Nglaras Jiwa di Batoer Hill Resort and Resto

 

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”
“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu?”
“Ya, tentu saja. Kekasihku, ayo akui. Itu ungu, bukan?”
“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”
“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”
“Kuning keemasan!”

Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Umar Kayam

P70804-173626

Andaikata malam itu Mas Chandra ada, mungkin kami akan berlagak menjadi Marno dan Jane. Saya dengan segelas cokelat hangat dan Mas Candra menyesap secangkir kopi. Lantas kami berdua akan duduk di sofa, sembari menatap taburan gemintang yang terlihat begitu jelas dari balik jendela kaca berukuran besar.

Sesekali kami akan berdebat tentang mana yang lebih indah, edelweis di gigir gunung atau anggrek di tengah hutan. Bisa juga bercakap tentang mimpi ajaib saya, bertani dandelion dan berternak kunang-kunang. Jika bosan berdebat, kami akan menonton televisi sambil mengudap singkong keju yang terasa renyah di mulut. Lantas saat malam semakin larut, kami bisa menghabiskan malam di atas kasur empuk sembari berpelukan hingga pagi tiba.

Saat fajar menjelang kami akan bangun dengan bahagia tanpa perlu tergesa. Karena kami tahu, kami tak harus berkendara 60 menit ke Puncak Panguk Kediwung atau Kebun Buah Mangunan guna menyaksikan kabut pagi yang bergulung-gulung laksana awan di lembah. Yang perlu kami lakukan hanyalah membuka gorden jendela kamar, dan pemandangan yang penuh magi itu sudah tersaji di hadapan.

Jika tidak malas, bisa saja kami berjalan ke luar bungalow. Dengan bertelanjang kaki kami akan menyusuri jalan setapak, merasakan dinginnya kerikil dan rerumputan yang masih basah oleh embun di ujung jemari. Ada dua tempat terbaik untuk menikmati pesona pagi, dari beranda kayu yang sudah dilengkapi dengan kursi atau dari ujung anjungan yang biasa digunakan sebagai tempat selfi.

Dari sudut ini kami bisa melayangkan pandang ke segala penjuru. Menikmati pagi yang hening, sesekali ditingkahi orkestra alam berupa kicau burung, derik serangga, maupun lenguhan sapi. Kami juga bisa menyaksikan pagelaran kolosal semesta dengan lakon utama pertempuran sang raja matahari dan pasukan halimun. Begitu mentari mulai menampakkan sinarnya,  perlahan pertahanan pasukan kabut akan tercerai-berai dan menampilkan apa yang selama ini disembunyikannya dalam selubung halimun, hamparan lembah hijau nan subur berderet-deret hingga ujung cakrawala.

Melanjutkan hari, kami akan berenang di infinity pool sembari melihat langit biru yang begitu bersih. Oh, mungkin kata berenang tidak terlalu tepat sebab tak ada satu pun di antara kami berdua yang mahir melakukannya. Paling-paling kami hanya berendam, sebab kolam yang berada di gigir tebing ini bisa di setting menjadi kolam air hangat. Puas berendam, sarapan di pendopo dengan menu nasi goreng smoked beef dan teh hangat menjadi pilihan. Jangan lupa camilannya, pisang goreng yang digoreng kering. Atau jika ingin sedikit fancy bisa pesan onion ring dan omelet. Pagi yang syahdu dan menenteramkan.

P70804-161817

Tatkala mentari semakin tinggi, kami bisa melanjutkan perjalanan menuju desa-desa terdekat seperti Desa Wisata Bobung yang terkenal sebagai sentra perajin topeng dan batik kayu, atau mengunjungi Desa Wisata Nglanggeran yang belum lama ini dinobatkan menjadi salah satu desa wisata terbaik di Asia Tenggara dalam ajang Asean Community Based Tourism (CBT) Award 2017.

Bahkan jika memiliki waktu yang longgar, tentu saja kami tak akan melewatkan kesempatan anjangsana ke deretan pantai-pantai cantik di Gunungkidul atau menguji adrenalin dengan menyambangi perut bumi di Gua Jomblang dan Kalisuci. Tempat wisata yang biasanya terasa jauh dari rumah kami yang terletak di kaki Merapi itu pasti akan terasa sangat dekat jika dicapai dari tempat ini. Puas berwisata, kami akan kembali lagi ke resort untuk menikmati parade P70804-173125

Ah, sayang seribu sayang, semua hal yang terlintas dalam benak itu hanya tertahan di angan dan tidak menjelma nyata. Sebab saya dan Mas Chandra sedang terpisah ruang. Dia sedang menekuri pekerjaannya di kantor, sedangkan saya sedang menikmati indahnya pesona Batoer Hill Resort and Resto.

