Klok, Klok, Klok, Mie Ongklok

Jika rupa dianggap merepresentasikan rasa, maka sebagai bocah kelahiran Wonosobo saya bakalan minder. Sebab tampilan makanan khas Wonosobo seperti Sego Megono dan Mie Ongklok nggak ada cantik-cantiknya blas.

IMG_20170515_140314

Bahkan kawan sepupu saya menyebut Sego Megono sebagai sego reget alias nasi kotor. Oya, bagi kalian yang belum tau apa itu sego megono sini saya kasih bocoran. Jadi sego megono ala Wonosobo (sebab di daerah lain ada nama sego megono dengan tampilan beda) itu merupakan nasi putih yang disajikan dengan tumis aneka sayuran seperti kacang panjang, nangka muda, kubis hijau, parutan kelapa, serta bumbu-bumbu rahasia.

Kalau di daerah Pekalongan biasanya tumisan tersebut hanya ditaruh di atas nasi, sedangkan di Wonosobo tumisan tersebut akan dicampur dengan nasi sehingga tampilannya seperti nasi yang kotor. Sego megono ini paling enak dimakan dengan tempe kemul anget yang warnanya kuning gonjreng itu.

Tak jauh beda dengan sego megono yang tampilannya “mbluthuk”, secara visual Mie Ongklok juga buruk rupa.  Meski di bagian bawah terdapat mie kuning yang ceria serta kubis plus kucai hijau yang menyegarkan mata, visual itu langsung ngedrop saat mie dan kucai diguyur kuah kecoklatan yang lebih mirip lendir.

IMG_20170515_140429

Tapi jangan buru-buru menolak. Cobalah untuk berlaku ramah kali ini. Jika kamu mau sedikit saja menurunkan ego dan mencicipi makanan tersebut, niscaya kamu akan menemukan perpaduan rasa yang nikmat di mulut. Apalagi jika ditambah tempe kemul serta sate sapi berkuah kacang. Hmmmm, yakin deh, bisa jadi mulutmu tak berhenti mengunyah dan terus nambah.

Pada akhirnya kamu akan percaya bahwa tidak semua yang berpenampilan buruk itu tak nikmat. Mie Ongklok adalah buktinya. Meski tampilannya tak terlalu cantik, tapi rasanya juara!

Kalau kamu suatu saat berkunjung ke Wonosobo, mampirlah ke warung yang menjual mie ini. Tak terlalu sulit untuk menemukan warung Mie Ongklok sebab penjualnya tersebar di berbagai sudut kota. Bahkan jika tak ingin repot, kamu bisa langsung menuju alun-alun Wonosobo saja, disana ada banyak penjual Mie Ongklok yang berjualan menggunakan gerobak.

Tapiiiii, jika kamu ingin mencicipi mie yang sudah melegenda ya tentu saja di Warung Pak Muhadi Jl. A Yani atau di Warung Mie Ongklok Longkrang. Keduanya sudah hadir sejak dulu dan menjadi jujugan para pelancong. Kalau favorit saya sih tetap Mie Ongklok Longkrang.

Warung ini sebenarnya biasa saja, tak ada yang terlalu istimewa. Kamu bisa memilih untuk duduk di teras yang terang atau di dalam ruangan yang agak remang. Asyiknya jika makan di tempat ini, kamu bisa menyaksikan penjualnya beraksi sebab dapurnya ada di depan.

duo kesayangan tak sabar menanti. betewe itu di jendela penuh stiker komunitas yang pernah mampir. jadi pengen nempelin stiker ranselhitam disana.

duo kesayangan tak sabar menanti. betewe itu di jendela penuh stiker komunitas yang pernah mampir. jadi pengen nempelin stiker ranselhitam disana.

