Es Jeruk Adalah Kunci

“Yang paling ngangenin dari Jogja itu es tehnya. Nggak ada yang ngalahin. Es teh di angkringan dan warung burjo itu rasanya khas,” ujar Mas Chandra beberapa tahun lalu usai pulang merantau dari Aceh.

Bayangkan, sehabis saya jemput di bandara malam-malam, dia langsung meluncur ke warung burjo demi segelas es teh yang konon rasanya sangat khas dan tidak bisa dia dapatkan di Aceh. Saya sendiri kala itu hanya geleng-geleng kepala. Emang rasa teh aja bisa sampai sebegitu membekasnya di hati ya?

Namun akhirnya saya pun mengalami apa yang dia rasakan. Kali ini saya jatuh hati bukan pada es teh melainkan es jeruk.

—-

“Pokoknya kalau ke Belitung jangan lupa makan Mie Belitung. Rekomendasiku sih mi di Warung Atep” pesan seorang kawan saat tau saya ada pekerjaan di Belitong untuk beberapa waktu. Saya pun mengiyakan. Lagipula saat saya googling sepertinya makanan tersebut memang sangat populer, khususnya Warung Atep.

Sesampainya di Belitong saya pun singgah ke warung yang terletak di Jl Sriwijaya No 27, Tanjung Pandan. Lokasinya yang berada di tepi ruas jalan utama dan tak jauh dari Bundaran Tugu Batu Satam membuat saya mudah mencarinya.

Tak berapa lama setelah saya pesan, semangkuk Mie Belitong dan segelas es jeruk sudah tersaji di hadapan. Mienya memang enak, jauh lebih enak dari yang pernah saya makan saat di Jogja. Potongan udang, mie, kentang, dan emping yang dikunyah bersamaan menciptakan sensasi rasa unik sekaligus nikmat di lidah. Membuat saya tak ingin berhenti mengunyah.

Es Jeruk Kunci dan Mie Belitung

Es Jeruk Kunci & Mie Belitung, Kombinasi Sempurna Pengisi Perut

Usai makan saya langsung menenggak es jeruk yang ada di samping piring. Awalnya tak ada ekspektasi apa pun terhadap es jeruk ini. Maklum, saya acap kecewa dengan es jeruk yang disajikan di beberapa tempat makan. Jika tidak terlalu asam biasanya malah hambar, kadang terlalu manis, sehingga sensasi rasa jeruknya hilang. Berulang kali kecewa, kali ini pun saya tak berharap banyak.

Namun ketika saya tak mengharapkan apa pun, saya justru mendapatkan sesuatu yang sangat nikmat. Es jeruk ini enak sekali. Rasanya beda dengan jeruk peras atau jeruk lemon. Perpaduan rasa yang tercipta begitu pas, antara manis dan asam bercampur dengan sempurna. Beberapa bulir jeruk yang mengambang di gelas menambah citarasa tersendiri. Saya pun akhirnya menenggak minuman pelan-pelan dan benar-benar menikmati tiap kesegarannya. Ini es jeruk tersegar dan terenak yang pernah saya minum.

Penasaran, saya pun bertanya kepada pemilik warung. Dari beliau akhirnya saya tahu bahwa jeruk yang digunakan untuk membuat es tersebut adalah jeruk kunci, bukan jeruk peras biasa atau jeruk lemon.

—-

“Jeruk kunci itu jeruk yang dikutuk”, celetuk Abel tiba-tiba saat kami sedang mengunjungi green house Bangka Botanical Garden, dimana ada banyak bibit pohon jeruk kunci. Saya pun menatapnya dengan penasaran dan meminta dia untuk bercerita soal jeruk yang dikutuk. Lantas laksana pendongeng ulung, mengalirlah kisah jeruk kunci dari mulut guru Bahasa Indonesia SMP Budi Mulia Pangkal Pinang tersebut.

Pohon Jeruk Kunci

Pohon Jeruk Kunci di Green House Bangka Botanical Garden

Pada suatu masa, di kerajaan jeruk sedang diadakan rapat agung. Semua jenis jeruk datang menghadiri musyawarah besar tersebut. Ada jeruk keprok, jeruk bali, jeruk baby, jeruk lemon, jeruk purut, jeruk peras, jeruk kunci, dan jeruk-jeruk lainnya. Saat itu para jeruk sedikit terkejut melihat rombongan jeruk kunci, sebab biasanya mereka jarang datang. Jeruk kunci memang dikenal sebagai jeruk yang sombong.

