Fiersa Besari, Aq*a, dan Bagaimana Menjaga Alam Mulai dari Diri Sendiri

Dini hari tadi, usai kecewa nonton Fajar Rian yang kalah di partai QF Denmark Open 2019 saya buka instragram. Di beranda paling atas muncul postingan Fiersa Besari yang tak nampak seperti biasanya. Setelah saya baca rupanya postingan tersebut berisi klarifikasi bahwa dia membatalkan kerjasama dengan sebuah brand yang dirasa kontra dengan pergerakan di bidang kelestarian alam.

fiersa

Wadidaw, ada apa neh? Apakah ini ada hubungannya dengan Aqua? Mengingat beberapa saat sebelumnya Fiersa posting soal Jelajah Kebaikan Aqua Lestari. Jiwa kepo saya pun langsung bergelora. Scrolling Twitter, ngintip akun kolektif, dan akhirnya menemukan jawaban. Ternyata praduga saya benar.

Jadi ceritanya gini. Si Bung (Fiersa Besari itu pria ya sodara-sodara) yang selama ini menampilkan citra di sosial media sebagai seorang yang suka bertualang serta memiliki kepedulian terhadap alam rupanya menjadi influencer untuk Aqua.

Melihat hal tersebut, banyak orang yang menyorotnya. Mereka yang memang concern di bidang lingkungan mengkritik keputusan Fiersa, mereka yang membenci Fiersa mengomel dengan pedas dan banyak pula yang mencacimaki.

Mungkin kalian akan bertanya, salahnya Fiersa di mana? Salahnya Aqua di mana? Kok sampai ribet gini? Kerjasama dengan brand kan hak pribadi? Kok orang lain yang riwil? Hehehe, sini sini ngobrol dulu kita.

Mari kita flashback ke tahun 2015. Kalau masih ada yang ingat, saat itu Marzuki Muhhamad aka Kill The DJ sempat menjadi menulis lagu “Bagaikan Air” dan menjadi talent untuk iklan Aqua. Lagunya bagus, TVCnya bagus, pesannya bagus. Tapi sayangnya hal itu mendapat kritikan dari banyak orang. Lagi-lagi karena Kill The DJ yang selama ini juga dikenal sebagai aktivis kok malah bekerjasama dengan Aqua. Kasusnya ga beda jauh sama Fiersa lah.

Mengapa orang-orang mengkritik dan menjadi marah? Sebab Fiersa (kita fokus di Fiersa saja ya, karena yang masih anget) semacam tidak memiliki pendirian yang jelas, tidak memiliki kesadaran ekologis. Selama ini dia mencitrakan dirinya sebagai pegiat alam blablabla, tapi kok malah melakukan kerjasama dengan korporat yang turut menyumbang kerusakan alam dan menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbanyak di dunia?

Menurut kawan-kawan aktivis, bekerjasama dengan Aqua (Danone) sama halnya dengan membiarkan tanah-tanah masyakarat diambil paksa. Bekerjasama dengan Aqua, meski yang diposting soal Aqua adalah kegiatan CSRnya, adalah sama saja dengan melanggengkan tradisi penggunaan botol minum sekali pakai, yang setelah itu menjadi tumpukan sampah tak terurai.

Btw bagi kawan-kawan yang pengen tahu data apakah perusahaan air mineral ambil bagian dalam eksploitasi dan kerusakan alam bisa baca di sini ya! 6 tahun lalu Merdeka.com juga pernah membuat liputan berseri tentang eksploitasi Aqua. Bisa baca di sini (yang judul-judul bagian bawah, ya!)

Katanya peduli terhadap alam dan mendukung gerakan pengurangan sampah plastik, tapi kok malah kerjasama dengan perusahaan penghasil sampah itu sendiri? Kok nggak sinkron ya? Nah kira-kira begitulah. Makanya Fiersa mendapatkan respon keras dari orang-orang.

Mungkin nih ya, kalau Fiersa Besari bukan sosok yang memberikan pengaruh besar pada kawula muda, respon yang dia terima tidak akan seperti ini. Mungkin kalau saya yang ikut Jelajah Kebaikan Aqua, orang-orang juga bakalan woles aja. Paling dinyinyirin dikit lah sama kawan-kawan dekat tapi nggak sampai menimbulkan kehebohan. FYI beberapa bulan lalu saya hampir daftar acara serupa di Klaten tapi ndak jadi, hahaha.

Betewe saya nggak mau bahas lebih lanjut soal ini ya, nggak punya kompetensi soalnya. Apalagi Fiersa juga sudah memutuskan untuk menyudahi kerjasamanya dan tidak menerima sepeser uangpun dari Aqua (duh, jadi ingat Mas Aik NKSTHI dengan #sawitbaik-nya nih). Anggap saja case closed. Walau di media sosial masih banyak yang merisaknya dan masih banyak yang berdebat, antara fans Fiersa garis keras dan mereka-mereka yang anti Fiersa.

***

Belajar dari hal ini, saya lebih pengen ngomongin soal hal-hal apa sih yang bisa kita lakukan untuk menjaga alam demi bumi yang tetap lestari? Daripada kita hanya koar-koar di dunia maya, menyalahkan sana sini dan tidak memberi solusi, lebih baik kita bergerak mulai dari diri sendiri.

Saya sendiri sudah memiliki daftar hal-hal apa saja yang sudah rutin saya lakukan, sedang berusaha saya lakukan, dan yang pengen saya lakukan tapi belum kesampaian. So here we go!

1. Selalu bawa air minum sendiri di botol isi ulang

Motif ekonomi adalah pendorong utama mengapa saya melakukan hal ini sedari dulu. Dari dulu saya adalah peminum kelas berat. Kalau nggak bawa minum sendiri pasti bakalan boros jajan minum terus. Rupanya hal ini menjadi gaya hidup. Sudah belasan tahun berlalu dan saya masih membawa botol minum sendiri kemana-mana. Dengan melakukan hal ini, sudah berapa banyak uang yang saya hemat? Sudah berapa banyak potol plastik yang terselamatkan dari kesia-siaan? Buanyak!

Oya, ngomong-omong soal bawa botol sendiri ini ada satu hal menggembirakan yang saya dengar. Jadi selama ini di gereja tiap ibadah selalu disediakan air mineral kemasan untuk mereka yang haus. Usai ibadah, akan ada tumpukan kantong sampah isi botol. Saya tuh sedih lihatnya. Bersyukur belum lama ini pendeta membuat kebijakan untuk meniadakan air mineral di pintu depan. Jemaat yang gampang haus pas ibadah diharap membawa botol air sendiri, nanti di gereja disediakan galon untuk refill. Dan ini sudah berlaku. Yuhuuu, I’m super happy. Gara-gara keputusan ini saya sampai nge_DM pak pendeta bilang terima kasih hehe.

2. Bawa totebag/tas kain tiap belanja!

Sejak kapan bawa totebag tiap belanja? Lupa pastinya kapan, tapi seingat saya di medio 2007nan lah saya sudah kemana-mana nenteng totebag buat belanja. Saat itu belum begitu konsisten sih. Mulai yang konsisten yang sejak menikah di 2014 lalu. Alasannya? Sedih banget lihat kresek hasil belanja numpuk di dapur dan nggak tau harus digimanain.

tas-furing-murahsuvenir nikahan dulu

Atas dasar keresahan ini makanya pas nikahan saya kasih souvenir totebag buat kawan-kawan yang hadir. Kalau sekarang sih bawa totebag sebuah keharusan. Entah belanja di warung, di mbak sayur pojok desa, di pasar, di pusat perbelanjaan. Misal nggak bawa totebag saya memilih untuk mencemplungkan semua belanjaan ke dalam ransel.

3. Tidak memakai popok sekali pakai

Kalau boleh bilang ini adalah salah satu pencapaian terbesar yang bisa saya banggakan selama membesarkan Renjana, haha. Di tengah maraknya penggunaan popok sekali pakai untuk bayi, saya memilih bertahan dengan menggunakan popok kain. Ribet sih, harus cuci setrika setiap hari, capek juga. Tapi itu bukan hal yang saya sesali, justru menjadi kebanggan tersendiri buat saya.