Pak Waluyo tengah beraksi

Pak Waluyo tengah beraksi

Seperti belum lama ini saat saya mampir kesana. Usai memesan 2 porsi mie ongklok dan 10 tusuk sate sapi, saya pun mengamati Pak Waluyo yang asyik memasak pesanan. Dengan cakatan pria paruh baya ini mengambil kubis dan kucai yang telah dipotong-potong, lantas memasukkannya ke dalam alat yang menyerupai irus namun terbuat dari bambu dan berbentuk kerucut. Irus tersebut dicelupkan kedalam air mendidih sambil sesekali isinya dilempar-lemparkan ke atas atau dalam bahasa daerah diongklok-ongklok. Konon dari proses seperti inilah nama Mie Ongklok bermula.

Setelah dirasa cukup matang, campuran tadi dimasukkan ke dalam mangkok, dan diberi irisan tahu bacem. Proses terakhir adalah mengguyur mie dengan kuah kental kecoklatan dan menaburi bawang goreng.

Aroma khas langsung menguar begitu mie tersaji di hadapan saya. Di tengah udara Wonosobo yang dingin dan perut lapar, semangkuk Mie Ongklok panas yang masih mengeluarkan kepulan uap sangatlah menggoda.

Makanlah mie selagi hangat. Caranya aduklah isi mangkokmu hingga kuah menyatu sempurna dan melumuri tiap helai mienya. Lantas sendoklah perlahan dan suapkan ke dalam mulut. Jangan lupa gigit sate sapimu dan juga tempe kemul. Dijamin kamu akan mendapatkan sensasi rasa yang menyenangkan di dalam rongga mulut. Nylekamin!

Jika dalam khazanah per-buburayam-an ada tim makan dicampur dan makan tidak dicampur, maka dalam mie ongklok hal itu tidak berlaku. Untuk mendapatkan cita rasa yang sempurna, kita harus mencampur kuah kentalnya itu dengan mie. Sebab disitulah kunci kenikmatannya. Rasa manis, gurih, dan pedas berpadu nikmat di dalam mulut.

Betewe, kalian pernah nyicip Mie Ongklok belum sih? Kalo kapan-kapan mampir ke Wonosobo, cobalah mampir ke Mie Ongklok Longkrang di Jl Pasukan Ronggolawe No 14. Harganya mienya murah meriah kok, satu porsi Rp 7.000. Biasanya jadi terlihat mahal karena kita kebanyakan ngemil gorengan dan makan satenya. Tapi masih dalam hitungan wajar.

Jadi, kapan mau ke Wonosobo?

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

28 Responses

  1. Saya termasuk yang mengingkari tampilan makanan yg awut2an itu belum tentu enak. Mie ongklok sekali coba aku langsung jatuh cinta, apalagi di hawa dingin seperti wonosobo atau dieng.
    Btw kuahnya itu terbua dr apa ya mbak, soalnya kalo dingin jadi encer jadi mengurangi kenikmatannya.
    *lap iler

    • dari tepung tapioka dicampur ebi dan bumbu rahasia lainnya, Jo. emang kalo dibiarin kelamaan kuahnya bakalan encer dan kurang nikmat. ayuk ke wonosobo lagi. nanti aku traktir mie ongklok 😀

  2. Iyos Kusuma says:

    Bener banget, Mba! Aku cobain mie ongklok di Dieng. Sebelum makan kan berdoa dulu (baca: foto), kok ya ga menarik sama sekali. Lalu jadi meremehkan mie ongklok..

    Pas nyoba… Lah, kok enak??? Hahahaha. Mengenyangkan pula. Biasanya makan mie seporsi ga kenyang. Ini mantap!

    • ahahahaha, don’t judge a book by its cover berarti ya mas. makanya kalo makan di mie ongklok longkrang mejanya sekarang dibikin putih bersih. mungkin itu ide pemiliknya biar tetep kelihatan kece kalau mie ongkloknya dibikin foto flatlay ala-ala instagram. soalnya kalo tampilan mie doang sama sekali gak menarik.

  3. Andi Nugraha says:

    Kalau aku dengar namanya sih sepertinya gak asing. Tapi kalau makannya belum pernah. Jadi penasaran dan pengen makan mie ongkok. Apalagi ini bacanya dan lihat pukul 2-an pagi. Asik buat sahur gak ya, Mas..hehe

  4. Di sana identik lebih manis ya mie nya? Aku pernah makan berkuah di area sana dan manis hehehehe. Agak asing di lidahku 😀

  5. ya Allah mbak aku malah belum pernah ngerasain mie kek gini..taunya mie ayam..
    padahal dl pernah ke wosnosobo bolak balik..nyesel deh
    pengen kesana lagi..