Saat musyawarah sedang berlangsung, jeruk kunci kerap melontarkan kalimat-kalimat yang buruk dan terkesan meremehkan. Hingga akhirnya Raja Jeruk tak tahan dan mengutuk jeruk kunci “Wahai jeruk kunci, ketahuilah. Sejak hari ini dan seterusnya buahmu dan keturunanmu tidak akan pernah besar. Airmu pun akan terasa asam seperti ucapan-ucapanmu,” Dan itulah alasan mengapa jeruk kunci berukuran kecil dan memiliki rasa sangat masam.

—-

“Di depan rumah ada pohon jeruk kunci. Kalo Sasha mau petik aja. Bawa banyak-banyak ke Jogja,” kata perempuan tua bercucu 5 yang biasa saya panggil Nenek. Menurutnya pohon jeruk kunci di depan rumahnya selalu berbuah lebat. Karena terlalu banyak, kadang buah jeruk itu dibiarkan begitu saja hingga berguguran ke tanah dan membusuk.

Jeruk kunci memang sangat asam. Ukurannya pun kecil, paling sebesar kelereng. Biasanya jeruk ini digunakan sebagai salah satu bahan cuko empek-empek. Jika orang Bangka Belitong dan Sumatra Selatan menyebut tanaman ini dengan jeruk kunci, orang Makasar menyebutnya lemon cui. Sedangkan di Jawa istilah jeruk kunci sepertinya tidak begitu dikenal.
Meski rasanya masam, jika sudah dicampur dengan gula dan es batu, jeruk kunci akan menjadi minuman yang sangat menyegarkan. Di Belitung kini jeruk kunci juga dihadirkan dalam bentuk sirup sebagai oleh-oleh. Sayang saya belum pernah mencobanya.

—-

Sejak perkenalan perdana dengan es jeruk kunci di Warung Atep, saya pun jatuh cinta dan tergila-gila dengan minuman tersebut. Tiap kali makan pasti es jeruk kunci yang saya pilih sebagai pendamping. Hingga akhirnya saya pun meninggalkan Belitong dan terpaksa harus berpisah dengan es jeruk kunci.

Entah mengapa, rasa es jeruk kunci begitu melekat di hati dan di lidah. Hingga kini saya belum menemukan es jeruk yang seenak jeruk kunci. Akhirnya saya pun bisa memahami mengapa Mas Chandra begitu fanatik dengan es teh angkringan. Meski sama-sama es jeruk, tetap ada sensasi rasa lain yang tak tergantikan.

Jadi kalau saya ditanya “yang paling ngangenin dari Belitong apa?” tentu saja saya jawab “es jeruk kunci”. Rupanya saya sudah cinta mati dengan buah yang dikutuk.

Kalau kamu sendiri termasuk tim es teh atau tim es jeruk?

ditulis malam hari, di tengah udara Jogja yang gerah sekali
mendadak saya rindu jeruk kunci

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

10 Responses

  1. Lusi says:

    Es teh di Jogja itu unik karena gula dimasukkan bareng es-nya, jadi ngaduknya harus semangat karena gula pasir susah larut dalam air es. Kalau di kota lain biasanya pake air panas sedikit dan diaduk dulu sebelum ditambah air tawar dan es batu, atau gula pasirnya sudah dicairkan.

    • Wah soal ini saya malah baru tau mbak. Terus katanya rasa tehnya yang unik akibat perpaduan rasa dan aroma berbagai teh. Konon penjual angkringan mencampur beragam merk teh sehingga rasanya beda.

  2. annosmile says:

    waaa belitong..jadi pengen kesana suatu saat nanti..
    klo es jeruk di jogja emang rata-rata terlalu manis sih..akhirnya lebih memilih es teh tawar hihihi

  3. angkisland says:

    wah enak kayaknya y mbak minum es jeruk apalagi gratisan wkwkw,… wah ternyata jeruk juga punya perkumpulan jeruk hehe asal jng jeruk makan jeruk hehe

  4. Es jeruk kunci nya enak banget seger tapi kalo mie atep nya kayak nya ngak ada dalam kamus ku coretttttt ngak cocok

  5. es jeruuuuk dong ^o^..

    pas ke belitung kemarin, akupun sempet underestimate ama jeruk ini mbak… ngeliat tampilannya yg pucet bgt gitu, samasekali ga bangkitin napsu kan.. tapi pas dicoba, uwwoooo…..SUKAAAAAK ^o^.. pas bgt rasanya… asem manis seger… aku sempet beli tuh sirupnya di toko suvenir belitung.. tapi nth kenapa ya, pas dicoba di rumah, ga seenak yg aku cobain di mie atep itu mbak -__-. jd kecewa sih..

Sharing yuk!