Lantas apakah Renjana benar-benar steril dari penggunaan diapers? Tentu saja tidak. Tiap ke gereja atau pergi jauh saya masih memakaikan diapers untuknya. Tapi intensitasnya pun sangat jarang. Dalam sebulan bisa dihitung dengan jari berapa kali saya memakaikan diapers. Saya nggak bisa bayangin sih kalau pakein dia diapers setiap waktu, berapa banyak uang yang saya habiskan untuk itu dan berapa banyak sampah yang saya hasilkan?

4. Minum tanpa sedotan atau pakai sedotan stainless

Saya tim yang lebih suka minum langsung dari gelas dibanding memakai sedotan. Jika minuman dingin, saya lebih suka untuk memakai sendok. Jadi di saat orang-orang ramai-ramai beli sedotan stainless saya tetap nggak beli. Lawong emang jarang pakai sedotan kok. Tapi buat kalian yang suka minum pakai sedotan, sebaiknya mengurangi penggunaan sedotan plastik.

5. Pilah-pilih kemasan saat belanja

Dulu saat belanja saya nggak pernah mikir soal kemasannya. Sekarang beda cerita, saat belanja bulanan saya selalu mikir berapa banyak sampah yang saya hasilkan dari belanja hari ini. Makanya sebisa mungkin saya membeli barang dalam ukuran besar (supaya tidak bolak-balik beli dan menghasilkan sampah lebih banyak) serta barang yang sampahnya tidak terlalu banyak.

Saya tu kesal kalau beli snack yang bagian luar sudah dibungkus plastik, dalamnya masih diplastikin lagi kecil-kecil, mubazir ooooi! Sama halnya dengan pasta gigi. Ini produsen nggak ada gitu yang mau bikin pasta gigi dengan kemasan yang nggak dobel-dobel?

6. Makan atau minum di tempat daripada dibawa pulang

Tanpa disadari, membeli makanan atau minuman take away itu menimbun sampah plastik lho. Begitu pula dengan gofood n grabfood. Padahal harusnya kalau dimakan minum di warungnya langsung kan enggak perlu ada sampah tambahan toh? Ini masih jadi PR buat saya nih. Masih suka jajan dan dibawa pulang tapi males bawa kotak atau rantang makan sendiri. Huhuhuhuhu.

7. Tidak memakai pembalut sekali pakai

Salah satu persoalan sampah yang masih menjadi dilema di kepala saya adalah soal penggunaan pembalut. Limbah pembalut tuh banyak banget, mulai dari plastik kemasannya, plastik pembungkus pembalut satuan, kertas plastik tempat perekatnya, dan pembalutnya sendiri. Dalam satu kemasan itu isinya limbah semua. Dan tiap bulan saya selalu memakainya. Niat hati ingin pindah ke menstrual pad atau menstrual cup, tapi masih wacana mulu. Mentrual cup saya jiper lihatnya, menstrual pad ribet bayanginnya. Semoga tahun depan saya sudah bisa membuat keputusan besar, ya!

8. Membuat Ecobrick

Menyetop penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari itu adalah perkara yang mustahil dilakukan. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi penggunaannya. Mengurangi berarti masih tetap ada sampah plastik namun jumlahnya tidak semasif dulu. Lantas, sampah plastik yang ada itu harus kita apakan?

Sekarang saya sedang berusaha menjadikan tumpukan sampah plastik di rumah menjadi ecobrick. Modal nekat, modal mencoba, modal baca-baca artikel dan nonton youtube. Saya belum tahu apakah ecobrick yang saya bikin itu sudah benar atau salah. Pokoknya bikin dulu lah. Saya juga sudah punya ide kelak ecobrick itu akan saya apakan.

9. Membuat kompos

Selain sampah plastik, di tiap rumah tangga juga menghasilkan sampah organik. Entah dari sisa potongan sayuran, kulit buah, hingga sisa-sisa makanan. Berhubung saya punya banyak ayam, sisa makanan bisa saya kasih ke mereka. Selain itu kini saya sedang belajar membuat kompos dengan cara malas dan sederhana. Lumayan lah, nanti komposnya mau saya bikin nutupin raised bed yang belum jadi-jadi.

