Panggilan Kepada Seluruh Juru Gambar

source: pixabay

source: pixabay

Saya selalu takjub dengan orang yang bisa menggambar dengan bagus. Baik gambar tangan mau pun gambar digital. Beberapa kawan saya yang jago gambar ada Nona Cahaya yang memang anak seni, nona wartawan kece Amelia Ameng, Belindch yang masih sempat corat-coret di tengah kesibukannya sebagai dokter gigi, hingga Pak Puh alias Mas Hendra yang saya tau perjalanan nggambarnya kayak apa.

Melihat hasil karya mereka itu antara takjub dan iri. Takjub karena “kayaknya cuma corat-coret tapi kok hasilnya kece” dan iri karena “kok aku nggak dikarunia talenta kayak mereka sih?”. Jangankan bikin gambar yang enak dilihat, wong bikin garis aja menceng.

Tapi katanya gambar itu bukan cuma perkara talenta, ada juga terselip kerja keras. Meskipun kamu memiliki bakat, tapi kalau nggak pernah dilatih juga bakalan terpendam dan enggak muncul. Sedangkan jika kamu nggak punya bakat tapi terus berlatih, kelak akan terlihat hasilnya.

Lagi-lagi saya jadi ingat Mas Hendra. Saat saya awal mengenalnya sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, saya nggak pernah melihatnya menggambar. Lantas entah hal apa yang mempengaruhinya, mendadak dia jadi rajin menggambar. Dia selalu membawa peralatan gambar kemana-mana.

Awalnya gambarnya ancur. Tapi dia nggak peduli. Saat di atas kereta yang melaju menuju Jakarta saya sempat merisaknya “kui gambar opo je mas? kok gak jelas ngono” dan dia hanya tertawa. Selain terus berlatih, dia juga menonton video tutorial di youtube. Ternyata usaha nggak mengkhianati hasil. Sekarang gambar-gambarnya kece parah, bahkan belum lama ini dia mengadakan pameran tunggal.

Salah satu hasil karya Pak Puh aka Mas Hendra

Akhir-akhir ini saya pun mulai belajar menggambar lagi. Alasan yang pertama tentu saja tuntutan profesi. Sebagai emak-emak yang punya anak balita, saya menuntut diri sendiri untuk bisa menggambar buat anak saya, minimal bisa nggambarin gajah dan jerapah. Dalan alasan yang kedua adalah buat pamer muahahahahaha (sungguh mulia alasanmu, mak). Ya monmaap, di zaman social media gini kan dikit-dikit bisa jadi modal untuk pamer kan ya? Hehehe.

Saat mulai untuk menggambar lagi saya merasa terintimidasi, lho. Soalnya gambarnya berantakan. Bahkan Renjana nggak bisa ngebedain gambar anjing dan kancil yang saya buat karena mirip ahahahahaha. Bawaannya udah males dan mikir “ngapain sih capek-capek gambar, download aja dipinterest terus di gunting kan bisa”, tapi terus ingat nggak punya printer *sobatmissqueen.

Untungnya saya follow twitternya om @pinotski. Sosok dengan nama asli Wahyu Ichwandardi ini adalah seorang animator dengan karya-karya yang sudah mendapatkan berbagai penghargaan internasional. Cuitannya di twitter selalu mendorong orang untuk mulai corat-coret di kertas. Menurutnya semua orang pasti bisa menggambar. Bukankah hal pertama yang kita laukan saat kecil dan duduk di bangku TK adalah menggambar? Meski pun masih berupa coretan yang tidak jelas.

Membaca untaian kata mutiara dan motivasi cuitannya saya pun jadi tercerahkan. Benar juga ya? Semua orang itu pada dasarnya bisa menggambar. Perkara bagus dan jelek itu soal selera. Lebih lanjut Mas Pinot bilang jika kita memang ingin bisa menggambar, buang jauh-jauh rasa tidak percaya diri kita. Mulailah anggap gambar kita tidak jelek dan percaya bahwa kita bisa gambar. Kita harus balik lagi menjadi anak SD yang berani berimajinasi dan menuangkannya dalam bentuk gambar.

Terus satu hal lagi yang musti diingat, jangan mudah merasa terintimidasi dengan karya orang. Drawing is an emotional healing exercise. Seperti lazimnya yang terjadi di semesta ini, setiap orang akan berproses dengan caranya sendiri-sendiri. Tidak bisa disamakan satu dengan yang lain. Yang paling penting adalah harus tekun berlatih. Kelak, kita akan menemukan style gambar kita sendiri.

