sebagai hal yang manis. Kekalahan Ginting mungkin salah satunya”.

Ginting memang tidak memenangkan pertandingan (dan tim putra Indonesia harus puas dengan medali perak), tapi dia memenangkan hati banyak orang. Shi Yuqi might win the game, but Ginting won our hearts.

Dibalik kejadian tersebut, ternyata ada juga mulut-mulut nyinyir yang merisaknya. Ada yang bilang dia hanya acting karena sudah tau akan kalah. Ucapan-ucapan pedas memenuhi komentar instagram, saya sendiri sampai ogah lihat. Gila banget itu lambe netijen kalau sudah berkomentar. Nyatanya hal ini tidak menyurutkan langkahnya.

Dia seperti si katak tuli yang tak peduli omongan negatif tentangnya. Dia terus berlatih dan berjuang supaya bisa memanjat pohon dna mencapai titik tertinggi. Dia tidak terpapar energi negatif dari kaum kelompencapir (kelompok pencela dan pencibir) . Yang dia lakukan adalah terus fokus pada satu titik.

Saat bertanding di nomor individu AG, dia menundukkan lawan-lawan berat, meski pada akhirnya dia juga belum bisa mendapatkan emas. Usai AG, dia berlaga di Japan Open Super 750. Lagi-lagi dia belum berhasil menjadi pemenang.

Hingga akhirnya dia memulai perjalanannya di China Open Super 1000. Saat lihat lawan pertama yang harus dia hadapi, rasanya berat banget. Lin Dan cuy, dia kan semacam legenda hidup. Ternyata dia mampu melibasnya. Setelah itu dia bertemu dengan Axelsen yang sebelumnya mengalahkannya di Japan Open. Lagi-lagi Ginting menang. Gemuruh semakin riuh. Lantas dia melaju ke QF melawan Chen Long, ke SF melawan CTC, dan terakhir di final melawan Kento Momota si juara Japan Open.

Semua lawannya adalah seeded player, alias pemain unggulan dalam turnamen itu. Tapi dengan gagah berani Ginting libas satu persatu. Dia suguhkan permainan yang menarik. Dia tampilkan betul kualitas dia seperti apa. Pada akhirnya dia keluar menjadi juara. Kento Momota yang tahun ini unstoppable dia hentikan dalam 2 game langsung.

Selama menyaksikan Ginting bertanding (dan semua pemain yang saya tonton), saya tidak hanya menikmati permainan mereka dan ikut deg-degan, tapi saya juga merenungkan dan belajar tentang banyak hal. Badminton mengajarkan saya tentang bagaimana berjuang dalam hidup.

Membincang perjalanan Ginting menuju podium China Open Super 1000 ini mengingatkan saya akan film Facing The Giant yang terinspirasi dari kisah Daud dan Goliat. Film itu menceritakan kisah Tim American Football/Rugby sebuah sekolah menengah di Amerika. Mereka adalah tim yang selalu kalah dan diremehkan, bahkan hampir dibubarkan oleh sekolah. Namun karena semangat yang pantang menyerah, latihan yang terus menerus, serta konsistensi yang ditunjukkan, pada akhirnya tim yang selalu diremehkan itu berhasil menyabet kejuaraan bergengsi dengan mengalahkan tim raksasa di kota mereka.

“Satu jatuh lagi, satu jatuh lagi, satu jatuh lagi,” begitu yang selalu mereka ulang-ulang untuk menyemangati anggota tim yang sudah kelelahan.

Buat saya, Ginting itu semacam Daud kecil yang diremehkan. Tak hanya itu, Daud juga diabaikan oleh ayahnya sendiri, dianaktirikan. Tapi keadaan itu tidak membuatnya patah arang. Saat dia sendirian menggembalakan kawanan ternaknya di padang rumput, dia tidak merutuki nasib, dia justru berlatih keras dengan melawan singa dan beruang. Pada akhirnya, saat waktunya tiba, Daud yang kecil dan selalu diremehkan menjadi “penentu” kemenangan karena mampu mengalahkan Goliat sang raksasa.

Mereka berhasil membungkam cacian dengan prestasi (Sumber: Badmintonindonesia.orf)

Mereka berhasil membungkam cacian dengan prestasi (Sumber: Badmintonindonesia.org)

Memang harusnya kita memiliki semangat juang seperti itu. Seperti Ginting yang tak gentar menghadapi siapa lawannya, yang penting kita sudah mempersiapkan diri dan mengerahkan kemampuan terbaik yang kita punya. Setidaknya, jika kita kalah pun kelak orang akan mengingat kita dengan bangga, bahwa kita sudah berjuang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Kita tidak menyerah dan berbalik arah di tengah jalan.

Intinya jangan mudah mutung dan ngedrop dengan kritikan, jadikan itu sebagai pelecut semangat. Terus melatih diri. Jadilah konsisten. Jangan mudah menyerah. Karena kelak akan ada masanya kemampuan bertemu dengan kesempatan. Lalu booooom, something big happens.

