Menjadikan Kulon Progo Sebagai Magnet Baru Wisata Jogja, Mungkinkah?

Jembatan Api-Api, Kulon Progo

Jembatan Api-Api, Kulon Progo

Belasan tahun lalu, saat pertama kali menjejakkan kaki di kampus, saya ingat benar pernah mendapatkan sebuah selebaran dari kawan-kawan BEM. Selebaran itu adalah petisi yang menolak kenaikan uang SPP untuk mahasiswa baru. Dari yang tadinya Rp300.000 menjadi Rp705.000 (iya, uang semesteran saya enggak sampai sejuta).

Salah satu kalimat dalam selebaran itu kurang lebih ada yang bilang bahwa kasihan mahasiswa dari Gunungkidul dan Kulon Progo jika harus membayar biaya kuliah yang mahal, sedangkan indeks pendapatan masyarakat di kedua daerah tersebut masih rendah. Dari selebaran itu saya menyimpulkan bahwa perekonomian dua daerah tersebut tertinggal jauh dibandingkan Kota Jogja dan Kabupaten Sleman.

Saat pariwisata makin bergeliat, Gunungkidul yang awalnya terlupakan mulai dilirik wisatawan. Satu persatu “destinasi baru” bermunculan sehingga membuat tempat yang dulunya sepi menjadi begitu populer. Hal ini bisa dibuktikan tiap akhir pekan atau musim liburan, jalan menuju kawasan Gunungkidul pasti macet, kendaraan mengular dari Piyungan hingga pantai-pantai di pesisir selatan. Gunung Api Purba Nglanggeran, Cavetubing Kalisuci, Gua Pindul, Gua Jomblang, Pantai Pok Tunggal, semuanya menjadi primadona baru.

Sekarang, wisatawan yang mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta sudah tidak lagi memusatkan aktivitas mereka di Kota Jogja dan Kabupaten Sleman, melainkan menyebar ke Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Bantul. Namun sayangnya, lagi-lagi Kulon Progo terpinggirkan.

Padahal, jika mau sejenak singgah ke Kulon Progo, kita bisa menemukan banyak destinasi menarik yang tidak kalah indah dengan destinasi di Gunungkidul maupun Bantul.

Kalau kawan-kawan semua belum tahu, bolehlah saya sebutkan beberapa. Di kawasan pesisir, Kulon Progo jelas mempunyai Pantai Glagah yang identik dengan lagunanya. Bergeser ke arah barat, terdapat Pantai Congot dan Pantai Pasir Kadilangu. Meski berbeda dengan pantai Gunungkidul yang berpasir putih, pantai-pantai tersebut tetap menarik untuk disinggahi.

Pantai Pasir Kadilangu, Kulon Progo

Pantai Pasir Kadilangu, Kulon Progo

Bahkan, di tepi aliran anak Sungai Bogowonto hingga kawasan Pasir Kadilangu terdapat hutan mangrove. Site mangrove tersebut adalah satu dari dua site mangrove alami yang ada di Yogyakarta. Saat ini, selain menjadi kawasan konservasi, hutan mangrove tersebut juga dikembangkan menjadi kawasan wisata dengan bangunan-bangunan bambu yang menarik.

Dari kawasan pesisir, kini saatnya bergeser untuk menikmati pesona Perbukitan Menoreh. Di dataran tinggi ini terdapat beragam wisata alam mulai dari Kalibiru yang sangat popular di kalangan instagrammer, Ayunan Langit Pule Payung, Kebun Teh Nglingo, Waduk Sermo, Gunung Gajah, Puncak Suroloyo, Sedangsono, Gua Kidang Kencana, Gua Kiskenda, dan masih banyak lagi.

Hutan Mangrove, Kulon Progo

Hutan Mangrove, Kulon Progo

Sejauh ini, kawasan tersebut hanya dikenal oleh masyarakat lokal. Padahal potensi tempat-tempat wisata tersebut sangatlah besar. Akses yang sulit adalah persoalan utama yang menjadi alasan mengapa tempat-tempat wisata di Kulon Progo jarang dikunjungi. Selain itu, di Kulon Progo juga masih jarang hotel bintang yang bisa digunakan untuk menginap para wisatawan.

Karena itu saya termasuk yang senang tatkala mendengar bahwa bandara baru, New Yogyakarta Internatioal Airport, dibangun di Kulon Progo. Keberadaan bandara baru pasti akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di daerah Kulon Progo.

