Emangnya Bangun Jalan Raya Bisa Bikin Masyarakat Kenyang?

Suatu masa, dalam sebuah perbincangan random dengan seorang senior di komunitas dia sempat bertanya “menurut kalian, selain pangan, papan, dan sandang, hal penting apa yang manusia butuhkan?”. Tanpa ragu, banyak di antara kami yang menjawab bahwa “pendidikan” ada hal penting selanjutnya.

“Salah,” jawab senior kami sambil tersenyum kecil dan menatap mata kami bergantian. Kami pun diam. Mencoba berpikir sambil menerka arah pembicaraan.

“Selain ketiga hal penting tadi, yang paling manusia butuhkan adalah jalan dan jembatan,” katanya. Sontak kami menjawab berbarengan, “kok bisa?”

“Ya bisalah. Jalan dan jembatan itu dua hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kalau nggak ada jalan ya kalian nggak bisa kemana-mana. Nggak bisa ngapa-ngapain. Terisolir. Makanya Yesus sendiri memposisikan dirinya sebagai jalan, Akulah jalan kebenaran dan hidup. Ya karena peran jalan emang sepenting itu. Jalan membuat hal-hal yang selama ini ada di luar jangkauan menjadi terjangkau” jawabnya. Lantas obrolan pun berubah menjadi diskusi ringan yang menyenangkan dan membukakan pikiran.

Beberapa tahun kemudian, saya membaca berita dan banyak mendengar informasi tentang pemerintah Indonesia yang mengalokasikan banyak dana untuk membangun infrastruktur, khususnya membangun jalan-jalan, jembatan, bandara, pelabuhan, dll.

Pada saat yang sama, banyak orang nyinyir yang bilang “emang orang mau makan jalan tol? Emang jalan tol bisa bikin kenyang?”. Lantas ingatan saya kembali kepada obrolan random bersama beberapa kawan di masa lalu.

Mengapa sih pemerintah getol sekali membangun jalan raya?

Apakah kawan-kawna pernah mendengar pertanyaan serupa dari orang-orang di sekitar? Atau justru kawan-kawan sendiri yang bertanya dalam hati? Mengapa sih pemerintahan Pak Jokowi ini gemar sekali membangun jalan? Apakah memang sepenting itu? Kenapa harus hal itu yang diutamakan dan bukan membangun SDM-nya terlebih dulu? Mari kita coba bahas satu-satu.

sumber: kompas.com

sumber: kompas.com

Dikuti dari Kompas.Com, sektor infrastruktur menjadi salah satu fokus utama pembangunan saat ini karena ditujukan untuk meningkatkan konektivitas dan merangsang pertumbuhan ekonomi di pelbagai wilayah tanah air. Pembangunan infrastruktur menjadi bagian dari implementasi sila ke-5 Pancasila yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Kata kuncinya ada pada konektivitas, sambungan, keterhubungan, keterjangkauan.

Dulu, pembangunan di Indonesia boleh dibilang berjalan timpang. Sebagian besar hanya terpusat di Pulau Jawa. Sedangkan kawasan lain menjadi tertinggal, baik secara pembangunan fisik, ekonomi, pendidikan, serta sumber daya manusianya. Di saat Jawa bergerak dengan cepat dan siap menyambut revolusi Industri 4.0, masyarakat di wilayah lain bahkan belum mengenal apa itu internet.

Mengapa Jawa bisa bergerak sedemikian cepatnya? Salah satunya karena di Jawa semua daerahnya sudah terhubung menjadi satu. Ada jalan nasional yang menghubungkan antar kota antar provinsi. Akses menuju satu tempat ke tempat lainnya sudah sangat mudah. Hal itu menjadikan semua tempat terkoneksi satu sama lain.

Saat sudah ada akses yang baik, secara perlahan perekonomian pun mulai bangkit. Para petani dapat menjual hasil panennya dengan mudah ke pasar. Tangkapan ikan nelayan bisa sampai kepada konsumen dengan cepat dalam kondisi segar. Distribusi bahan pangan dan kebutuhan hidup berjalan dengan cepat dan lancar sehingga mampu mengurangi biaya produksi. Harga-harga pun bisa menjadi lebih murah.