  6. salaminzaghi says:

    wahhh murahh juga ya, jadi pensaran kyknya enak banget uh.. boleh lah klo ke wonosobo mampir ke warung ini

  7. Dwi Susanti says:

    Mbakk aku tadi belum buka sampai sekarang, baca ini perutku bunyi krucuk-krucuk. Hiks. Aku mupeng sama mendoannya juga.

    Makasih rekomendasinya mbak *bookmark lain kali coba yang ini
    Pas ke dieng nyoba mie ongklok di daerah wisata rasanya kurang ok menurutku.

    • Ini namanya tempe kemul, Mbak Dwi. Beda dengan mendoan. Kalau mendoan biasa digoreng setengah mateng, kalau tempe kemul bener-bener kering. Adonan yang dipakai juga beda. Dan di Wonosobo tempe kemul paka daun kucai sedangkan mendoan pakai loncang.

      Saran saya kalau mau nyobain mie ongklok di warungnya aja, kalo di tempat wisata rasanya beda.

  8. Aaaahhh pas ke Prau tahun 2014 lalu nggak sempet cobain Mie Ongklok, padahal udah diwacanakan. Kalo Nasi Megono, pernah cobain juga, tapi entah karena yang jual kurang cakap atau memang begitu rasanya, aku nggak terlalu suka hehehe.

    • Ayok datang ke Dieng Culture Fest, nanti mampir ke Longkrang buat cobain mie ongkloknya.

      Dulu jaman SMP nasi megono itu sarapanku ahahaha. Murah meriah dan kenyang.

  9. Fiberti says:

    Belum ngerasain mba. Tampilannya unik ya, mungkin agak kesulitan untuk memfoto agar tampak yummy. Tapi dari review mba jadi kepingin mencicipi, terdengar enak. Nggak tahan kalau berbau mie….Terima kasih infonya mba. Bisa jadi masukan wisata kuliner bila kesana.

  10. kadang yang tampilannya berandalan, punya jiwa sosial dan hati yang bersih. eaaa.
    pas beli di Wonosobo, aku makan dengan lahap. Mungkin karena kedinginan dan kelaparan kali ya.
    Tapi pas makan di jalan Monjali, malam hari, aku makannya ga habis. Dan selalu gagal untuk foto mie ongklok. Buruk rupa sekali. haha

    • asyeeek, kalimat pertamamu itu lho.
      iya, mie ongklok emang paling enak dimakan di kota asalnya, dan di warungnya. aku kalo pas mudik beli, terus ku makan di rumah rasanya juga beda.

  11. Mie Ongklok ini enak asal…… Cukup seporsi saja karena kalau banyak-banyak rasanya jadi eneg, terus sate sapinya minimal 10 tusuk. Nyam.

    • Iya bener banget. Kemarin pas makan disana rame-rame ada satu mangkok yang enggak kemakan, terus aku coba makan rasanya sudah beda dengan mangkok pertama. Semakin banyak satenya semakin nikmat ya. Piye nek mangan satene wae? :p

  12. Habis ke wonosobo malah beli nasi goreng bukannya Mie Ongklok. #berasabodo
    Trims mba, info ttg Mie Ongklok-nya, insyaallah kalo ada kesempatan ke wonosobo lagi…

    Ada lagi gag makanan yang “don’t judge by the cover” asal wonosobo lainnya?? hhehe…

    • Ahahaha, besok kalo main ke Wonosobo lagi jangan salah beli ya, mas.
      Kalau suka cobain Sego Megono. Dimakan pagi-pagi pas masih anget sama tempe kemul. itu juga enak.

  13. Mirwan Choky says:

    JAdi penasaran saya dengan rasa Mienya,

  14. sebenarnya tidak terlalu suka rasanya, tetapi setiap kali ke Wonosobo selalu saja makan ini. hahaha. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *