#PesonaPangkalpinang: Bangka Botanical Garden, Pesona Kebun Raya Dari Kotoran Sapi

bangka-botanical-garden

 

“Kalau sempat mampirlah ke Bangka Botanical Garden yang dibangun dari tai sapi,” kurang lebih begitulah bunyi sms yang saya terima dari Mbak Ary saat dia tahu bahwa saya hendak melancong ke Bangka.

Hah? Kebun Raya dari tahi sapi? Apa enggak bau? Emang ada yang mau berkunjung? Sederet pertanyaan itulah yang langsung muncul di pikiran saya setelah membaca pesan tersebut. Saat saya tanya balik ke Mbak Ary, dia bilang bahwa Harian Kompas baru saja menurunkan liputan tentang kebun raya itu. “Kamu harus kesana!” pesannya.

Terprovokasi dengan kalimat “Kebun raya dari tai sapi,” saya pun memutuskan untuk memasukkannya dalam daftar tempat yang akan saya kunjungi. Saya penasaran seperti apa rupa kebun raya ini.

Begitu kapal cepat yang saya tumpangi dari Belitung bersandar di Pelabuhan Pangkal  Balam, Bangka, saya pun mulai bertanya kepada beberapa orang tentang lokasi Bangka Botanical Garden alias Kebun Raya Bangka. Namun sayangnya tidak ada seorang pun yang tahu tentang keberadaan tempat ini. Lho? Kok bisa? Kening saya pun berkerut dan mulai bingung.

Untungnya sahabat saya saat kuliah sekaligus rekan sekamar saat tinggal di Jogja sudah datang menjemput di pintu keluar pelabuhan. Setelah melepas rindu dan bertukar kabar saya pun bertanya tentang keberadaan Bangka Botanical Garden.

“Iya aku tau, lokasinya di daerah Ketapang. Nggak jauh dari Pantai Pasir Padi kok. Itu pengelolaannya bagus lho. Sering kasih susu sapi segar gratis buat anak-anak sekolah,” jawabnya. Wah fakta baru yang menarik nih.

“Aku pengen kesana”

“Hah? Mau ngapain? Masak jauh-jauh ke Bangka cuma mau lihat peternakan sapi?”

“Yup! Pokoknya aku mau kesana. Anterin ya?”

“Ah kamu Sha. Dari dulu pilihanmu selalu beda dan membuatku takjub,” jawabnya sambil geleng-geleng.

*****

 

bangka-botanical-garden-3

Saya dan Abel di Bangka Botanical Garden

“Bang, kalau mau ke Bangka Botanical Garden naik angkot yang mana ya?” tanya saya kepada supir angkot yang mangkal di depan Bangka Square. Berhubung kala itu Abel masih mengajar, jadi saya berinisiatif untuk pergi ke BBG sendirian. Lagipula saya yang baru saja tiba dari Koba tidak bisa masuk ke kontrakan Abel karena saya tidak membawa kunci rumahnya.

“Nak kemana?”

“Bangka Botanical Garden”

“Hah? Tempat apa itu?”

“Itu lho bang, kebun raya”

“Kebun raya? Maksudnya mau ke hutan?”

“Bukan bang, Kebun Raya Bangka itu lho. Yang katanya ada peternakan sapinya, ada kolamnya, agro wisata gitu bang. Kalau mau kesana naik angkot yang mana ya?”

Bukannya mendapatkan jawaban, saya justru mendapat tatapan aneh dan bingung dari supir angkot. Rupanya mereka tidak tahu keberadaan Bangka Botanical Garden. Supir lainnya yang saya tanya pun begitu. Bahkan akhirnya mereka saling bertanya kepada sesama supir untuk memastikan apakah tempat yang ingin saya datangi beneran ada atau tidak. Wealah, piye to iki!

