#DearRe Kamu Boleh Jadi Anggota Mapala, Nak

SONY DSC

Nang, saat ibu menulis surat ini kamu baru saja merayakan ulang tahunmu yang ke-2. Kita semua tertawa bahagia, tiup lilin, potong kue, dan krim coklat berlumuran di wajahmu. Melihatmu yang bertumbuh dengan pesat dan sehat membuat ibu menjadi orang tua yang paling berbahagia.

Tapi tahukah kau nang? Hanya berjarak beberapa hari dari kegembiraan kita ada ibu lain yang berduka. Ibu tersebut kehilangan putra semata wayangnya. Putra terkasihnya itu meninggal usai mengikuti pendidikan dasar untuk menjadi anggota mapala. Bayangkan nang, betapa hancur dan sedihnya hati seorang ibu mengetahui putra satu-satunya, kebanggaannya, tumpuan harapannya meninggal dengan cara yang mengenaskan.

Ibu tak bisa membayangkan jika hal ini terjadi pada ibu. Mungkin ibu akan limbung, hancur, dan hilang harapan. Kehilangan belahan jiwa adalah hal yang tidak akan pernah ibu inginkan.

Berawal dari kejadian tersebut lantas banyak asumsi beredar di lini masa. Seperti bola es yang menggelinding dan terus membesar. Semua mencaci, semua menyalahkan, semua menghujat, semua menghakimi dan sampai pada satu kesimpulan. Mapala itu segerombolan orang yang tak punya kerjaan. Mapala itu nggak guna, hanya kebanyakan gaya.  Mapala itu brengsek. Mapala itu pembunuh. Duh, ngilu benar hati ibu mendengar kata itu.

Ibumu ini bukan anggota Mapala nak. Namun ibu memiliki banyak karib dari golongan mereka. Pekerjaan yang ibu geluti pernah membawa ibu bersinggungan dengan kawan-kawan mapala. Bahkan bapakmu, bapak yang darahnya mengalir di nadimu pernah menjadi ketua Mapala pada jamannya. Tapi bapakmu dan kawan-kawan ibu bukan orang brengsek dan mereka bukan pembunuh. Yang ibu tau mereka adalah orang-orang yang begitu mencintai kehidupan dan menjalani semuanya dengan sepenuh jiwa.

Dari mereka ibu belajar banyak tentang bagaimana menghargai proses, tentang bagaimana menghargai waktu, tentang bagaimana menghargai alam dan manusia, tentang bagaimana bersikap disiplin, tentang bagaimana menghargai hidup. Karena itu ibu cukup ngilu saat semua memukul rata bahwa mapala itu pasti brengsek.

Nang, dengan meninggalnya 3 peserta The Great Camping MAPALA UNISI ini semua orang lantas mencemooh keberadaan mapala. Mereka berkomentar sesuka hati tanpa mau melihat dan menunggu hasil investigasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya mapala salah dan harus dibubarkan. Dan mereka memukul rata semua mapala. Padahal kan mapala yang sesungguhnya tidak seperti itu.

Bahkan ibu percaya, MAPALA UNISI pun bukanlah organisasi yang mencetak para penjagal seperti yang mereka bilang. Sebagai salah satu mapala tua dan senior di Jogja sepak terjang mereka tak perlu diragukan lagi. Mereka kerap hadir di tiap bencana yang ada. Menjadi orang-orang terdepan yang masuk ke daerah berbahaya untuk menyelamatkan kehidupan dan membantu warga. Persoalan kemanusiaan adalah salah satu tugas yang mereka emban.

Dalam melakukan diklat dasar setahu ibu ada SOP yang harus dipatuhi. Bukan asal bentak, bukan asal hukum, bukan asal pukul. Dan pastinya Mapala UNISI memiliki itu semua. Prosesur yang harus mereka patuhi. Jika pada akhirnya terjadi kematian seperti ini pastilah ada kesalahan demi kesalahan yang tak disadari, ada prosedur yang  tidak dipatuhi, ada oknum yang tak mampu mengontrol diri dan emosi.

