Mengenang Bromo dan Hal-hal yang Ingin Saya Lakukan Lagi

Saya baru saja terlelap di atas laju kereta menuju Kediri saat ponsel jadul berdering cukup nyaring. Saya lihat siapa yang menelepon. Tak ada nama, hanya deretan angka berkode ibukota. Ternyata itu nomor editor baru yang menugaskan saya untuk bergerak ke Bromo pada akhir pekan mendatang.

“Sasha liputan Jazz Gunung ya. Id pers sudah diurus kantor. Kamu tinggal cari tiket dan akomodasi. Kalau sudah dapat perkiraan anggarannya berapa langsung ajuin aja nanti kita proses,” begitu pesannya kala itu.

Tentu saja mata saya langsung terbuka lebar dan tak jadi tertidur. Ditemani suara deru roda kereta saya pun sibuk browsing sana sini mencari informasi soal tiket kereta, bus, hingga penginapan yang akan digunakan. Berhubung saat itu situs online travel agent belum terlalu populer, tentu saja saya sedikit kebingungan.

Setelah melalui sedikit drama dan mengatur ulang jadwal yang bertabrakan, akhirnya saya bisa juga menjejak di Sukapura guna meliput Jazz Gunung selama dua malam berturut-turut. Sungguh pengalaman yang tak pernah terlupakan bisa menyaksikan pertunjukan jazz dengan landscape punggungan gunung sebagai background, juga beratapkan langit malam yang diguyur cahaya purnama.

Jazz gunung

Jazz gunung

Meski begitu, ada beberapa hal yang saya sesali dari kunjungan ke Bromo 4 tahun lalu. Yang pertama tentu saja karena saya datang sendirian. Bayangkan, saat semua orang berpelukan dengan pasangan masing-masing sambil bernyanyi bersama melantunkan “kemana langkahku pergi, slalu ada bayangmu….” diiringi piano oleh Yovie Widiyanto, saya cuma bisa memeluk diri sendiri erat-erat. Gak ada pasangan euy. Mana udara dingin banget. Karena itu saya berjanji suatu saat bakal menjejak Bromo lagi dan menonton Jazz Gunung bareng pasangan.

Hal yang saya sesali lainnya adalah, saya sudah jauh-jauh dari Jogja sampai ke Bromo, tapi cuma mager di homestay aja. Palingan ke media center, nongkrongin press con, lokasi Jazz Gunung, balik nglungker di kamar lagi. Karena saat itu cuaca bener-bener lagi enggak bersahabat, rinai hujan turun tanpa henti. Kan saya jadi males buat ngejar sunrise dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wisatawan saat berkunjung ke Bromo. Ngok banget lah pokoknya.

Karena hal-hal itulah akhirnya saya berencana pengen balik Bromo lagi. Apalagi sekarang sudah punya suami dan krucil, pastinya bakalan lebih seru kalau kami bisa jalan bertiga. Sebagai permulaan, saya pun sudah susun rencana kalau ke Bromo besok pengen ngapain aja. Dan ini beberapa hal yang bakal saya lakukan saat berkunjung ke Bromo.

Mengejar Sunrise Bromo

Dari foto-foto dan banyak kisah perjalanan yang saya baca, sunrise Bromo itu juwara banget. Magical. Makanya banyak wisatawan mancanegara yang berbondong-bondong ingin menyaksikan matahari terbit dari tempat ini. Biar enggak kalah sama bule-bule itu, sudah pasti mengejar sunrise di Bromo harus saya masukkan dalam list to do. Meskipun punya anak batita, buat saya itu bukan halangan untuk menikmati keindahan pagi. Saat usianya belum ada 2 tahun, Renjana sudah pernah saya ajak trekking pagi-pagi mengejar sunrise di Gunung Gambar dan dia bahagia. Saya yakin dia pun pasti akan gembira bisa ikutan melihat sunrise di Bromo.

Bromo Sunrise (pic taken by Mas Pap IG @papanpelangi)

Bromo Sunrise (pic taken by Mas Pap IG @papanpelangi)

Berpelukan Bukit Telletubies

Sebenarnya di Gunung Prau ada juga sih tempat yang mirip Bukit Telletubies ini, tapi berhubung sudah sampai Bromo, ngapain nggak sekalian mampir kan? Renjana itu kalau lihat tanah lapang berumput seneng banget. Kalau diajak kesini dia pasti lari-larian heboh dan lompat kesana-kemari. Nanti kami pun bisa foto berpelukan ala Tinky Winky Dipsy Lala dan Poo *sungguh unfaedah*.