Berhubung tidak ada satu pun sopir angkot yang tau tentang keberadaan BBG, akhirnya saya melipir ke pos polisi yang berlokasi tidak terlalu jauh dari terminal. Namun jawaban yang saya temui sama saja, polisi yang bertugas tidak tau tentang BBG. Justru dia bertanya-tanya darimana saya tau informasi tentang tempat tersebut dan kenapa saya ingin berkunjung kesana. Saat saya jelaskan panjang lebar berdasarkan info yang saya baca di internet beliau pun manggut-manggut. Duh dek! Ini yang orang lokal sebenarnya siapa sih? Kata saya dalam hati sambil terkikik geli.

Menyerah dengan kondisi di lapangan, akhirnya saya pun mengirimkan pesan pada Abel. “Bel orang-orang nggak ada yang tau BBG. Setelah kamu pulang sekolah anterin aku kesana ya. Aku sekarang di pos polisi sebelah Bangka Square”

*****

“Kebun Raya Bangka itu disini kurang terkenal Sha, makanya orang-orang nggak tau,” jelas Abel saat saya mengeluhkan tentang apa yang saya alami siang tadi.

“Lagian kamu sih, piknik ke tempat yang nggak biasa. Biasanya orang ke Bangka kan maunya ke pantai, ini malah ke kebun raya” imbuhnya sambil menjalankan motor ke arah Ketapang.

Setelah menempuh perjalanan kurang dari 30 menit, kami pun memasuki area bekas penambangan timbah. Hal ini ditandai dengan banyaknya kolong alias bekas lubang galian timah yang dipenuhi air. Aktivitas pertambangan yang sudah dilakukan sejak jaman kolonial ini menyisakan lahan tidur yang terbengkalai dan tidak bisa diolah lagi. Setelah kekayaan bumi dikeruk, hanya ada alam yang terluka. Tak ada lagi kehidupan di tempat tersebut.

Berawal dari keprihatinan akan hal tersebut, PT Dona Kembara Jaya, sebuah CSR perusahaan pertambangan timah melakukan gerakan pemulihan lahan tambang di kawasan Ketapang, Pangkalpinang. Berawal dari tahun 2006, Pak Johan Ridwan Hasan mulai mereklamasi lokasi bekas galian timah ini dengan menanam beraneka pohon. Selanjutnya beliau pun mengembangkan tempat ini menjadi sebuah agrowisata.

Cara yang beliau gunakan untuk mengembalikan kesuburan tanah yang telah rusak adalah menggunakan kotoran sapi, karena itu Mbak Ary bilang bahwa BBG adalah kebun raya dari tai sapi. Di BBG ini terdapat ratusan sapi berjenis Friesland Holstein yang asalnya dari Belanda. Susu sapi-sapi inilah yang kerap dibagikan kepada anak-anak sekolah seperti yang dikatakan Abel sebelumnya.

Sebagai sebuah kebun raya modern, pihak Bangka Botanical Garden berusaha menerapkan sistem zerowaste. Semua limbah dimanfaatkan kembali. Setelah dicampur dengan kapur, kotoran sapi itu digunakan sebagai pupuk yang kandungannya mampu mengembalikan unsur hara dalam tanah yang telah hilang. Lahan tidur pun kembali subur dan bisa ditanami aneka tumbuhan. Sedangkan untuk mengembalikan pertumbuhan ekosistem di kolong timah yang diubah menjadi kolam ikan digunakanlah urine sapi. Kini rawa-rawa yang tadinya kosong tak berguna berubah menjadi kolam yang dipenuhi ikan patin, mujair, nila, mas, dan juga kepiting.

Memasuki kawasan Bangka Botanical Garden saya disambut dengan ruas jalan berupa tanah merah dengan deretan pohon cemara yang menjulang tinggi di kanan kirinya. Tempat ini seringkali digunakan sebagai lokasi foto prewedding. Kalau ingin mendapatkan suasana romantis ala-ala film Korea, disinilah tempatnya. Selain itu ada juga ruas jalan yang dihiasi  deretan pohon pucuk merah yang cantik. Ada juga kolam pemancingan lengkap dengan dangau di tepinya, perkebunan organik dimana kita bisa membeli sayuran dengan memetiknya langsung, greenhouse tempat pembibitan, peternakan, hingga ranch yang bisa digunakan untuk berkuda ala-ala koboi. Puas berkeliling, wisatawan bisa mampir di restoran yang menyediakan susu segar dan aneka olahan seafood.

