GIVEAWAY – Sebuah Kompas Pemandu Untuk Kalian yang Sudah (Akan) Menjadi Ayah Ibu

Untuk setiap perjalanan kita memerlukan peta penunjuk arah, bahkan membesarkan anak pun membutuhkan kompas pemandu. Karena parenting adalah petualangan sepanjang masa yang tak kenal kata berhenti, maka siapkan dirimu!

IMG_20150506_105639

Jika ditanya petualangan apa yang paling mendebarkan sepanjang hidup, saya akan menjawab dengan 2 hal. Yang pertama adalah petualangan di dunia pernikahan, sedangkan yang kedua adalah petualangan membesarkan anak. Keduanya adalah petualangan yang sungguh menguras emosi, melelahkan jiwa, namun juga menumbuhkan banyak cinta serta membuat saya kaya rasa. Kali ini saya akan membahas petualangan yang kedua.

Mengandung dan membesarkan anak itu ternyata sulit saudara-saudara, saya sudah mengalaminya. Meskipun banyak orang mengalami fase mangandung, melahirkan, dan merawat buah hati, tetap saja kisah masing-masing orang berbeda.

Kalau boleh curhat, dulu saat tau bahwa saya positif mengandung, saya sempat stress. Nyonya muda belum siap punya anak, masih pengen keluyuran, eh sama Tuhan malah langsung dikasih. Jujur saat itu perasaan saya campur aduk, dan yang pasti gamang. Saya merasa belum siap menjadi ibu.

Beruntung saya memiliki support system yang oke punya, yang tidak memarahin dan mencela melainkan mendukung dan menguatkan saya dalam segala kondisi. “Stay calm, you’ll be a great mom,” begitu kata mereka menenangkan saya. Pada masa itu akhirnya saya membaca sebanyak-banyaknya mengenai seluk-beluk kehamilan dan parenting.

Ternyata meski tidak sama plek 100% dengan yang terjadi pada saya, membaca artikel-artikel tersebut sungguh mencerahkan.  Setidaknya saya tak lagi menjadi pejalan yang buta dan ngawur, karena saya sudah mendapatkan kompas penunjuk arah yang akan memudahkan perjalanan saya dalam membesarkan buah hati.

dear ayah dan bunda 1

Belum lama ini saya kembali membaca sebuah buku yang sangat bagus, berjudul “Dear, Ayah dan Bunda” karangan Mbak Yenita Anggraini. Dan saya menyesal, mengapa buku ini baru terbit sekarang. Coba kalau terbitnya saat saya masih mengandung Renjana 3 tahun lalu, pasti akan sangat membantu.

Buku “Dear, Ayah dan Bunda” merupakan buku parenting yang berisi tentang diary pertumbuhan buah hati mulai usia 0-5 tahun. Buku ini berisi tentang “panduan” bagaimana menghadapi kehamilan dan juga bagaimana membesarkan dan mendidik anak.

Setiap bab dalam buku ini dibuka oleh narasi dengan sudut pandang anak yang akan membuat orangtua tahu bahwa selama ini tu yang ada dalam pikiran anak beda dengan kehendak kita. Seolah-olah kita diajak membaca curahan hati di kecil. Dan penjelasan di bab tersebut adalah tentang apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghadapi si kecil.

Sebagai contoh, dalam bab “Don’t Touch” (hal 169), si kecil curhat bahwa dia tidak suka dipegang ataupun dicium oleh sembarangan orang. Karena itu ayah dan bunda tidak bisa memaksa mereka untuk berjabat tangan atau mau dicium oleh orang-orang yang membuat si kecil tidak merasa nyaman. Untuk bagian ini sudah saya praktekkan sedari Renjana bayi. Saya selalu menegur orang yang selalu towal-towel maupun memaksa menggendong dia padahal dia tidak mau.

Hal lainnya yang sedang saya alami adalah bagaimana menyikapi ketakutan anak akan monster (hal 174). Akhir-akhir ini bocah sering masuk ke kamar dan berteriak “Bibuk, Re takut. Ada monster besar hiiiiy”. Saat saya tanya monsternya mana dia akan menunjuk tas keril besar milik ayahnya yang dicantolin di tembok, “itu ada monster tas, matanya besar, mulutnya besar, nanti maem Re, hauuum”.

Awalnya saya sering tepok jidat, “hadeeeh, ni bocah drama apa lagi,”. Tapi setelah membaca buku ini saya jadi tahu bagaimana harus bersikap. Ternyata rasa takut akan monster itu adalah hal wajar yang kerap dialami anak-anak. Dan tugas kita sebagai orang tua adalah harus meresponnya dengan benar supaya ketakutan itu tidak berlebihan.

dear ayah bunda 2

Selain dua bab tersebut, masih banyak bab-bab menarik lainnya. Berhubung Renjana sekarang nyaris 3 tahun, maka saat membaca bab-bab awal yang berisi soal kehamilan dan bayi usia 1 tahun membuat saya flash back. Ah andai sudah punya buku ini dari dulu.

Saya suka buku ini karena gaya bahasanya sangat cair dan membumi, jauh dari kata-kata maupun istilah kesehatan dan psikologi yang kadang asing. Membaca buku ini membuat saya merasa sedang mendengarkan obrolan seorang kawan. Menasehati tanpa terkesan menggurui. Sungguh ini buku yang bagus untuk dijadikan rujukan saat membesarkan buah hati.

Nah, bagi kawan-kawan yang penasaran dengan isi keseluruhan buku ini, saya mau bagi 1 buku gratis nih. Caranya gampang banget. Kawan-kawan cukup menjawab pertanyaan ini:

“Jika kalian menjadi saya, apa yang akan kalian katakan saat menghadapi bocah yang ketakutan dengan monster tas?”

  1. Tulis jawabanmu di kolom komentar postingan ini. Jangan lupa cantumkan nama, alamat email, serta akun social mediamu (bisa twitter, instagram, atau facebook)
  2. Follow akun twitter @divapress01 dan @elisabethmurni atau like fan page Penerbit DIVA Press. Misal nggak follow saya juga nggak apa-apa sih, just feel free.
  3. Share info giveaway ini di akun social mediamu

Giveaway ini berlangsung sejak tanggal 11-17 Desember 2017. Pemenang akan saya umumkan pada 18 Desember 20017 melalui akun twitter @elisabethmurni, instagram @elisabethmurni, dan facebook Elisabeth Murni. Nantinya pemenang juga akan saya hubungi melalui email. Hadiah akan dikirim ke alamat pemenang di wilayah Indonesia.

Betewe jawabnya woles aja, enggak usah serius-serius banget ya kawans. Ini enggak ada salah maupun benar, kok. Nanti pemenangnya dipilih suka-suka oleh saya. Oya, siapa saja boleh ikutan giveaway ini dong, gak cuma yang udah nikah dan punya anak. Jadi nunggu apa lagi? Yuk ah ikutan jawab di kolom komentar!

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

22 Responses

  1. Endang says:

    Aku katakan gini, “dek monsternya kita serang yuuk.kita kan berani”

  2. Tari Noviana says:

    Nama: Tari Noviana
    Email: Novina08@gmail.com
    Twitter: @noviana_tari

    Jawaban: Pertama, saya bakal coba ngomong pelan-pelan ke si dedek. Bilang, kalo sebenarnya monster tas itu monster yang baik. Yang selalu bantu ayahnya bawa barang-barang dan ga ngeluh. Biar si dedek merasa lebih ‘akrab’ sama monster tas, saya bakalan minta dia untuk kasih sebuah nama buat si monster. Misalnya, karena warnanya hitam, namanya jadi Blackie. Hehe. Semoga dengan gitu si dedek ga takut lagi. :)

  3. Laila says:

    Nama : Lailatu Udngiati
    Alamat email : lailatu.udngiati@gmail.com
    Akun fb : Udngia laila
    Jawaban : “Nggak papa sayang,tasnya jadi monster kalo kamu lagi nakal aja,makanya jangan nakal ya..” hihihi 😀

  4. amijasmine says:

    Mungkin aku akan kasih jawaban seperti ini:”Itu bukan monster sayang,itu temannya Ayah. Kemanapun Ayah pergi pasti tas itu ikut. Kalau dia temannya Ayah,berarti dia orang baik. Jadi Re ga perlu takut.” trus aku peluk deh biar Re ga takut.
    Email:ami.oenpao@gmail.com
    Twitter:@ami26jasmine.

  5. Didit says:

    Hmmm…
    Masah sering cerita kalo dia lihat sesuatu yang serem sih. Klo misal dia lihat monster tas, mungkin aku bakal ngerespon kayak biasanya..
    “Wah..mana monsternya? Serem ya? Coba ibuk tanyain dulu itu mosnternya mau ngapain di sini”
    Trus bikin sandiwara hehe..
    “Dek, kata monsternya, dia bukan mau maem kamu kok, cuma pengen maen katanya”
    Trus kalo dia masih takut, aku bilang “ya udah nanti ibu bilangin monsternya ya klo kamu takut, biar dia pulang”
    Trus pas si anak ga lihat, pindahin tas nya. Hohoho…

    email: rakhmawity@gmail.com
    IG: @didiiith

  6. Lusi says:

    Waaa blogku juga lagi ada blog tour buku & giveaway. Ikut yuk! :))
    Ini bocah umur berapa ya? Se bre kali ya? Aku bilang aja, “Monsternya serem karena lagi kezel, nggak suka digelatakin sembarangan, ntar keinjak kan sakit. Yuk, kita taruh di meja belajar.”
    Email: burselfwoman@gmail.com
    Ntar kalau dapet bukunya, mau aku hadiahkan ke emak2 yg bentar lagi pd mau lahiran. :))

  7. azer says:

    bayi gw langsung gw masukin tas.

  8. Ilma lailatul farida says:

    Saya akn ktakn bhwa, imjinsi mreka sgt baik, bgus llu mnjlskn bhwa tu hny tas ayh. Llu dijelskn bgian yg dsebut mta tu p dn kgunnaanny untuk pa, bgtu pla yg dmksud mulut jug, dsb. Sehingg dia tk prlu tkut. Lok ttp tkut kita buat dy mmegngny untk buktikn bhwa tu hny tas dn tdk jhat. Tdk hdup. Tdak memknnya. Dgn tu dy akn phm n tdk tkut lgi dgn bnda2 imjinasinya. Ktkutn ank tu cnderung krn kta dr org dsekitrny. Spt adik sya, dy sllu dtkuti cicak olh ibuny jd akhire dy tkut dgn cick pdhl dgn hwan lain sgt suka.
    Fb : @ilma lailatul farida
    Email : ilmalailatulsasindo@yahoo.com
    IG : ilma_fadina
    Lok dpt buku ini, untk pgetahuan sya yg akn mnikh. :)

  9. Pernah dengar ada tulisan bahwa banyak orang jahat muncul dari orang baik yang tersakiti. Monster pun demikian. Ada beberapa karakter monster di beberapa film muncul bukan karena terlahir jahat. Tapi karena saat menjadi baik, dia tersakiti, kesepian, ga punya teman, bahkan selalu didzalimi.
    Maka ketika si anak ketakutan menghadapi monster, arahkan untuk jangan mengganggunya. Lihat dulu apakah monster itu baik atau jahat. Jika terlihat jahat, jangan dekati karena bisa menyakiti. Jika terlihat berteman, ajak untuk mendekat. Ajak anak untuk menyayangi tas agar tidak menjadi monster tas yg jahat dan kesepian.

    adibwah07@gmail.com / Twitter : @adibwah07

  10. armadita says:

    Re, ayo kita main monster2an biar si monster itu jadi temen kamu. Re mau jadi monster apa?
    IG: @armaditafikriani

  11. Ucig says:

    Itu bukan monster deek, tapi tas itu adalah barang yg bisa kamu taruh mainan di dalamnya. Ini kantongnya gede lho dek, semua mainan kamu belum tentu cukup sih. Coba lihat dulu siniii 😀
    Ig:@uciggg
    Email; ucigblog@gmail.com

    Tertarik deh mba sama bukunyaaa

  12. Wah pas banget lagi butuh beginian untuk bonding ngobrol sama anak2. Keponakan yang berumur 7tahun kritis sekali dengan pertanyaan dan imajinasinya tinggi.