***

Jadi begitulah kawan-kawan, itu adalah beberapa hal yang sudah saya coba lakukan (dan ingin saya lakukan) sebagai langkah mandiri untuk mengurangi sampah plastik. Buat saya, dibanding cuma koar-koar sana sini, membela idola habis-habisan (uhuk terkait konteks di atas), dan nyinyir mulu lebih baik diam namun terus bergerak. Dimulai dari bijak berplastik bagi diri sendiri dulu, semoga kelak bisa menyebar ke banyak orang.

Betewe ini tulisan ternyata sudah 1600an kata dan saya ngoceh ngalor ngidul. Semoga nggak bikin bosan ya. Semoga bisa jadi bacaan menemani akhir pekan. Betewe sudah lama banget nih saya nggak ngoceh ginian di blog.

Ngomong-omong, kalau kawan-kawan sendiri sudah melakukan hal apa saja atau punya ide apa untuk mengurangi penggunaan sampah plastik? Bagi di kolom komentar dongs!

 

Jogja, 19 Oktober 2019
Sampai bagian ini masih adakah yang bertanya-tanya siapakah Fiersa Besari itu? Ahahaha, kalau melihat demografi visitor blog saya kayaknya banyak yang nggak kenal dia deh.

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

42 Responses

  1. dwisusantii says:

    Aku juga sempat ngintip berita yang lagi anget itu mbak. Ngeri banget baca komen julidnya.
    Kalau usahaku untuk mengurangi sampah plastik baru sekadar membawa tas belanja dari rumah (meski kadang-kadang ya ketinggalan dan lupa), bawa botol minum ke mana pun pergi (meski botol tuppe*ware-nya sok ketinggalan di warung soto), terus apa lagi ya? Baru dikit banget

    Tapi aku mau sedikit cerita di kantor Kecamatan Gedongtengan, Pak Camat sudah mengeluarkan peraturan untuk mengurangi sampah plastik. Acara rapat, atau kegiatan apa pun diusahakan untuk mengurangi jumlah sampah plastik dengan membawa tumbler sendiri terus minumnya disediakan segalon wkwk, snack dan konsumsi juga pakai piring (lepek kecil) jadi ga pakai mika plastik, dan sebagainya. Oyee sekali camatku :)))

    • Iya sih, aku juga ngeri baca komentar julidnya. Ini netijen kemarin kasus Sulli meninggal gara2 hate comment pada bersuara soal perundungan, giliran ada kejadian gini mereka juga merisak habis-habisan. Kadang ku tak habis pikir dengan cara kerja otak mereka. Ya walaupaun mungkin beda orang tapi kenapa enggak dijadikan pelajaran ya. Mending diam deh daripada menyakiti hati.

      Waaaa, senang deh ada pak camat yang kaya gitu. Kembali ke jaman dulu ya. Semoga diterapkan di tempat-tempat lain juga. Tapi sebenarnya sih yang tak kalah pentingnya adalah adanya regulasi pemerintah terhadap perusahaan yang terus menerus produksi plastik ya.

  2. ismyama says:

    Memang susah2 gampang sih komit. Kayak dulu aku jadi pengurus sebuah organisasi asi. Ternyata memang ‘sekeras’ itu sterilisasi terhadap brandnya. Misal brand ttt ada yang dia produksi dot atau susu formula buat bayi, meskipun yg aq review adalah breast pump nya, atau bahkan csr nya ya tetep ga boleh, krn dibawah brand yg sama. Pada akhirnya harus memilih kan ya, sama kayak Fiersa yg memilih untuk ga bekerja sama dg brand A tsb

    • Wah apalagi kalau sudah tergabung organisasi mbak, emang aturannya ketat ya. Ada kawan yang concern di isu lingkungan dan dia bener-bener picky dalam pilih produk. Komitmennya sungguh luar biasa. Aku sebagai orang biasa melihatnya merasa lelah hehe. Kembali lagi, semua tentang pilihan dan sikap kita kan ya. Asal tahu batasan dan siap dengan segala konsekuensi.

  3. Aku juga masih jiper sama menstrual cup mbak 😅 , aku juga dr Nimas lahir itu berusaha seminimal mungkin beli popok sekali pake, dan sekarang udah lepas. Kayaknya PR ku masih banyak nih mbak Sash, yang 2 terakhir belum pernah aku lakukan untuk ikutan bijak berplastik😅.

    • Sama pun. Mau pake menstrual pad kok males cucinya dan merasa ribet hehehe. Tapi kudu ambil keputusan demi hal yang lebih baik. Yuk lah sama-sama belajar mulai dari diri sendiri mbak. AKu juga masih tertatih nih.

  4. Ayun says:

    Sebagai anak kos yg mager dan tergoda diskonan, aku belum bisa untuk selalu makan di tempat. Ya gimana, voucher2 Grab Food Go Food selalu melambai-lambai. Btw, yg acara danone blogger tahun ini aku hampir daftar tapi gak jadi, deadline pas lagi ganas-ganasnya. Aku juga udah kebanyakan izin ke dokter gigi bulan itu.

    • Bagian jajan-jajan ini aku juga masih susah mengendalikan. Apalagi Renjana sama bapaknya jarang mau makan di tempat. Mereka suak banget makannya di rumah biar lebih leluasa katanya. PR besar juga ini.

      Danone blogger yang di Bali ya? Tadinya aku juga niat daftar, tapi setelah mikir ulang nggak jadi hehehe. Sekarang tu jadi bener2 nggelar nggulung kalau mau ikut campaign apa lomba2 gini hahaha. Takut kepleset akutu mbak.

  5. Aku Sitam says:

    Khusus bagian pasta gigi dengan kemasan kota juga membuat saya bertanya-tanya dan terjawah di salah satu pertanyaan di Quora. Sederhannya, ketika menggunakan kemasakan kota, pasta gigi akan lebih mudah disusun (secara rapi) dan lebih mudah dikemas ke dalam kemasan besar seperti kardus dan sejenisnya.

    • Berarti harus ada cara lain, misalnya tube pasta gigi dibikin silinder macam botol minuman atau malah macam sabun anak-anak itu hehehe. Kalau masalahnya hanya soal kerapian saat disusun.

  6. Helena says:

    Aku ga kenal beliau tapi salut dengan langkah besar yang ia ambil. Emang harus nyambung dengan keyakinan diri tiap ambil job. Kalau aktivis kerja sama dg brand yg dikenal menghasilkan sampah yaa seakan-akan ia setuju dg brand tersebut (meski katanya ada produk yg bisa didaur ulang dsb).

    Btw, pake mens pad biasa aja kok ya sama kayak pake clodi buat anak. Pilih yg tipis, bahan bagus buat menyerap jadi ga ganjel. Kalo menscup nanti deh setelah lahiran ku mau coba.

    • Bener banget, semacam kalau blogger saat ambil job sebaiknya juga relevan dengan niche yang dipilih gitu ya.
      Wah jadi makin penasaran buat pake mens pad nih. Dicucinya gampang nggak sih, mbak?

  7. @nurulrahma says:

    Wohoooo, Fiersa Besari mantuuulll!
    Tidak banyak orang yg punya idealisme seperti dia ya.
    Semoga semangatnya bisa nular ke kita semua utk lebih bijak berplastik!

    • Itu juga karena dia “dinyinyirin” sama kawan-kawan pecinta lingkungan sih mbak, kalau enggak ada yang nyinyir paling juga tetep jalan kerjasamanya hehehe.

      Amiiin, semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih bijak.

  8. Sary Melati says:

    Fiersa Besari tuh yang penyanyi dan pencipta lagu juga ya? Kayaknya sering denger anakku nyebut2 namanya karena dia suka lagu2nya. Salut dengan keputusannya. Emang gak mudah ya jadi public figure

  9. Salut untuk keputusannya. Mungkin memang tak akan mudah. Tapi aku tahu rasanya pasti lega dan bangga sudah konsisten berjalan di jalur yg dipilih. Aku sendiri, pernah beberapa kali ragu berkenaan dg brand tertentu dan akhirnya mengambil keputusan tidak bekerjasama. Buat orang yang hanya blogger ndeso kaya aku, sumpah itu susah bgt. Orang lihatnya kaya semacam nolak rezeki or bahkan ngejudge sombong. Wkwkwk.

    • Seminggu terakhir ini saya juga nolak beberapa tawaran kerjasama, mak. Karena merasa tidak sesuai dengan nuradi dan apa yang selama ini diyakini. Kadang emang kita harus keras dan memberi batas pada diri sendiri kok. Rejeki nggak akan pernah tertukar :)

  10. Erin Friyana says:

    Sekarang aku lebih suka bawa botol minum ke mana-mana dan untuk popok sekali pakai baru mau aku mulai mba, sayang banget soalnya uang habis banyak dan malah jadi sampah pelastik. Semoga makin banyak deh perjuanganku untuk mengurangi sampah pelastik.

  11. HM Zwan says:

    Aku pertama lihat menstrual cup rada aneh, pas lihat video cara pakaiannya.. Huhu aku belum siap deh kayaknya. Ngilu Ngilu gimana gitu… Xixixi

  12. Korporat yang profit oriented memang selalu berseberangan dengan pelestari lingkungan yaa. Tapi salut juga untuk Fiersa yang berani menolak kerjasama yang enggk kecil nilainya ini.pastinya.
    Aku sendiri sudah bawa botol air minum sendiri dan tumbler kopi kalau pergi. Juga, nyimpen tote bag di tas. Di luar itu masih belajar terus peduli:)

  13. sulis says:

    Dari semuanya..aku baru bawa minum pake botol sendiri, sama totebag aja Sha klo ke pasar. Yang lainnya belum. Pembalut, pernah ganti ke kain..waktu isu kanker serviks karena pembalut satu kali pake itu. Jadi waktu itu niat gantinya bukan karena mikir sampah, karena takut sakit. Tapi ternyata cuma bertahan berapa bulan…sekarang balik lagi ke sekali pakai, karena lebih praktis. aku masih jahat sama alam kesimpulannya.

  14. Nathalia DP says:

    Wah makasih infonya mbak, kalau enggak baca di sini, saya ga bakal tau kasus ini… Sebagian besar tipsnya udah saya praktikkan juga mbak, cuma yang pembalut dan kompos nih belum coba…

  15. Damar Aisyah says:

    Aku tahu Fiersa Besari meskipun nggak mengikuti sosmed-nya hehe. Btw soal belajar minim sampah, jujur aku masih cemen banget karena baru belajar hemat plastik sama botol minum. Lainnya masih ngandalin barang2 berkemasan. Pembalut apalagi. Kalau pampers udah lama berhenti dan berkurang sejak lahir anak kedua. Tapi sampah makanan juga kadang masih berlebihna. Masak sudah sedikit tetap nggak dimakan. Beli sering nggak cocok sm lidah. Duh, berasa masih banyak anget PR-ku.

  16. naniknara says:

    Saya ini termasuk yang nggak kenal siapa itu Fiersa Besari. Dan kalau nggak ada klarifiksi kalau beliau ini lelaki, pasti dibenak saya tertanam bahwa beliau ini perempuan hehehe….

  17. linasophy says:

    Sempet baca sekilas juga soal kehebohan si abang, untung sudah ambil keputusan terbaik yaaa?

    Btw untuk hidup bijak berplastik aku juga belum konsisten nih 😅

  18. Ririe Khayan says:

    Saya juga termasuk yg gak tau siapa Fiersa Besari, bahkan varu tahu namanya disini (kudetnya saya ini). Btw, mengenai bawa tas tiap belanja, jika ditelaah, sebenarnya kebiasaan ini adalah pola yang sudah dilakukan oleh generai orang tua saya. DUlu kalau ke pasar selalu bawa keranjang yg digendong. Kalau anak-anaknya disuruh belanja ke warung, harus bawa tas belajaan dari rumah. Semoga kebiasaaan baik ini, semakin populer lagi sekarang dan seterusnya