Saya termasuk menjadi orang yang beruntung bisa bergabung dalam rombongan #bloggerjogjajalan2 yang diundang Ibu Irma dan Pak Win pada Jumat, 4 Agustus 2017, untuk melihat-lihat Batoer Hill Resort and Resto. Bagaimana tidak beruntung jika saya dan kawan-kawan mendapatkan privilege untuk mengeksplorasi resort yang baru akan melakukan grand opening pada awal Oktober nanti.

Terletak di Desa Batur, Putat, Kecamatan Pathuk, Gunungkidul, Batoer Hill Resort and Resto menjadi jawaban bagi para pelancong yang  selama ini sering bertanya “Di Gunungkidul ada resort bagus dan recommended nggak ya?”. Sebelum ada resort ini saya masih ragu-ragu menjawabnya, namun kini saya akan menjawab dengan yakin “ada!”.

Batoer Hill Resort menawarkan nyaris semua hal yang dicari  para wisatawan yang mencintai suasana otentik suatu daerah. Scenic view yang mampu melepaskan semua gelisah, suasana desa yang hening dan nyaman, udara segar yang menenangkan jiwa, kolam renang outdoor dengan air hangat, makanan lezat yang memanjakan perut, hingga bungalow berlantai parquet yang memberikan kesan hommy. Bahkan ketika padi di sawah sekitar resort sudah mulai menua, ribuan kunang-kunang akan berlomba memamerkan cahayanya di malam hari. Siapa coba yang tidak jatuh cinta?

Sebagai catatan tambahan, siapa pun yang menginap di tempat ini maka secara langsung dia telah membantu meningkatkan perekonomian warga desa. Berbeda dengan resort pada umumnya yang 100% dimiliki oleh investor, Batoer Hill Resort justru mengusung semangat kemitraan dengan desa. Tentu saja ini tak bisa lepas dari sejarah lokasi resort ini. Tanah yang digunakan untuk membangun resort merupakan tanah kas desa yang awalnya adalah lahan tidur dan tidak produktif. Kemudian ditandatangilah kesepakatan antara PT Ciptowening dengan pemerintah desa.

Lahan terbengkalai ini dijadikan resort dengan sistem profit sharing. Nantinya pemerintah desa akan mendapatkan bagian sekian persen dari total pendapatan. Selain itu, pegawai resort merupakan masyarakat Dusun Batur. Pak Win percaya meski tidak memiliki background perhotelan, selama dilatih dan dididik dengan benar, anak-anak muda itu pasti bisa menjadi tenaga profesional. Untuk urusan dapur, semua bahan makanan juga dipasok oleh BUMDES (Badan Usaha Milik Desa). Begitu pula dengan live entertainment, bagi wisatawan yang ingin melihat tari-tarian atau mendengarkan alunan musik tradisonal, pengelola telah mendapuk komunitas seni di kampung tersebut menjadi penampil utama di resort.

Mengetahui semua fakta tersebut, saya menjadi berbesar hati. Setidaknya stigma “investor membuat warga lokal tersisih” tidak berlaku di tempat ini. Justru Batoer Hill and Resort membawa misi baru yang segar, yakni semangat untuk menjadi tempat wisata yang tumbuh bersama masyarakat. Kelak, semakin ramai Batoer Hill Resort, semakin besar pula pendapatan yang akan diperoleh oleh desa dan bisa digunakan untuk pengembangan daerah.

Malam itu semakin larut, dan rombongan blogger Jogja masih saja asyik menerbangkan lampion setelah sebelumnya menikmati hidangan khas berupa sego liwet lengkap dengan ingkung ayam, peyek teri, dan gudangan. Setengah hari berada di Batoer Hill Resort rupanya mampu menyegarkan jiwa dan pikiran saya.

IMG_20170807_102210_074

j

menu makan malam yang nikmat

 

Dalam hati saya berjanji akan datang lagi ke tempat ini guna mewujudkan semua hal yang tadi terlintas di benak. Tapi mungkin kami akan memilih tidur di tenda. Bukankah glamping terdengar lebih seru dibanding bergelung dalam selimut hangat dan kasur empuk, sayang? Saat itu mungkin kami akan memerlukan secangkir scotch dan segelas martini untuk menghangatkan malam layaknya Marno dan Jane.

20170804155930_IMG_5094

Batoer Hill Resort & Resto

Desa Batur, Putat, Kecamatan Pathuk, Gunungkidul
website: www.batoerhillresort.com
IG: @batoerhillresort
Narahubung: 081225443715

Fasilitas:
12 bungalow (standard, deluxe, executive, VIP)
lounge and sky bar
restaurant
swimming pool
live entertainment
flying fox, camping ground, out bound (on progress)

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

48 Responses

  1. Edib says:

    Langsung kebayang adegan marno & jane. Aih…
    Resortnya recommended.

