Perjalanan BAKTI ke Desa Campa: Menyalakan Harapan di Pelosok Negeri

Anak anak Desa Campa Bima

Tiara dan teman kecilnya

Tangan Tiara gemetar saat saya menyodorkan kamera kepadanya. Dengan penuh hati-hati dia menggenggam kamera tersebut.

“Kameranya diarahkan ke depan, nanti dipencet sebelah sini ya,” kata saya memberi contoh. Dia memperhatikan penjelasan saya dengan seksama. Meski terlihat bingung, tapi kilat di matanya terlihat begitu penasaran dan antusias.

 “Ayo kita berdiri di sini ramai-ramai, nanti biar Tiara yang motret,” seru saya pada bocah-bocah lain yang mengelilingi kami. Meski awalnya malu-malu, akhirnya mereka mulai bergaya di depan kamera.

Satu jepretan, dua jepretan, hingga akhirnya gadis mungil yang masih duduk di kelas 1 SMP ini berkata “Kakak, ini kok jadi hitam”. Rupanya dia salah pencet tombol. Saya pun mengajarinya sekali lagi dan kali ini berhasil.

Saya bertemu bocah-bocah itu pada pagi yang menua, di tengah sengatan matahari Pulau Sumbawa yang terkenal sangat garang. Di kala bocah-bocah seusia mereka seharusnya sekolah, saya justru melihat mereka duduk bersantai di atas pohon sembari mendendangkan lagu tradisional.

Anak-anak Desa Campa Kabupaten Bima

Bergaya difoto Tiara

Baca: Bima dalam Pandangan Pertama 

Saat saya bertanya mengapa mereka tidak bersekolah, dengan kompak mereka menjawab bahwa sekolah libur. “Bapak guru ada acara,” kata mereka. Ketika saya bertanya lebih lanjut mereka hanya menjawab dengan senyum tersipu.

Anak-anak berkulit hitam manis dengan raut wajah yang khas ini merupakan anak-anak asli Desa Campa, sebuah desa di Kecamatan Mada Pangga, Kabupaten Bima, NTB. Berjarak sekitar 56 Km dari pusat Kota Bima, desa yang dibentengi bukit berbatu ini serupa ceruk yang tersembunyi.

Topografinya yang bergunung-gunung menjadikan desa ini tidak terjangkau sinyal. Selama bertahun-tahun masyarakatnya tidak bisa melakukan komunikasi langsung dengan pihak luar melalui sambungan telepon. Jika ingin berkomunikasi atau mengakses informasi, mereka harus pergi ke kota guna mendapatkan sinyal.

Dulu, ketiadaan sinyal bukanlah sebuah masalah. Tetapi di zaman yang melaju cepat dan berubah menjadi serba digital seperti ini, akses komunikasi sudah menjadi kebutuhan hidup yang wajib dipenuhi. Sinyal menjadi sesuatu yang sangat dicari, tidak hanya oleh masyarakat urban, tapi juga oleh warga perdesaan.

Pentingnya sinyal untuk warga desa

Desa Campa, Desa yang Dikepung Perbukitan

Desa Campa, Desa yang Dikepung Perbukitan

Tahun 2004, saat saya pertama kali menjejak di Jogja, kampung halaman saya di pelosok Wonosobo belum tersentuh sinyal telepon. Kala itu saya merasakan betul bagaimana sulitnya melakukan komunikasi dengan keluarga.

Pada hari-hari biasa, sulitnya akses komunikasi bukan menjadi masalah yang berarti. Tapi pada saat-saat genting dan harus berkirim kabar dengan cepat, ketiadaan sinyal benar-benar menjadi masalah dan membuat emosi. Beruntung, tak berapa lama desa saya mulai tersentuh sinyal telepon hingga internet.

Bagi warga desa di masa kini, sinyal merupakan hal penting yang wajib dimiliki. Desa-desa yang sudah tersentuh sinyal dan akses internet mampu mengembangkan dirinya dengan lebih baik. Dengan adanya akses komunikasi dan jaringan internet yang baik, desa dapat mencari berbagai informasi di bidang pemerintahan, pertanian, peternakan, pendidikan, pariwisata, dan banyak hal lainnya. Bidang ekomoni pun dapat berkembang.