Oya, ngomong-ngomong soal nggambar, selasa kemarin saya baru saja datang ke acara presscon Faber Castell di The Rich Jogja. Tau kan Faber Castell? Produsen alat-alat gambar yang harganya kualitasnya ciamik itu lho. Yang kalau musim ujian juga dicari orang karena punya produk khusus untuk klean-klean yang mau ikut ujian dengan sistem menghitamkan lembar jawaban.

Lanjut…

Jadi, pada Minggu, 28 Oktober 2018 (iya bentar lagi), Faber Castell akan mengadakan Lomba Desain Karakter 2018 “Sport Mania”. Lomba gambar desain karakter yang ditujukan untuk siswa SMP – SMA sederajat ini akan dilangsungkan di The Rich Jogja Hotel Jl. Magelang Km 6 No 18, Yogyakarta.

lomba-desain-karakter-faber-castell

 

Mengapa temanya “Sport Mania”? Ya tentu saja karena masih berhubungan dengan euphoria ASIAN GAMES yang meninggalkan kesan begitu dalam. Tentunya masih ingat kan perjuangan para atlet untuk bisa mengibarkan merah putih di puncak tertinggi? Masih ingat juga dong perjuangan Anthony Sinisuka Ginting yang berdarah-darah itu?

Nah, bermula dari hal tersebut maka tema lomba ini tercipta. Jadi dalam lomba ini para peserta harus membuat desain karakter yang mampu mewakili semangat berolahraga serta menginspirasi masyarakat untuk terus berolahraga. Kriteria penilaiannya sendiri meliputi ide dan kreativitas, teknik menggambar, kesinambungan objek dan konsep, serta konsep dan keunikan karakter. Nantinya para pemenang akan mendapatkan hadiah uang tunai, produk Art & Graphic Faber Castell, sertifikat, serta hadiah tambahan dari sponsor. Selain itu karya para pemenang juga akan dipamerkan.

Bagi yang tinggal di Jogja bisa langsung mendaftar secara offline di Kantor Harian Kedaulatan Rakyat, Toko Buku Gramedia Sudrman, serta Toko Merah. Sedangkan dari luar kota yang tidak memungkinkan untuk datang ke Jogja sebelum hari H pelaksanaan bisa mengunjungi laman www.lombagambar.com atau official twitter, FB, dan instagram Faber Castell.

Untuk teman-teman yang punya anak, adik, sodara, keponakan, pacar, atau kenalan yang jago gambar, bisa banget tuh ikutan acara ini. Tapi syaratnya harus masih sekolah SMP atau SMA ya. Kalau nggak ada sodaranya ya tulung info ini disebarin aja, dishare di sosmed boleh kok hihihi.

Kalau saya masih menunggu lomba nggambar atau pelatihan menggambar untuk emak-emak dengan tema “bagaimana menggambar hewan yang mudah dan cepat” #halah. Kalau nggak ada ya saya menggambar masa depan dengan yang tercinta aja #uhuk.

Btw, kawan-kawan sendiri ada yang kecilnya pernah ikutan lomba menggambar nggak sih? Saya kok belum pernah, ya?

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

5 Responses

  1. Ketika ada yang bilang kemampuan menggambar itu menurun dari garis keturunan, aku merasa sedih soalnya ayahku jago banget gambar. Menurun sih, ke kakak sama adikku, yang meskipun nggak sejago ayah tapi lumayan lah. Lha aku babar blas :(

    • Kayaknya bukan turunan deh, cuma emang apa yang kita lihat sehari-hari pasti akan mempengaruhi kita, kan? La kalo emak bapaknya pinter nggambar dan sedari kecil kita lihatnya itu ya sedikit-sedikit bisa lah. Gabisa gambar gapapa, Lan. Nggambar masa depan yang indah wae #uhuk

  2. Sulis says:

    Aku golongan yang klo mbikin garis…pake penggaris lho…hasilnya menceng. Dan klo mapel nggambar..yang digambar kok ya gunung sama sawah mlulu

    • Ahahahaha, aku sudah nggak pegang penggaris mbak. Menceng gak popo wis. Iyaaa, dulu ku gambarnya ju8ga dua gunung sama sawah. Etapi pemandangan seperti itu emang pemandangan yang kujumpai sehari-hari di kampung sih, ada Sindoro Sumbing berdiri tegak.

  3. Slamsr says:

    aku belum pernah ikutan lomba,
    tapi sejak sd, smp, sma selalu jadi juru gambar di papan tulis kalau ada pelajaran biologi…
    sekarang hobinya cuma beliin kuas, krayon dan buku gambar buat adek, anak dan ponakan

Sharing yuk!