Jika selama ini di Kulon Progo masih minim akomodasi untuk wisatawan, seiring dengan pembangunan bandara, sarana dan prasarana penunjang pasti akan dibangun. Akses jalan dan moda transportasi akan semakin mudah. Terlebih rencana pembangunan akses jalan langsung dari Kulon Progo menuju salah satu situs wisata dunia, Candi Borobudur, akan menjadi pendongkrak bagi destinasi-destinasi lain yang ada di kawasan tersebut. Dengan dibukanya jalur baru, tempat-tempat eksotis yang tadinya tersembunyi akan bisa lebih dikenal publik. Wisatawan pun akan menjadikan Kulon Progo sebagai jujugan baru.

Ngomong-ngomong soal bandara baru ini, saya kemarin sempat baca-baca dan cukup takjub melihat desainnya yang megah banget. Jika selama ini sering bête karena bandara Adisutjipto yang kecil dan umpek-umpekan, bahkan saking penuhnya seringkali harus glesotan di lantai karena enggak dapat tempat duduk di ruang tunggu, maka di NYIA besok nggak bakalan kejadian.

Desain NYIA (sumber: jogja.co)

Desain NYIA (sumber: jogja.co)

Bandara baru yang sedang dibangun sekarang ini ukurannya sangat besar dan luas, bahkan mampu menampung 14 juta penumpang per tahun. Dengan runway seluas 3.250 meter, apron bandara mampu menampung 35 pesawat. Sangat jauh berbeda dengan bandara sekarang yang hanya mampu menampung 8 pesawat. Lantas berhubung bandara ini tidak lagi menjadi satu dengan pangkalan udara TNI AU,  jadinya enggak bakalan lagi pesawat komersil harus ngalah muter-muter di udara dan terlambat landing gara-gara bandara masih buat latihan Tentara AU.

Selain ukurannya yang besar, bandara internasional ini juga memiliki desain arsitektur yang ciamik. Meskipun digadang-gadang menjadi bandara modern, NYIA tidak meninggalkan unsure tradisi, justru hal itu ditonjolkan dalam desainnya supaya mendapatkan “roh” yang “njogjani”. Kelak, jika bandara sudah jadi, maka penumpang bisa melihat hamparan “jarik kawung” dari udara. Tak hanya itu, bandara pun dikonsep sebagai galeri seni yang akan memanjakan mata dan jiwa para penumpang. Menarik bukan?

Jadi kembali lagi ke pertanyaan, “mungkinkah menjadikan Kulon Progo sebagai magnet baru wisata Jogja?” dengan mantap saya akan menjawab sangat mungkin. Keberadaan New Yogyakarta International Airport semakin mempertegas keyakinan tersebut.

Btw, kalau kawan-kawan sendiri pernah piknik ke Kulon Progo belum sih?

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

7 Responses

  1. Slamsr says:

    Aku belum pernah ke kulon progo…
    karena lebih suka pantai dengan pasir putih.
    Hutan mangrove bila dikelola lebih apik, bakal rame juga seperti di semarang dan karimun.
    “Wow” untuk desain bandara barunya jogja

  2. Uwaaahhhh aku ga sabar pgn liat bandara ini jadi :D. Selama ini walo seneeeeng banget ke jogja, tp memang miris mba liat bandaranya :p. Syukurlah kalo mau dibangun yg baru. Aku sendiri blm prnh ke kulon progo 😀

  3. Deddy Huang says:

    masih banyak wisata di jogja yg belum aku telusurin, terbatasnya karena akses transport.. butuh temen2 nih yg ikutan bolang bareng 😀

    • Aku aja yang udah belasan tahun tinggal di Jogja juga masih banyak yang miss kok. Nyaris tiap bulan muncul destinasi baru soalnya. Yuk ah koh pankapan kalo ke Jogja ngebolang bareng-bareng ke tempat yang selama ini belum populer.

  4. Sangat mungkin.

    Aku baru tau di Pantai Glagah ada laguna. Ke sana itu aku masih keciiilll banget, nggak inget apa-apa tapi nggak ada yang spesial saat itu. Baru tau juga ada mangrove, hahaha.

    Btw pembangunan NYIA masih bermasalah nggak mbak? aku sebel sama orang-orang yang menolak itu. Bandara kan program pemerintah, bukan swasta. Dan bandara ini sudah jadi kebutuhan, bukan keinginan semata.

Sharing yuk!