Menyadari pentingnya internet bagi warga desa, pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla menjadikan penyediaan sarana dan pemerataan akses komunikasi informasi menjadi salah satu program unggulan yang tertuang dalam Nawa Cita. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa sebagai kerangka negara kesatuan.

BTS Bakti Sinyal, harapan baru untuk Desa Campa

Rumah-rumah di Desa Campa

Rumah-rumah di Desa Campa

Bertahun-tahun lalu Desa Campa merupakan desa yang terisolir dari akses komunikasi. Tak ada sinyal di desa dengan curah hujan yang rendah setiap tahunnya ini. Alam yang keras, komunikasi yang sulit, seolah-olah menjadi perpaduan yang sempurna untuk menasbihkan desa ini sebagai daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Padahal jika mau menilik lebih jauh, Desa Campa memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan. Baik dari sektor pertanian, peternakan, juga pariwisata.

Dari segi pertanian, Desa Campa menjadi salah satu lokasi percontohan pertanian organik di Kabupaten Bima. Salah satu potensi hasil pertanian yang bisa diunggulkan adalah Jagung Ketan atau Jagung Pulut yang memiliki citarasa unik dan sangat baik untuk dikonsumsi para penderita diabetes.

Jagung Ketan Jagung Pulut

Mbak Dio Menikmati Jagung Ketan (pic: Mb Dio)

Baca: Pertama Kali Mencicipi Jagung Ketan dan Saya Ketagihan

Selain Jagung Ketan, ada juga produksi bumi lain yang bisa diunggulkan, yakni madu hutan. Selama ini Pulau Sumbawa memang dikenal sebagai  salah satu daerah penghasil madu hutan terbaik di Indonesia. Dan Desa Campa ini merupakan salah satu desa penghasil madu hutan.

Sesuai dengan namanya, madu hutan, madu yang dijual oleh warga Campa adalah madu hasil produksi lebah hutan. Lebah Apis Dorsata ini tinggal di hutan-hutan pegunungan Bima. Sumber pakan utama mereka adalah bunga-bunga liar. Karena itu rasa madunya kadang berbeda-beda tergantung dengan tanaman apa yang sedang berbunga.

Di bidang pariwisata, Desa Campa memiliki pesona wisata alam Air Terjun dan Oi Taba. Air terjun setinggi  30 meter ini terletak di sisi selatan desa. Pada saat musim penghujan, aliran air yang deras menjadi penyejuk bagi kawasan ini.

Sedangkan Oi Taba merupakan wisata alam yang menyerupai kolam-kolam pemandian alami yang dibentengi batu halus. Sepintas lihat Oi Taba menyerupai Wisata Air Sungai Mudal di Kulonprogo, Yogyakarta, bedanya jika di Mudal berupa batuan karst, di Oi taba berupa batuan hitam. Di tempat ini pengunjung bisa mandi-mandi, bermain perosotan di batu, hingga terjun ke dalam air.

Sayangnya, ketiadaan sinyal menjadikan semua potensi yang ada di Desa Campa ini terlupakan. Jarang orang yang melirik wilayah ini. Padahal jika ada banyak publikasi, tak ayal Campa bisa menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Bima.

Desa Campa dari balik jendela mobil

Topografi Desa Campa dari balik jendela mobil

Atas alasan inilah Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) hadir untuk melayani. Sebagai unit organisasi noneselon di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), BAKTI memiliki tanggungjawab untuk menyediakan infrastruktur dan layanan telekomunikasi informatika di seluruh penjuru negeri.

Salah satu usaha pemerataan akses informasi dan komunikasi yang ditempuh oleh BAKTI adalah membangun BTS di seluruh Indonesia, khususnya di daerah 3T yang tidak mungkin dilirik oleh provider telekomunikasi. Hingga tahun 2020 kelak, BAKTI memiliki target untuk membangun 5000 BTS sehingga terwujud Indonesia Merdeka Sinyal.

BTS Bakti Sinyal

BTS Bakti Sinyal

Baca: BTS tenaga Surya, Solusi BAKTI untuk Pemerataan Sinyal di Wilayah 3T

Sebagai daerah 3T sekaligus blankspot area, Desa Campa menjadi salah satu desa sasaran kegiatan BTS Bakti Sinyal. Di desa ini kini telah berdiri BTS yang dibangun oleh BAKTI bekerjasama dengan PT Surya Energi Indotama, PT Telkom, serta Telkomsel. BTS bertenaga surya ini memiliki coverage area kurang lebih 2km.

Dalam sambutannya di Desa Campa, Bapak Anang Latif selaku Direktur BAKTI mengharapkan semoga keberadaan BTS yang memancarkan sinyal 2G/4G ini mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat Campa. Selain untuk berkomunikasi, warga juga seyogyanya bisa mengunduh informasi sebanyak-banyaknya guna melakukan inovasi dalam membangun desa.

Seusai mengajari Tiara memotret, saya sempat berbincang singkat dengan mama muda di rumah panggung miliknya. Perempuan berambut panjang yang tengah memasak tersebut dengan antusias berkisah bahwa beberapa tahun lalu, jangankan untuk membuka internet, untuk telepon saja  dia tidak bisa.

Namun, semenjak dibangun sebuah tower BTS oleh kini warga Desa Campa bisa menikmati akses internet 4G. “Sekarang saya sudah bisa mengirim Whatsapp dan mendengar lagu dari youtube. Lumayan jadi ada hiburan,” lanjut ibu tersebut dengan tersenyum.

Hal senada dikatakan oleh Kepala Desa Campa, H. Mansyur H Ismail “Setelah berpuluh-puluh tahun kami tidak bisa melakukan komunikasi melalui telepon, kini kami sudah bisa. Bahkan sudah bisa berkomunikasi sampai ke Mekah”.

anak anak madapangga bima

Cheeers!

Dengan adanya program BTS Bakti Sinyal, Desa Campa yang dulu terisolasi, kini telah terkoneksi. Nawacita pun tak hanya berhenti sebagai jargon, tapi benar-benar terealisasi. Membangun Indonesia dari pinggiran benar-benar diterapkan.

Saya sendiri membayangkan bertahun-tahun yang akan datang warga tidak hanya menjadikan internet sebagai sarana mencari hiburan. Tapi warga mampu menjadikan internet sebagai sarana untuk mengenalkan dan mempromosikan potensi desa mereka. Sehingga kelak desa ini mampu mengejar ketertinggalan dan justru berada di barisan depan sebagai desa unggulan. Semoga!

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

60 Responses

  1. Wah, senangnya ya warga desa Campa sudah ada sinyal sekarang.
    Semoga daerah2 lain yang belum ada sinyal juga akhirnya bisa ada sinyal, karena memang penting banget nih sinyal & internet zaman sekarang ini ya untuk komunikasi dan mencari berbagai informasi yg dibutuhkan.

    • Iya mbak, ini sampai tahun 2020 pemerintah ngebut membangun bts2 di daerah 3T dengan harapan semua masyarakat dapat sinyal. Jadi nggak cuma orang kota aja yang melek dunia digital.

  2. Tentunya bagus banget kalau semakin merata daerah yang merasakan adanya onternet. Tetapi, di sisi lain internet juga seperti pisau bermata dua. Semoga semakin banyak manfaat yang bisa diambil, tetapi yang jelek dibuang aja

  3. Keberadaan sinyal ini emang sangat penting sih, bagaimana internet menjadi kebutuhan utama. Bayangkan kalau kita nggak ada internet nanti ketinggalan update dari lambe turah. *eh
    Kok aku jadi malah kebayang bikin pembangkit listrik biogas gitu ya. hahaha. Sayang ilmu tentang biogasku nol sih.

    • Aku tu kalo mudik Wonosobo awalnya seneng karena sinyal agak susah (providerku). Tapi merasa tenangnya sehari dua hari doang. Selanjutnya udah kelabakan cari sinyal buat update kabar terbaru ahahaha.

      Ini BTSnya tenaga surya lho. Bisa bertahan 4 hari. Di sini matahari melimpah banget.