    Kalau Re takut dengan ransel yang dianggapnya sebagai monster, saya akan mengajaknya mendongeng atau bermain peran dengan menggunakan ransel itu. Dia bisa menyentuh ransel tersebut dengan bebas sehingga bisa membedakan antara benar-benar ransel dengan “monster” saat bermain peran. Agar tidak membekas dan dia bisa mengembangkan imajinasinya, kami akan menggunakan ransel untuk topik bercerita laib yang lebih menyenangkan sehingga Re lebih enjoy dan tidak takut lagi tentang suatu benda.

    Imajinasi anak-anak sangat hebat sekali, makanya tugas ibu dan keluarga untuk mendamping agar imajinasinya tidak membuatnya takut bahkan jangan sampai “membunuh” imajinasi tsb.

    Ah, semoga bisa mendapat bacaan renyah ini.

    Hallo Mbak, saya udah follow semua akun dan share ya. Mari saling berkunjung

    Twitter: @cahayatheprince
    Fb: cahaya theprinces
    IG: @cahayatheprinces
    Email: cahayatheprinces89@gmail.com

  13. Ayu Utami says:

    Ayu Utami
    Instagram & Twitter : @mamaayuutami
    mamaayuutami@gmail.com

    Re, nda apa – apa nak, monsternya baik kok, sengaja di tas besar papa, supaya kalau ada yang nakalin papa, nanti dimarahin sama monsternya ☺️

  14. Artha Amalia says:

    “Eh ada monster tas? Mana?
    Yuk kita temui. Gak perlu takut, kan sama Ibun. Matanya besar yah? Mulutnya besar?
    Kenalan dulu ajah. Belum tentu si monster tas jahat. Siapa tahu si monster malah jagain tas Ayah dari orang jahat, ngelindungi Ayah. Ya kan?
    Matanya besar buat ngawasi orang2 di sekitar Ayah. Mulutnya besar buat nakut2in orang jahat. Kalau sama Dedek, pasti baik. Kan Dedek anak Ayah…
    Jangan takut lagi yah, Sayang…”

    Cukup beri pengertian yang positif. Kalau bisa percaya dengan imajinasinya, ikuti lalu arahkan agar lebih berani. Kalau kitanya gak percaya, si kecil pasti sedih dan kebingungan menghadapi ketakutannya. Kasihan kan.

    nama: artha
    alamat email: artha.amalia@gmail.com
    Twitter: @artha_amalia

    😉

  15. Untung imajinasinya sebatas monster, kalau udah sampai kenangan masa lalu sedih itu mbak :(((

  16. heru says:

    dengan mengingatkan monster itu membantumu tumbuh untuk menjadi dewasa

  17. Retno Indri Lestari says:

    Monster …. mana kakak??? Kakak, monster itu kan yang sering ditonton kakak di tipi ….. dia itu baik, nggak serem dan jahat, lagian si monster di dalam tas cuma numpang tidur kok dan pengen di gendong kemana-mana :-) lagian kakak tidak sendiri ada kita disini nemani kakak.

  18. Nurul Aulia says:

    Nama: Nurul Aulia
    Email: rabiatul_al.adawiyah@yahoo.com
    Fb: Nurul Aulia

    Saya akan jawab:
    “Mana monster nya, Nak? oh.. itu bukan monster sayang, itu adalah tas Ayah. Tempat untuk menyimpan barang-barang Ayah. Mainanmu juga bisa disimpan di situ Nak :), dan tas itu sangat bermanfaat lho untuk kita :)”.

