Jamu, Jejak Gemah Rempah Mahakarya Indonesia yang Terlupa

Seorang gadis kecil nampak ketakutan saat melihat ibunya membungkus parutan temulawak, kunyit, dan beberapa rempah yang tidak dia ketahui namanya dalam selembar kain bersih. Dia tau, nantinya ramuan jamu itu akan diperas dan dicekokkan ke dalam mulutnya dengan paksa. “Supaya doyan makan dan tidak cacingan,” begitu jawab ibunya tiap kali dia tanya. Hingga kelak dia duduk di bangku SD, tradisi minum jamu cekok itu terus dilakoninya. Ya, gadis kecil yang selalu dicekokki itu adalah saya.

Aneka rempah sebagai bahan baku pembuatan jamu

Aneka rempah sebagai bahan baku pembuatan jamu dan jamu rpoduksi Nyonya Meneer

 

Entah kapan tradisi meracik dan minum jamu untuk tujuan kesehatan, kebugaran, dan kecantikan mulai ada di bumi nusantara. Mungkin telah berjalan ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun lalu. Satu-satunya petunjuk yang bisa dijadikan bukti bahwa tradisi meracik dan meminum jamu sudah ada sejak jaman dulu adalah ditemukannya Prasasti Madhawapura yang di tulis pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya profesi peracik jamu yang dikenal dengan nama acariki.

Kehancuran Kerajaan Majapahit tak lantas membuat tradisi meminum jamu berhenti. Tradisi ini terus diwariskan oleh warga keraton secara turun-temurun. Lambat laun tradisi minum jamu tidak hanya dilakukan keluarga kerajaan namun juga dikenalkan kepada masyarakat luas. Resep jamu pun akhirnya menjadi harta pusaka masyarakat dan warisan budaya yang terus bertahan hingga kini.

Jamu dan rempah merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab sebagian besar bahan utama pembuatan jamu adalah tanaman rempah yang tumbuh subur di Indonesia. Sebagai contoh sebut saja pala, adas, palasan, kapulaga, kunyit, jahe, temu lawak, temuireng, temu kunci, kemukus, jintan, dan masih banyak lainnya. Tanaman-tanaman tersebut memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Adalah Nyonya Meneer, wanita yang mempelopori industri Jamu di Indonesia secara serius sejak tahun 1919. Berawal dari suaminya yang sakit dan tak kunjung sembuh, perempuan ini lantas meracik aneka rempah menjadi jamu. Rupanya perpaduan antara keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya mampu menciptakan obat yang bisa menyembuhkan suaminya. Keahliannya pun mulai tersebar dari mulut ke mulut. Akhirnya banyak masyarakat Semarang yang minta di buatkan jamu. Dari situlah sejarah perusahaan jamu cap potret Nyonya Meneer bermula.

Dari usaha rumahan, kini Jamu Nyonya Meneer telah menjadi perusahaan tingkat dunia yang mengekspor produknya ke berbagai negara seperti Australia, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Arab. Bahkan pada tahun 2000 jamu Nyonya Meneer membuat prestasi dengan meluncurkan produk fitofarmaka (obat herbal yang sudah lulus uji klinis) dengan merek Rheumaneer. Di tengah gempuran obat-obatan kimia yang semakin marak, keberadaan produk fitofarmaka asli nusantara tentu saja menjadi angin segar yang menyejukkan.