Pokoknya tempat ini seru banget. Kalau kalian ingin mencari sesuatu yang menyegarkan mata dan jiwa maka disinilah tempatnya. Di tempat ini juga wisatawan bisa belajar tentang bagaimana cara bercocok tanam maupun berternak. Sayang saat itu saya datang sudah terlalu sore sehingga tidak bisa mengeksplorasi tempat ini secara keseluruhan.

Meski belum puas mengelilingi BBG, saya terpaksa harus menyudahi kunjungan di tempat ini. Satpam yang berjaga sudah “mengusir” dengan halus dari tadi. Usai dari Bangka Botanical Garden, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pasir Padi yang lokasinya tidak terlalu jauh. Saya berharap semoga suatu saat ada kesempatan untuk menjejak tempat ini dan mengeksplorasi lebih jauh lagi.

 

 

bangka-botanical-garden-8

Bekas Galian Timah yang Disulap Menjadi Kolam Cantik

 

bangka-botanical-garden-1

Kebun sayur organik dimana pembeli bisa panen langsung

bangka-botanical-garden-5

Greenhouse tempat pembibitan aneka tanaman, dari tanaman keras, tanaman buah, sayuran, hingga bunga.

bangka-botanical-garden-6

Kita bisa mancing sambil santai di dangau

 

bangka-botanical-garden-2

Senja di Bangka Botanical Garden. Sampai bertemu lagi, BBG!

Meniadakan pertambangan adalah hal yang tidak mungkin. Namun meminimalisir dampak dari pertambangan sekaligus mereklamasi tempat-tempat bekas pertambangan bukan hal yang mustahil. Semoga kedepannya semakin banyak perusahaan pertambangan yang memiliki kepedulian yang sama dengan apa yang dilakukan oleh pengelola Bangka Botanical Garden, yakni mengembalikan lahan terbengkalai menjadi sentra yang mampu menggerakkan perekonomian warga sekaligus menjadi jujugan baru bagi wisatawan.

Traveller’s Notes:

  • Kebun Raya Bangka atau Bangka Botanical Garden terletak di kawasan Ketapang, satu arah dengan Pantai Pasir Padi. Dari pusat kota dapat dicapai kurang dari 30 menit berkendara.
  • Tidak ada angkutan umum yang melayani rute hingga tempat ini, jadi sebaiknya membawa kendaraan sendiri.
  • Berhubung banyak warga yang belum terlalu tahu dengan tempat ini, jadi lebih baik gunakan aplikasi waze atau penunjuk arah lainnya daripada banyakan tanya tapi ujungnya tetep bingung.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis #PesonaPangkalpinang yang diadakan oleh Bitread bekerjasama dengan pemerintah daerah Pangkalpinang, GNFI, beritabangka.com dan kementrian pariwisata. 

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

12 Responses

  1. Pernah liat reviewnya di IG dan excited banget. Sayang ya masyarakat sekitar aja ga tau :(

  2. Widya Herma says:

    Penasaran pengen ke tempat ini. 😀

  3. annosmile says:

    aku juga baru denger di pulau bangka ada botanical garden
    pamornya kalah sama wisata pantainya ya xixixi..
    kalau ditanya orang sana ga tau tempat itu ya karena liburan mereka ga di daerah mereka sendiri..ada temen orang bangka liburannya ke jakarta, batam, singapura #doh

  4. haya says:

    Aku ngebayangi kalau di atas danau bekas galian itu dipelihara angsa atau itik mungkin nggak sih? Promosi ke masyarakat lokal kayaknya perlu dilakukan ya

  5. Meke says:

    Tertarik t4 organik

  6. Rangga says:

    Wuih keren mangat, apalagi mengadopsi pendekatan organic farm

Sharing yuk!