Di saat perekonomian bangkit dan urusan perut tak lagi menjadi masalah utama, masyarakat pun mulai berpikir meningkatkan taraf hidup mereka melalui pendidikan. Mereka mulai menyekolahkan anak ke tempat-tempat terbaik, mengusahakan pendidikan setinggi mungkin. Dan semuanya akan berjalan seperti efek domino. Perekonomian membaik, pendidikan membaik, kesehatan membaik, kesejahteraan membaik.

Daerah-daerah yang dilewati jalan raya menjadi daerah yang hidup. Dia otomatis menjadi kawasan yang terhubung dan tak lagi terisolir. Warga yang dulunya tidak bisa kemana-mana, sekarang jadi bisa bergerak bahkan mengitari dunia. Hal-hal baru pun akan masuk dengan cepat ke daerah tersebut. Membawa perubahan yang lebih baik.

Mari kita bayangkan sebaliknya. Jika suatu daerah tidak memiliki jalan, bagaimana kemajuan akan terjadi? Itulah yang terjadi di banyak wilayah Indonesia dulu. Mari kita ambil contoh Papua.

Siapa sih yang mengingkari kalau Papua merupakan daerah yang sangat cantik? Semua orang mengakuinya. Pulau di ujung timur ini memiliki bentang alam yang teramat indah, mulai dari dasar lautnya, permukaannya, hingga puncak gunungnya. Papua menyimpan eksotisme yang menarik minat banyak orang untuk berkunjung. Belum lagi kekayaan alam yang melimpah.

Namun sayangnya satu, infrastuktur di Papua tidaklah mendukung. Di pulau nan cantik ini, banyak daerah yang terisolir karena tidak ada jalan raya sebagai penghubung. Tak heran jika akhirnya pembangunan di daerah tersebut terhambat. Ketiadaan jalan raya menjadikan akses transportasi sulit dilakukan. Barang-barang pun menjadi mahal karena semua harus diangkut melewati udara.

Dari situ bisa dilihat betapa pentingnya infrastruktur jalan raya bagi masyarakat. Orang memang tidak akan makan jalan, tapi dengan adanya jalan raya, masyarakat akan lebih mudah mendapatkan makanan. Masyarakat akan lebih mudah mengakses pendidikan, kesehatan, serta banyak hal lainnya.

Bandara Sorong, Papua Barang

Bandara Sorong, Papua Barang

Saat saya berkunjung ke Papua akhir tahun lalu, saya sempat bercakap dengan beberapa warga lokal. Mereka mengaku senang dengan kinerja pemerintah yang memutuskan untuk fokus pada sektor infrastruktur.

Dengan dibangunnya banyak jalan raya (khususnya Trans Papua), akses mereka menuju tempat-tempat lain semakin mudah dan murah. Ada banyak tempat yang dulunya harus ditempuh dengan pesawat kini bisa ditempuh dengan perjalanan darat. Harga BBM pun normal, tak lagi melambung tinggi. Tak hanya di Papua, daerah-daerah lain di Indonesia pun merasakan hal yang sama. Sejak dibangunnya banyak jalan nasional serta jalan tol, semua menjadi terhubung.

Selain transportasi di darat, Kementerian Perhubungan bekerjasama dengan instansi terkait juga membangun berbagai saran dan prasarana pada sektor laut dan udara. Selama periode 2014 – 2018, ada sekitar 21 pelabuhan penyeberangan dibangun untuk menghubungkan daerah-daerah terpencil. Trayek tol laut juga ditambah guna mengakomodir kebutuhan masyarakat dan wisatawan.

Semua hal yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan dan instansi terkait ini semata-mata demi menciptakan Indonesia yang lebih baik. Pembangunan Indonesia yang setara, sehingga nantinya tak ada lagi istilah 3T, terdepan, terluar, dan tertinggal. Sebab, kelak baik wilayah yang berada di garis terdepan atau tidak, semua akan terkoneksi dan maju bersama.

***

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba yang diadakan oleh Kementerian Perhubungan. Untuk mengikuti informasi dan berita yang berhubungan dengan Kementerian Perhubungan, Anda bisa mengikuti media sosial mereda di @kemenhub151 (Twitter) dan @kemenhub151 (Instagram)

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

1 Response

  1. Sinta says:

    Semoga nggak cuma dibangun infrastuktur aja ya kak, tapi tiket menuju Indonesia timur juga makin murah.

Sharing yuk!