Di awal pekan ini, saya mau belajar dari Daud, saya mau belajar dari Ginting, saya mau belajar dari Kento Momota. Jatuh itu tak mengapa, yang penting kita harus bangun lagi. Semua orang pasti akan jatuh, namun respon atas kejatuhan itulah yang menjadi penentu sebuah perubahan.

Sebagai penutup tulisan ini saya cuma mau bilang “Selamat Anthony Sinisuka Ginting. Terima kasih untuk tidak mudah menyerah. Terima kasih sudah menjadi inspirasi. Selamat berjuang di Korea Open. Jangan pernah lelah melayani negeri dengan talentamu dan memberi dampak bagi generasi. God bless you, Ting!”

 

*) SemangArtSenin adalah tema baru di blog ini yang akan tayang tiap hari senin. Masalah tayangnya per kapan saya nggak bisa janji. Bisa setiap senin, bisa dua minggu sekali, bisa sebulan sekali, bisa sepengennya saya, yang penting senin. Selamat membaca, semoga suka!

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

12 Responses

  1. Wkwkwkw. Jalur Anthony kemarin emang serem sih. Jalurnya juara dunia, peringkat 1 BWF, bahkan Kento Momota sendiri karena masuk final, poinnya sudah melewati Victor Axelsen (yang saat itu jadi peringkat 1 BWF). Jadi bisa dibilang Anthony lawan pemain nomer 1 BWF dalam seminggu. :))))

    Sayangnya Minion kalah, Greys/Apri juga :(

    Dengan juara di China Open, Anthony jadi peringkat 7 untuk world tour 2018. Kalo stabil, akhir tahun bisa ikutan World Tour Final di Dubai!!!!

    • Draw neraka itu ahahaha. Banyak yang pesimis, aku pun iya awalnya. Tapi dia libas semua.

      Aha iyaaa, dan dia merusak momen gembira Momota yg naik peringkat 1 dengan ngalahin dia straight game.

      Amiiin amiiin, semoga di turnamen selanjutnya dia tetap konsisten.

  2. Waaa jadi postingan blog.

    Btw kok kita samaan ya mba. Semenjak Asian Games 2018 saya juga jadi lebih sering kepoin bulu tangkis walaupun sebenarnya engga suka-suka banget. Ya gimana dong, prestasi atlit-alitnya membanggakan sih. Soal semangat Ginting ini memang bikin salut dan kontemplatif sekali buat orang-orang yg sedang berjuang, di bidang apapun. Enggak apa-apa sekali-kali kalah asal kekalahan itu bisa dijadikan pelajaran. Kalau kata Last Child,

    “Setidaknya diriku pernah berjuaaaang”.

    • Kalo aku aslinya dari dulu suka, cuma nggak tertarik buat ngikutin lebih jauh. Dan setelah AG akhirnya membabtis diriku sebagai BL nubie ahahahaha.

      Iya nih, khususnya sektor MS. Selama inj kan banyak yg pandang sebelah mata n kritik, bahkan minta ganti pelatih. Tapi dengan 3 juara berturut2 AG, China Open, Indonesia Master jadi ajang pembuktian.

      Eh kok aku belum tau lagunya, ya. Cari aaah.

  3. Aku juga suka nonton badminton, sayangnya nggak ada TV jadi cuma nonton kalo pas kebetulan ada akses dengan TV 😀
    Aku mewek lho nonton Facing The Giants :(

    • Ah sekarang badminton juga jarang disiarin TV jadi kudu streaming atau cukup mantengin livescore kalau miskin kuota, tapi deg-degannya tetep sama.

      Facing the Giant itu dulu film wajib putar saat inagurasi mahasiswa baru PMK. Ku juga mewek hehe.

  4. Ceritaeka says:

    Nonton badminton itu deg-degan gilak sampe ikut teriak-teriak 😀

  5. Hairi Yanti says:

    Jalan Ginting emang terjal banget di China Open. Surprise dia bisa juara. Yang dikalahin pemain top semua dan ntar di Denmark Open ketemu Momota lagi di babak pertama. Hihihi…

    • Nggak nyangka banget ya kalau Ginting bisa juara di China.
      Iya nih, kesel juga lihat draw Denmark Open. Sayang peringkat yang dipakai sebelum Ginting menang China Open, kalau sesudah itu harusnya dia bisa masuk seed yak. R1 rasa final nih besok.

  6. Fanny F Nila says:

    Sbnrnya aku ga ngikutin acara pesta olahraga ini. Tp krn temen2 kantor banyak yg bahas, mau ga mau jd denger dan ikutan bangga sbnrnya :). Hebat sih atlet yg begini, dgn tajamnya mulut orang2 yg cm bisa menghina, tp dia ga kemakan dgn semua yg negative td. Susah itu apalagi kalo orgnya baperan. Aku aja blm tentu bisa kuat dgr kritikan yg menghina :p. Semoga alet2 Indonesia semakin banyak yg berprestasi dan mengharumkan negara di bidang olahraga apapun ya mba

Sharing yuk!