Ibu sendiri mengutuk tiap kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan dengan alasan apapun. Kekerasan fisik yang menyebabkan kematian adalah perbuatan yang biadab. Tak ada pembenaran untuk hal tersebut. Namun ibu juga tak mau lantas menghakimi oknum yang diduga melakukan kekerasan dengan sesuka hati. Mencerca mereka, merisak mereka habis-habisan, dan mengharapkan hal buruk juga terjadi pada mereka bukanlah solusi. Sebelum ada hasil investigasi yang dikeluarkan secara resmi, ibu yang tak tahu apa-apa soal pendidikan dasar di mapala dan soal kondisi alam yang sebenarnya tak akan menghakimi. Biarlah aparat penegak hukum yang bekerja. Beri mereka waktu. Karena ini hal yang kompleks dan tak semudah membalik telapak tangan.

Ibu berharap semoga apa yang sedang terjadi ini tak lantas menyurutkan langkah kalian para anggota mahasiswa pecinta alam. Justru inilah saat yang tepat untuk introspeksi diri. Melihat lagi apakah yang dikerjakan selama ini benar atau salah. Apakah sistem pendidikan yang dilakukan masih relevan dengan zaman atau tidak. Inilah saat terbaik untuk melongok ke dalam, mengevaluasi, lantas memperbaiki. Tunjukkan pada masyarakat bahwa mapala tak semenakutkan yang dituduhkan. Buktikan bahwa kalian ada untuk menebar kebaikan dan menciptakan generasi yang unggul. Panjang Umur Pecinta Alam Indonesia!

Nak, sekarang satu-satunya yang bisa ibu lakukan adalah berdoa. Semoga keluarga yang ditinggalkan oleh putra-putra terkasihnya mendapatkan penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup. Semoga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan kembali selepas putranya pergi.

Dan untuk kamu nak, jika kelak kau besar dan ingin mengikuti diklat dasar untuk menjadi anggota mapala ibu tak akan pernah melarangmu. Lakukanlah apa yang menjadi pilihanmu. Hanya saja kamu harus mengukur batas kemampuan diri. Kalau mau jadi anggota mapala yang harus banyak-banyak gerak dan latihan, jangan cuma mengurung diri di kamar sambil mainan gadget. Deal?

 

Penuh cinta,

ibumu

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

22 Responses

  1. Rotun DF says:

    Halo Mba, salam kenal.
    Setuju dengan tulisan ini. Meski kita mengutuk dan menyesalkan apa yang terjadi, nggak bijak juga jika kita akhirnya menggeneralisir bahwa semua mapala adalah brengsek.
    Tapi begitulah masyarakat sekarang, Mba. Senang sekali membawa2 lembaga atau komunitas, padahal yang melakukan kesalahan adalah oknum :(. Semoga kasusnya cepat selesai, dan pelaku mendapat balasan yang seadil-adilnya.
    Saya tambah sedih pas baca katanya Rektor UII mengundurkan diri TT.

    • Salam kenal juga, Mbak.

      Iya, yang pengen saya tekankan sih itu, jangan pukul rata semua mapala. Bahkan UNISI pun tidak buruk, melainkan oknumnya yang bersalah.

      Rektor dan Wakil Rektor III, mbak. Sedih ya. Semoga semua masalah bisa terselesaikan dengan baik.

  2. Sepakat sama yg mba bilang. Kita gak bisa menggeneralisasi kalo semua mapala bgitu, kan. Yg terjadi ya ulah oknum.. Setuju jg mba aku pun akan mendukung passion anakku nanti.. :)

  3. Saya anggota mapala dari kampus tahun 2008. Memang menyakitkan saat ikut diksar, tapi setelah bertahun-tahun menjadi anggota mapala sangat berarti gemblengan yang diberikan selama diksar.

    • Aha, kisah yang selalu saya dengar dari kawan-kawan mapala juga seperti itu. Nggak ada diksar yang enak, tapi itu akan menghasilkan sosok yang tangguh. Tapi kalau ada kekasaran yang diluar batas memang patut disalahkan.