  4. Yati Rachmat says:

    Di pelosokan pun signal itu amat penting di zamam milenial ini. Salut deh bunda dengan petualangan Ransel Hitam ini. Pemandangan melalui foto2 bagus2 banget. Salut sama petualangan Liz Murni ini

  5. kanianingsih says:

    itu tuh mba bisa dikembangkan jadi desa wisata ya, masih alami banget…

  6. Baktiar Sontani says:

    Duh ini alamnya NTT banget mungkin malah jauh tertinggal di desa-desa 3T di NTT daripada disini.. Senang juga desa sudah memperoleh jaringan internet.. semoga desa2 di NTT juga akan menikmati fasilitas seperti itu

    • Ku jadi teringat sumba bang pas di sini. Tenang aja, BTS Bakti Sinyal memang program pemerintah yang menyasar 5000 titik wilayah blankspot di seluruh Indonesia, jadi NTT mesti kebagian. Cuma memang proses pembangunannya bertahap.

  7. Ery Udya says:

    Kalau susah sinyal bahkan enggak ada sinyal memang luar biasa menyiksanya di zaman sekarang ini. Saya ikut bahagia dengan adanya program BTS Bakti Sinyal, dengan begini Desa Campa bisa ada sinyal. Semoga program ini menyebar ke seluruh pelosok negeri tercinta kita ini.

  8. juliastrisn says:

    Senang jika sinyal sudah masuk ke desa-desa terpencil :)

  9. Senangnya pas baca komen bapa dan ibu yang sudah merasakan manfaat ada sinyal ya mba :)

  10. Jejak biru says:

    wah turut bahagia deh mbak, kalau desa Campa ini sudah bisa mendapatkan sinyal yang layak… sekaligus ajak mereka buat jadi Blogger, dan mengeksplore indahnya desa ini. potensial banget loh, tempat ini… Salam #jejakbiru

  11. Farida says:

    Wow, mantap! Semoga pemerataan fasilitas dpt dirasakan semua pihak

  12. lendyagasshi says:

    Desa Campa ada sinyal…ikut senang dengernya.
    namun,
    Apakah dari sisi mentalnya juga sudah disiapkan?

    Misal :
    Bijak dalam bersosial media dan cara menanggapi berita-berita hoax…

    Ada kekhawatiran tersendiri dari aku pribadi mengenai kurangnya kesiapan warga mengenai hal tersebut.
    Maafff kalau kurang berkenan.

    • Ini kemarin yang sempat diutarakan oleh Direktur BAKTI Pak Anang Latif, mbak. Dengan adanya sinyal dan mengenal internet, otomatis warga harus siap menerima banyak berita termasuk hoax juga, untuk itu warga diminta berhati-hati dan tidak mudah terprovokasi.

      Ini memang baru project permulaan, semoga kedepannya Kominfo juga bisa memberikan pelatihan bagaimana cara bijak bermedia sosial bagi warga desa.

  13. Mira Apriani says:

    Kehadiran internet disuatu desa, semoga menjadi awal untuk kemajuan desa tersebut ya.

  14. Alhamdulillah internet sudah masuk desa ha. Seneng banget kayanya anak anak dan ibuk ibuk bisa dapat informasi lewat internet. Semoga terus berlanjut ke daerah daerah pelosok yang lain ya kak.

  15. Dedew says:

    Aghh turut senang bacanya, sudah ada sinyal..bisa lebih maju ya masyarakatnya..cantiknya Tiara..

  16. Area-area yg blankspot kaya gini emang harus jadi perhatian ya mba. Biar internetan bisa dinikmati oleh semua warga Indonesia. Berguna banget deh bisa browsing-browsing, bisa yutuban dll, ini bisa mengubah dunia anak-anak yg ada di sana. :)

  17. Ririe Khayan says:

    Semoga saja ketersediaan BTS di desa Campa sdh dipersiapkan juga pembekalan wawasan berinternet secara bijaksana bagi warga desa, terutama anak, remaja dan generasi muda yang umunya lebih banyak menggunakan internet,

  18. Semoga komunikasi di Pulau Sumbawa lancar dengan hadirnya BTS-BTS ini sehingga masyarakat di sana dapat mengakses informasi dengan mudah.

  19. Alhamdulillah, turut bahagia merasakan semuanya bisa dirasakan merata.
    Pengalaman yang berharga banget bisa sampe ke sana ya Kak. Diwujudkan dengan pembangunan deswita keren banget nih kayaknya.

