Dia Hadir!

Gua Grubug
Dia Hadir!

Entah sejak kapan saya menyukai momen-momen berada di perut bumi, berada dalam dekapan gulita sempurna, bergelung dengan feses kelelawar dengan aroma menusuk hidung, bergulat dengan lumpur dan aroma lembab, serta menikmati pahatan sempurna stalagtit dan stlagmit. Hening. Yang bisa saya dengar hanyalah gemericik sungai, tetesan air, derik serangga, kepak sayap kelelawar, serta hembusan nafas.

Gua. Tempat sempurna untuk kontemplasi. Kepasrahan total, penyerahan sepenuh. Ya, itu yang selalu saya lakukan saat berada di dalamnya. Tempat dimana saya merasa begitu kecil, begitu kerdil, begitu rapuh, dan Dia adalah benar-benar Allah yang luar biasa.

Bahkan di sudut bumi yang begitu gelap dan tersembunyi, kehadiranMu begitu nyata. Kau pahat lekuk perut bumi menjadi mahakarya sempurna, Kau jadikan tetesan air dan derik serangga sebagai orkestra penenang hati, dan sinarMu menjadi satu-satunya suluh penerang.

Jika di kegelapan yang tak terlihat saja Dia sudah menciptakan keindahan yang begitu sempurna, mengapa saya harus mengkhawatirkan hidup saya?

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

6 Responses

  1. dhaverst says:

    kata orang Timor “itu sudah…”

  2. johanesjonaz says:

    cobain gua umbultuk, Blitar selatan…

    Barusan googling, dan sepertinya asyik jugak. Masukin daftar dulu deh. Selama ini mblusuknya baru gua-gua di Gunungkidul aja :)

  3. indrijuwono says:

    dalam goa, tak ada malam, tak ada siang. tak perlu peduli waktu menyusurinya.

  4. Benar-benar bikin takjub fotonya

Sharing yuk!