  4. Biarpun saya bukan Mapala, tapi banyak teman saya sejak SMA yang memang seorang Mapala. Sampai sekarang kami masih akrab, saling berkomunikasi, tidak jarang mereka mengajak saya untuk sedikit latihan atau sekedar kemping.

    Mapala adalah salah satu cara bagaimana mereka menikmati hidup dengan sederhana, dan tahu seberapa batas kemampuannya.

  5. Broe says:

    Terimakasih akak Elli untuk cinta akan Mapala yang kakak tuang dalam tulisan pesan untuk generasi.
    Aku bangga menjadi bagian dari keluarga Mapala Indonesia.

  6. christie says:

    Banyak generasi muda berkarakter positif yg terbentuk dari mapala….

  7. Agus Susanto says:

    saya jg dulu pernah jadi ketua pecinta alam bunda elli dan sedih banget dapat info meninggalnya 3 mahasiswa di UII, sedihnya karena yg kena hampir seluruh mapala di Indonesia, sampe2 temen kerja banyak yg nanya emank kmu dulu dipukulin gitu juga ya gus.? kok kamu gak mati sih.? tpi ya sudahlah..

    Salam hangat dari om buat si kecil ya bunda eli.. :)

    • Iya mas, orang-orang yang nggak tau seperti apa kehidupan dan pendidikan di dalam OPA biasanya akan berkomentar dengan mudah dan sinis. Semoga lewat kejadian ini semua pihak jadi bisa belajar dan mengevaluasi diri.

      Salam disampaikan, terimakasih om :)

  8. charles says:

    Salam kenal…tulisan menarik..sy banyak belajar dari blog ini..mohon kesediaan bertandang dan meninggalkan jejak komentar pada tulisan saya ini terima kasih http://charlesemanueld.blogspot.co.id/2017/01/teman-terbaik-membidani-ekspresi-diri.html

  9. cumilebay says:

    Semoga banyak yang belajar dari kejadian ini yaa kak … biar anak cucu kita nanti ngak ketar ketir kalo mau ikut mapala

  10. Kempor says:

    Memang banyak yang brengsek,
    Memang banyak yang anjing,

    Tapi mereka sudah hilang, tak kuat dengan tanggung jawab seiring berjalannya waktu.
    Yang bertahan hanya mereka yang handal, yang kuat fisik dan mental. Mereka bersama meramu adik-adik penerus yang baru.

    Hanya saja kali ini nasib berkata lain, memanggil adik-adik penerusnya. Mereka pasti sedih, Mereka pasti tak termaafkan. Tak ada yang bergembira, tak ada yang suka Cita, jikalau ada adik yang pergi. Walaupun bukan adik sedarah.

    Salam.

  11. Fanny F Nila says:

    Baguuuus isi suratmu mba :). terharu juga bacanya…

    semoga kedepan g ada lagi ya pengenalan dgn cara2 kekerasan.. ga ngerti dr mana sih dtgnya tradisi yg begitu :(

  12. ferry says:

    Betull sekali apa yg mbak katakan,bahwa mapala tdk seprti yg mereka tuduhkan…buktinya ada adik saya yg kuliah di makassar,dulunya dia itu seorg pemuda yg nakal yg slalu melawan org tua dan tdk bisa di atur oleh siapapun yg memberi arahan kepadanya,tpi ktika dia pulang libur,kami smua kaget dgn pembawaan dirinya yg sdh berubah 100%,dia begitu sopan,baik hati,penyayang. dan sebelum dia kembali ke makassar dia meninggalkan begitu banyak ilmu pengetahuan dan kreatifitas kepada para pemuda di kampung saya…Khususnya tentang daur ulang sampah…katanya Smua itu di dapatkan dari dunia mapala…Jdi bagi saya mapala itu betul2 wadah yg mengarahkan generasi bangsa menuju generasi yg tangguh dan mandiri…
    ##keep spirit mapala.

  13. nuriawan rhosid says:

    Saya juga bukan mapala tapi saya pengen anak anak saya kelak menjadi mapala.
    Karena pinter saja tidak cukup. Mereka harus peduli juga terhadal lingkungan dan sesamanya

Sharing yuk!