  20. Aprillia Ekasari says:

    Sinyal sangat penting bangeett. Keinget tahun brp gtu.rmh nenekku di desa jg susah sinyal , begitu udah bagus, pembangunan langsung melesat.
    Krn mungkin dengan keberadaan sinyal bikin informasi dan transfer teknologi jg lbh cepat ya mbak.
    Tp tetep kudu diajarin memanfaatkan jnternet dgn bijak.ya

  21. Uniek Kaswarganti says:

    Membaca artikel ini aku pun jadi ikut berharap mba, suatu saat nanti Campa akan menjadi salah satu tempat wisata unggulan Indonesia. Salut untuk atensi pemerintah melalui program Nawa Citanya.

  22. ria fasha says:

    Baca ini terus bersyukur banget bisa ngerasain manfaat internet. Semoga nantinya semakin merata ya mbak, disisi lain perlu adanya pembinaan supaya pemanfaatan internet bisa ditujukan ke hal positif

    • Kadang kita di kota suka ngeluh kalau pas internet lelet sedikit aja, sedangkan disana masih susaaah banget. Harus banyak-banyak bersyukur ya. Iya, tugas kominfo selanjutnya adalah ngasih pembinaan buat masyarakat tentang bagaimana berinternet secara baik.

  23. helenamantra says:

    aaah ini keren banget Desa Campa. Anak-anaknya manisss ya dan udah bisa gaya di depan kamera. Jangan-jangan mereka udah punya IG 😀

  24. hikmah.nisa says:

    Memang jaman digital ini sinyal jd sesuatu yang penting ya mba.. btw perjalanannya luar biasa mba.. saluutt..

    • Kalau gurauannya teman katanya dulu lagu keluarga cemara “harta yang paling berharga adalah keluarga”, sekarang ganti jadi “harta yang paling berharga adalah kuota” dan tentunya sinyal ahahaha.

  25. dwisusantii says:

    BTSnya sudah menjulang mbak :))
    Rumah-rumahnya juga masih dari kayu ya? beberapa rumah dari batu bata sedang dibangun. Semoga setelah internet masuk, komunikasi baik, mereka tambah gampang publikasi potensi yang dimiliki oleh Desa Campa. Di situ juga disebut wisatanya mbak: Air Terjun dan Oi Taba. Mbak Sha ke sana jugaa? pingin bacaa…

    Kalau dia nggak juga tanggap akan sinyal-sinyal yang udah berkali-kali dikirim, apa juga berarti harus ada pembangunan BTS di hatinya dia mbakk?

    • Yoih Mb Dwi, menjulang dengan gagah.
      Di Desa ini masih banyak yang rumahnya dari kayu, bangunan khas sana. jadi bagian bawah buat dapur, buat kandang, atau buat tempat menenun. Atasnya baru buat tempat tidur. Ku penasaran pengen coba tidur di dalamnya, kayaknya seru deh.

      Aku nggak sempat ke air terjun Oi Taba, jauuuh trekingnya. Waktu kami terbatas. Dan musim kemarau juga sih, jadi agak surut,

      Jadi, adakah yang mau bikin jasa pembangunan BTS hati mbak? Muahahahaha

  26. Sebenernya tadi saya mau komen apa gitu, tetiba ngebaca komen Mbak Dwi Susanti di atas, jadi kelupaan. :D.

  27. Ini jadi sinyal sudah masuk di Desa Campa ya? Alhamdulillah banget ya :’)

  28. terharu bacanya. semoga masuknya sinyal membantu mereka berkomunikasi atau mengakses informasi positif demi perkembangan tanpa mengurangi keluguan dan kepolosan warga campa yang ada saat ini :)

  29. Maria says:

    Ih,salah fokus ma tgl komen,12 des…kan blm sampe tgl 12 kan ini??
    Btw,smg semua bs dpt sinyal,daku bingung ga ada sinyal. Gmn video call ma eyangnya di seberang lautan???

  30. Witri Prasetyo Aji says:

    Zaman digital memang apaapa mudah, tapi kadang aku kangen juga zaman belum ada sinyal… Kayak adem ajah gt

  31. Ikut terharu, mbak. Terbukanya akses internet, mempermudah arus informasi. Terutama tentang potensi Desa Campa yang luar biasa itu.

  32. Bara Anggara says:

    semoga dengan telah masuknya sinyal di Campa, kehidupan masyarakat di sana menjadi lebih baik, terutama dengan masuknya banyak informasi yang bisa mereka gali dari internet. aamiin.

    -Traveler Paruh Waktu

Sharing yuk!