  19. Yurmawita says:

    Aku dong selalu bawa botol minum kemana-mana hehe berarti ada kontribusi untuk alam nih, semoga alam Indonesia cepat bersemi lagi setelah kebakaran hutan kemarin dan kita dapat menikmati air lebih lama lagi

  20. Aku sekarang juga lagi belajar mengurangi plastik. Mulai pilah pilah juga mana yang bisa didaur ulang dengan bikin bank sampah di kampung. Untuk ecobrick itu masih bingung mau dibikin apa hehehe. Tapi udah mulai juga sih ngisi ngisi botol plastik dengan sampah plastik juga

  21. Rachmanita says:

    Hallo mbak aku termasuk salah satu vloggernya aqua.. Alhamdulillah gak merasakan kayak yang mas itu rasakan.. Alhamdulillah ga ada haters.. Hehehe…

    • Hehehe, bersyukur deh mak. Fiersa banyak yang kritik karena selama ini citra diri yang dia tampilan di sosmed ya yang ke-aktivis2-an lingkungan gitu sih. Jadi ndak sesuai aja dengan apa yang dia tampilkan.

  22. Saya dari zaman SMA bawa botol minum sendiri. Tapi ya kadang-kadang pernah lupa juga jadi terpaksa beli minum kemasan. Biasanya botol saya bawa pulang dan dikumpulkan, sebulan sekali ada tetangga yang ngambil buat dia jual dan mungkin bakal diolah lagi sampah plastiknya. Saya sebenernya setuju aja sama campaign Aqua bahwa sampah plastik jika dikelola dengan baik dapat menjadi manfaat bagi banyak pihak. Cuma kadang ada aja influencernya yang kayak ngajak-ngajak banget untuk “gpp kok beli minuman kemasan” hahaha jadi campaignnya kurang halus gitu. Oh ya selain botol minum saya jarang pakai sedotan karena jarang banget jajan minuman gitu. Terus kalau harus beli lauk saya bawa tempat makan sendiri biar gak kebanyakan plastiknya.

  23. Aprillia Ekasari says:

    Ya begitulah jd influencer segala tindakan disorotin. Sekali lagi keputusan ada di tangan dia, hehe gak bisa komen menghakimi 😀
    Tapi ya mbak setuju banget bahwa mulai bijak berplastik mulai dari diri sendiri ya. Juga lingkup kecil kita. Walau kadang suka dipandang aneh dan tindakan itu kyknya kecil gak terliat tp efeknya kalau dilakukan terus menerus ya besar, kyk misal bawa kotak makan atau botol sendiri, bawa tas sendiri dll

  24. echaimutenan says:

    Aku huhuhu pakai pospak mak. Masih belum sanggup nyucinya ditambah kakak-kakak dan baju ortunya huhu. Lemah aku tuuu

    Ooo gitu toh ilmunya. Aku ga ngeh berita-berita gini. Tapi buat belajar, jadi influencer emng kudu lihat brand yang kerjasama kudu sesuai dengan pribadinya

    • Gapapa mak, yang penting emaknya nggak stress karena kecapekan nyuci hihi.
      Iya mak, ini pelajaran juga buat saya sih. Kalau kerjasama harus diteliti lagi apakah sesuai dengan nurani endak.

  25. Sumarti says:

    Wahaii baginda dunia maya, terima kasih info ghibah onlinenya *hahahaha, dikeplak juga aku nih*

    Tapi btw soal stainless sedotan, aku kaoan hari baca bahwa proses pembuatannya justru yang tidak ramah lingkungan, bahkan tingkat tidak ramahnya jauh di atas proses pembuatan sedotan plastik, jadi bagi sebagian aktifis lingkungan stainless juga malah BIG NO katanya, seraching deh

    Hanya urun pendapat sih

    • Nyiahahahaha, ghibah online.
      Iya nih mak, aku tadi juga baru baca soal proses pembuatan sedotan stainless justru emisinya tinggi. Baru baca hari ini sih. Emang paling bener tuh kokop langsung dari gelasnya hahaha. Kalau terlalu dingin atau panas ya cukup disendokin saja. Lebih ramah lingkungan kan ya.

Sharing yuk!