  2. Batoer Hill Resort emang kece, masuk wish list staycation hotel nih.

  3. Lusi says:

    Kalau ada kesempatan, penginnya agak lamaan deh disitu buat leyeh2 diluar memandang bentang alam.

  4. Kalu cuma berdua, ini artinya bRe nggak dibawa hahhhahha
    Makan singkong sambil ngobrol sante tentang apa saja menyenangkan loh mbak kalau di sini

  5. Wah ada fotoku sama AA’ Dimas

  6. Tommy says:

    Masih bertanya sampai akhir cerita, “Nglaras” itu apa?

  7. Ayun says:

    Kalo adegan Marno dan Jane, berarti Renjana harus menyingkir dulu. Hehehe….
    Sini, Renjana, sama ((KAKAK))

  8. Dwi Susanti says:

    Wuiih mbak, konsepnya keren.

    Iya, semacam tulisanku beberapa bulan yg lalu tentang pembangunan resort di pinggiran pantai Gunungkidul yang membuat beberapa penduduk setempat merasa tersisih, ini sebaliknya yaa :’)

    Semoga keberadaan Batoer Hill Resort & Resto membuat semakin sejahtera penduduk setempat. Aamiin. Tempatnya syahdu, makanannya menyatu bgt, sunsetnya juga magnet :))

    • Yang Gunungkidul itu yang pantai seruni bukan? itu beneran deh bikin kecewa. nanti meluncur ke postinganmu ah.

      Semoga resort ini berdampak banyak buat masyarakat sekitar ya. Iya konsepnya memang kece banget

  9. Semua sudut di Batoer Hill emang joss dan menarik.. Apalagi itu kolam renang e, berbahaya… Marai pengen nyemplung sambil lihat pemandangan ijo-ijo di depannya..

  10. Menu makannya ndeso tapi justru paling nikmat itu mbak😀

  11. Ntaps iki dibuka dengan puisi

  12. Aji Sukma says:

    Baru paragraf pertama aku sdh baper. Wkwkwkwk Sukak sm pemilihan diksinya bibuk! jadi betah baca ampe kelar. Uwuwuu~ panutan akuuh…

  13. Irma devita says:

    Aku baca tulisannya mbak shasha langsung jadi berasa imut merasakan keindahan, romantisme dan mensyukuri alam dari mata mbak shasha. Diksinya keren mbak 😊 Kapan2 ajak bre sama mas chandra ke sini lagi yaaa 😉Trmksh ulasan kece nya

    • waaa, nggak nyangka dikomen langsung sama ownernya 😱😃😃

      tempatnya beneran kece, mbak. makanya jadi bisa nulis gini. iya pasti saya bakal balik lagi ke batoer hill 😀

  14. charis fuadi says:

    aku jadi terlarut dalam cerita ini, aku juga ingin merasakan hal ini. tempatnya keren emang

  15. Mini GK says:

    daebak….. nongol deh poto #gadisAnggun

  16. Pengennya sih bisa nginep di sana. 😀

  17. Ya ampun… beruntung banget bisa menikmati pagi dan sore dibibir bukit seperti itu. saya mah mau makan apa aja pasti seneng dikasi pemandangan begitu sam Tuhan. asal jangan hujan aja kali ya

  18. Menyenangkan sekali membayangkan liburan di Batoer Hill Resort ini ya.

  19. Indah Juli says:

    Jadi penasaran pengin balik lagi ke Batoer Hill, buat lihat kunang-kunang :)
    Kok sama ya, daku juga pengennya kalau nginep di Batoer, pakai tenda, lebih seru.

  20. Charis Fuadi says:

    aku baper bacanya..kebayang gimana gitu…

  21. Aqied says:

    Aku terhanyut pada ceritamu, mbak

  22. Halo bre, dolan lagi?

  23. aku terdampar disini baca ceritamu mbakkk :)

  24. qhachan says:

    breee ayo kita ke sana lagi, berenang sambil makem telo goreng…

  25. Ria AS says:

    Sebelumnya udah baca tentang resor ini di beberapa blog. Entah mengapa cuplikan novel umar kayam di awal tulisan jadi bikin romantis dan akhirnya pingin baca tulisannya pelan-pelan biar ketemu bagian romantisnya. Love !

  26. Mas Kris says:

    Kalau baca tulisannya koq jadi makin kangen sama suasana di Batoer Hill ya?? mudah-mudahan bisa naik ke sana lagi..

Sharing yuk!