Diorama proses pembuatan jamu di Museum Jamu Nyonya Meneer

Diorama proses pembuatan jamu di Museum Jamu Nyonya Meneer

Selain memiliki pabrik jamu, perusahaan Nyonya Meneer juga mendirikan sebuah museum jamu pertama di Indonesia yang terletak di Jl Raya Kaligawe, Semarang. Di museum jamu ini pengunjung bisa melihat aneka diorama dan koleksi pribadi Nyonya Meneer, tanaman simplisia, melihat proses pembuatan jamu secara tradisional, hingga belajar tentang sejarah jamu di bumi nusantara. Menurut pemandu museum, wisatawan yang mengunjungi tempat ini tidak hanya dari Indonesia melainkan banyak diantaranya dari luar negeri. Biasanya turis asing yang berasal dari Amerika, Belanda, Jerman, Perancis, Swiss, Australia, Belgia, dan negara-negeara Asia itu datang menggunakan kapal pesiar. Setelah bersandar di pelabuhan Tanjung Perak, mereka akan singgah ke museum ini untuk melihat proses pembuatan sekaligus mencicipi jamu seduhan dengan aroma khas. Dari tahun ketahun, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Museum Jamu Nyonya Meneer pun terus bertambah.

Proses pembuatan jamu pilis secara tradisional

Proses pembuatan jamu pilis secara tradisional

Melihat antusiasme wisatawan asing mengunjungi Pabrik Jamu Cap Potret Nyonya Meneer tiba-tiba terlintas banyak hal besar di pemikiran saya. Sebagai negara nomor 2 di dunia setelah Brazil dalam hal kekayaan tanaman obat dan didukung dengan tanah Indonesia yang subur, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembalikan kejayaan rempah-rempah seperti masa dulu. Namun bedanya kali ini rempah-rempah tersebut diolah dalam bentuk jamu.

Bayangkanlah jika banyak perusahaan yang bersinergi untuk menciptakan produk jamu dengan standar uji klinis serta packaging yang menarik, pastinya hal ini akan menjadikan produk jamu diterima oleh masyarakat. Jika semakin banyak warga dunia yang mengenal jamu, maka secara tidak langsung akan berimbas pada perekonomian serta pariwisata Indonesia.

Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah dan seluruh stake holder masyarakat jika jamu telah mendunia:

1. Mengenalkan budaya dan minum jamu

Jika masyarakat Jepang memiliki tradisi minum Ocha dan masyarakat Tibet dengan budaya minum Po Cha, mengapa Indonesia tidak bisa mengenalkan budaya menyeduh dan minum jamu kepada wisatawan? Ada banyak jamu yang aman diminum kapanpun seperti serbat, kunir asem, maupun beras kencur. Jika dikemas dalam paket yang menarik, saya rasa ritual minum jamu bisa menjadi magnet yang mengundang wisatawan asing untuk berbondong-bondong mengunjungi Indonesia.

2. Pesiar jalur rempah nusantara

Rempah-rempah sebagai bahan dasar pembuatan jamu memiliki sejarah yang sangat panjang, bahkan jauh lebih panjang dibanding sejarah Indonesia sendiri. Mengunjungi perkebunan Pala di Banda Neira, perkebunan andaliman di Sumatra, atau pohon cengkih tertua di Ternate dan belajar sejarah rempah nusantara yang menjadi bahan utama pembuatan jamu tentunya akan menjadi hal yang menyenangkan bagi wisatawan. Selain pesiar mengunjungi pusat rempah-rempah, wisatawan pun bisa diajak untuk mengunjungi daerah penghasil jamu guna melihat proses pembuatan jamu.

Mungkin mimpi-mimpi saya terlihat mengawang-awang. Namun saya percaya, jika ada kerjasama yang yang solid dari semua stake holder serta keseriusan pemerintah untuk melestarikan dan mematenkan jamu sebagai salah satu bagian Mahakarya Indonesia maka hal tersebut tidak hanya menjadi mimpi. Dan kita pun akan kembali melihat kejayaan Gemah Rempah Mahakarya Indonesia di pelosok dunia.

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

3 Responses

  1. angki says:

    Wah ikutan acara ini ya mbak mantap dah cakep abisss ^-^

  2. Aneh gak sih kalo cowok suka juga sama jamu

    • ranselhitam says:

      Ah menurutku enggak aneh. Jamu kan nggak ada gendernya ahahaha, jadi cowok cewek boleh dong minum jamu 😉

Sharing yuk!