    Menurut saya, mengatakan bahwa tas itu adalah monster akan menambah liar imajinasinya dan tidak menutup kemungkinan juga bahwa ia akan beranggapan tas Ayah itu adalah monster (terlepas dari monster jahat atau baik nya). Jadi kita coba arahkan imajinasi anak agar pengetahuannya semakin bertambah. *cmiiw bu ibu :)

  19. Hmm kalo aku bakalan pegang dua tangannya (nenangin dia dulu biar g kabur) dulu trus suru buka mata sambil liat tas yg kata dia monster (biasanya kebawa misal pas dia baca buku/liat tv)👾 (g maksa juga buat buka si kalo dia keburu takut.. Tapi biasanya kalo bocil takut tutup mata tapi masih melek dikit aslinya 😁) jadi buat adegan ngbrol: “eh Elan lagi takut ya.. Kenapa? Serem… Mana to monsternya…? Siapa nama monsternya le? (misal jawab Gorgon yg dia liat di buku/tv).Oooh si Gorgon kaya yang kamu lihat di TV/buku po? Eh emangnya ada matanya, mana matanya Lan? Eh matanya ada berapa…? Eh ada ga giginya..putih/kuning? Wah kuning g pernah sikatan ya.. Kalo Elan putih/kuning?” Dsb.. Biasanya sih bakalan lama lama lupa n mau jawab buka mata.. Nah trus akhirnya ya bilang “eh kok si monster mau dipake Ayah… Oalaaa itu cuman tas nak, bukan monster. Sama kaya tas nya Elan.. Bedanya tas Ayah digelantungin jadi bikin serem yaaa, menurutmu jadi kaya monster gorgon ya. Ok deh mama pindahin yak biar g gelantung disitu. Jadi sekarang sudah tidak apa-apa, itu tas Ayah, yuk tar kita kasi tasnya ke Ayah yaa. Elan anak pemberani horeee, yuk mana tasmu yuk pake tasmu” sama terakhir tak bilang “Lan, kalo si Gorgon di TV dah kalah lhoo tadi Mama liat, kalah sama anak yg pemberani kaya Elan gini.. Trus jadi baik deh si Gorgon… Horeee” udah deh kek gtu kayaknya yg bakalan aku bilang hahahaha…

    Nama: adhistia
    Fb: Adhistia Laksmiwati
    Ig: @adhistia laksmiwati
    Email: laksmiwatiadhistia@gmail.com

  20. nunaalia says:

    “Jika kalian menjadi saya, apa yang akan kalian katakan saat menghadapi bocah yang ketakutan dengan monster tas?”

    Aku akan bilang kalau itu hanya tas, benda mati dan tidak ada monsternya. Aku akan menunjukkan tas itu dan mengajaknya untuk memegangnya langsung, membuatnya berani. Kalau perlu memberi contoh dengan memukul-mukul tas itu, sehingga dia bisa melihat kalau tas itu tidak akan balas memukul. Biasanya anak kecil kan suka meniru apa yang kita lakukan. Kalau dia sudah berani untuk menyentuh tas itu, walau dengan memukulnya, dia akan mulai percaya kalau tas itu memang tidak akan membalas pukulannya, dan dia tidak perlu takut dengan tas itu. Hal ini bisa dilakukan berulang-ulang supaya keberaniannya terus bertambah dan rasa takutnya bisa hilang.

    Nama: Aulia
    Email: auliyati.online@gmail.com
    Twitter/ Instagram: @nunaalia

  21. Bety Kusumawardhani says:

    nama: bety kusumawardhani
    email: aki.no.melody@gmail.com
    twitter: @bety_19930114
    FB: Bety Kusumawardhani

    Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja sayang. Belum tentu orang yang buruk rupanya itu seseorang yang tidak baik hatinya. Monster tas boleh menakutkan fisiknya, boleh jadi hati dia justru baik. Bukankah bunda sudah mengajarkan padamu untuk tidak membedakan fisik dalam berteman? Jadi, mulai sekarang berteman baiklah dengannya.. Kamu juga boleh kok menunjukkan dan menceritakan pada bunda seperti apa monster tas itu.. Boleh digambar atau diceritakan langsung pada bunda. (ini membantu anak kreatif mengembangkan imajinasi supaya nantinya bisa jadi penulis, ilustrator atau story teller)

Sharing yuk!