Bukit Telletubies (pic taken by Mas @papanpelangi)

Bukit Telletubies (pic taken by Mas @papanpelangi)

Foto Ala-ala di Savana Bromo

Saya jatuh hati dengan savanna sejak lama. Bahkan, dulu kalau punya anak cewek pengen saya kasih nama Savana, keren ya? Lembah hijau yang dikelilingi tebing-tebing juga punggungan gunung kecil ini tentu saja tak akan saya lewatkan. Lagipula dari dulu saya pengen foto ala-ala di antara alang-alang. Inilah tempat yang tepat untuk mewujudkan mimpi itu ahaaaay.

Nanti foto ala nyai berkuda putih di Savana Bromo (pic taken by Mas @papanpelangi)

Nanti foto ala nyai berkuda putih di Savana Bromo (pic taken by Mas @papanpelangi)

Berhubung kunjungan saya ke Bromo bawa batita, saya pikir saya cukup mengunjungi tempat-tempat yang mainstream ini dulu saja. Jika terlalu banyak malah nanti bocah kecapekan juga cranky. Lagipula saya pengen menikmati keindahan Bromo secara selow, tanpa takut terkejar harus pindah ke destinasi lainnya.

Ngomong-ngomong soal traveling bersama balita, tentu saja saya harus mempersiapkan semuanya secara matang mulai dari transportasi, penginapan, bahkan itinerary. Saya sudah nggak bisa kaya jaman lajang dulu yang semuanya go show. Dulu empet-empetan naik bus, ngejar-ngejar angkot, atau jalan kaki jauh adalah hal yang lumrah dilakukan. Kalau enggak dapat penginapan, numpang di rumah warga atau nginep di mushola pom bensin ayo ayo aja. Kalau sekarang? Sebenarnya saya sih enggak apa-apa, tapi kasihan bocah saya. Makanya itu saya pengen merencanakan semuanya sebaik mungkin.

Jika berangkat dari Jogja, ada banyak pilihan moda transportasi untuk sampai Bromo, mulai baik bus, kereta, hingga pesawat. Kemarin sempat intip-intip harga tiket di beberapa situs OTA, harganya beda-beda euy. Setelah itu juga intip tarif penginapan, macam-macam juga harganya. Mamak jadi galau.

Etapi setelah lihat-lihat lagi lebih teliti, tenyata ada situs yang menyediakan jasa pencarian tiket dan hotel secara bersamaan. Dialah si burung biru langsing yang suka piknik alias Traveloka. Tentu saja saya juga coba-coba cek harga di situs ini dong. Dan jeng jeng jeng, ternyata Traveloka sungguh mempermudah pekerjaan hunting tiket dan hotel saya. Disini semuanya serba gampang.

gampil euy!

gampil euy!

Cukup masukkan data ke kolom pencarian tiket, setelah itu gabung dengan kolom pencarian hotel. Semua bisa dilakukan dalam satu page. Jadi saya enggak usah bolak-balik buka situs booking hotel, kemudian buka situs booking transportasi. Sungguh menghemat waktu sodara-sodara. Kabar baiknya nggak berhenti sampai disitu, setelah dihitung-hitung (iyalah, secara mamak-mamak) ternyata total harganya lebih murah dibandingkan jika pesan hotel dan tiket secara terpisah. Horeeee!!! Lumayan uang sisanya bisa ditabung buat piknik selanjutnya.  Jadi suamiku, Januari besok kita jalan ke Bromo yak. Itung-itung trip dalam rangka ulangtahunmu dan ulangtahun Renjana. Jadi kalian berdua yang traktir mamak *senyum lebar*

Oya, kalau kawan-kawan juga berencana pengen pergi ke Bromo maupun berbagai destinasi wisata menarik di penjuru tanah air, bisa lho cek paket wisata Traveloka. Soalnya kalau pesan pesawat dan hotel secara bersamaan harganya lebih murah dibanding pesan terpisah, bahkan bisa hemat hingga 20% tanpa kode promo apapun.

Jadi sudah merencanakan libur akhir tahun belum? Yuk ah cap cus pilih destinasi.

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

2 Responses

  1. Adie Riyanto says:

    Aku (numpang) lahir di Jawa Timur, tapi belum pernah ke Bromo. Hiks :'(

Sharing yuk!