Minggu Melamun: Tentang Hidup

Semacam pengantar

Halo sidang pembaca yang budiman, apa kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat sentosa dan bahagia ya. Saya juga lagi seneng nih, ada banyak hal-hal baik yang terjadi dalam minggu terakhir di bulan Agustus ini. Semoga September kehidupan akan lebih baik dari bulan ini ya.

Barusan itu intermezzo. Jadi ceritanya gini, dulu kan RanselHitam pernah ada rubrik bertagar #WeekendAsyik tapi sudah bertahun-tahun mati suri. Saya males nulis lagi ahahaha. Tapi akhir-akhir ini saya kepikiran pengen bikin rubrik (ceileee rubrik) baru yang isinya lebih ke kontemplasi di akhir pekan sih.  Tadinya tagarnya mau sunday sermon, tapi kok kesannya berat dan holy banget ya. Jadinya saya ganti deh, kayaknya Minggu Melamun lebih asyik. So please welcome my first post entitled #MingguMelamun. Hope you enjoy it!

pic by: Daru Tunggul Aji

pic by: Daru Tunggul Aji

Minggu Melamun: Tentang Hidup

Beberapa waktu lalu orang-orang banyak dikagetkan dengan kabar kematian istri komedian Tukul Arwana yang bernama Susi atau lebih dikenal sebagai Susi Similikiti. Saya sih nggak termasuk yang kaget. Biasa saja. Tapi keluarga di rumah Wonosobo yang dulunya penggemar acara Bukan Empat Mata sempat kaget dan membahas hal ini.

Lantas dari berbagai obrolan yang tumpang tindih baik di dunia maya maupun dunia nyata ada satu kesimpulan yang saya dapatkan, yakni bahwa kematian itu bisa datang kapan saja secara tiba-tiba dan mengejutkan. Kita tak akan pernah tahu sampai kapan batas hidup kita di dunia ini, oleh karena itu kita harus mempergunakan hidup ini sebaik-baiknya. Dan ternyata pagi tadi saat ibadah di gereja tema khotbahnya pas banget dengan apa yang sedang sering saya lamunkan, yakni tentang hidup manusia dan kematian yang bisa datang tiba-tiba.

Dikisahkan pada jaman dulu ada dua orang hakim, namanya Tola dan Yair. Di kitab Hakim-Hakim, kisah Tola sangatlah pendek. Dia hanya disebutkan bahwa menjadi hakim selama 23 tahun sesudah itu mati. Sedangkan penjelasan tentang Yair sedikit lebih panjang. Dia memerintah sebagai hakim selama 22 tahun, memiliki 30 anak laki-laki yang mengendari 30 kuda jantan, serta mempunyai 30 kota. Sudah itu saja.

Tidak ada hal lain yang dicatat tentang mereka, semacam tindakan heroik menyelamatkan negeri atau bertarung dengan musuh seperti yang dilakukan hakim Simson atau Gideon. Catatan hidup Tola dan Yair tidak ada yang menarik dalam porsi mereka sebagai hakim. Hidup mereka datar. Standar. Sehingga sejarah pun tidak mencatatnya.

Mendengarkan kisah tentang mereka tiba-tiba ingatan saya  melayang pada percakapan yang terjadi sekitar 9 tahun yang lalu. Kala itu saya masih magang di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan sumber daya manusia. Saat itu saya dan beberapa kawan sedang mempersiapkan acara pelatihan untuk sebuah perusahaan. Di tengah obrolan yang ngalor – ngidul nggak jelas mendadak Mas Panggah (salah satu konselor senior) bertanya kepada kami.

“Menurut kalian hal yang paling penting di dalam tulisan yang ada di batu nisan itu apa?”

Kami yang terkejut dengan pertanyaan mendadaknya ini hanya diam. Lantas satu persatu menjawab.

“Nama”

“Tanggal lahir”

“Tulisan Rest In Peace”

“Kutipan ayat atau kata-kata bijak”

Ternyata hal-hal yang kami sebutkan itu dibalas dengan gelengan oleh Mas Panggah.

“Terus apa dong mas?” tanya saya penasaran.

“Yang paling penting itu garis batas di antara tanggal kelahiran dan kematian,”

“Hah? Kok bisa?” seru kami heran.

“Ya jelas bisa. Karena garis itu menandakan waktu kalian hidup. Selama hidup itu apa yang sudah dilakukan? Apakah menjadi berkat dan berguna untuk orang lain? Atau hidup yang kebanyakan mengeluh dan hidup yang sia-sia?”

Kami pun lantas terdiam dan larut dalam lamunan. Yeah, garis yang sangat pendek yang menjadi pemisah antara tahun lahir dan tahun kematian justru menjadi sesuatu yang sangat penting. Bagaimana kita menjalani hidup kita itu yang akan diingat oleh orang. Apakah hidup yang kosong? Hidup yang standar dan dipenuhi rutinitas itu-itu saja atau hidup yang berkualitas? Hidup yang dipenuhi dengan berbagai pencapaian, hidup yang dihidupi dengan sungguh, dan tentu saja hidup yang berkenan di hadapan Sang Pencipta. Karena percuma juga hidup dipenuhi dengan banyak pencapaian tapi jiwa kita kosong dan hampa.

Ah sudahlah. Lamunan ini sepertinya semakin kesini kok semakin berat ya. Saya jadi bingung mau nulis apa. Lebih baik saya lanjut melamun saja deh.

 

Yang penting bukan berapa lamanya kita hidup di dunia, tapi apa yang telah kita lakukan selama hidup di dunia!

Happy sunday guys!

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

6 Responses

  1. yuli says:

    Aku baru subscribe blog mbak dua hari lalu. Dan nampaknya aku akan jd penanti minggu melamun -, mu, mbak sasha.

    Suka. Pas utk nemenin aku yg lagi sulit mengakhiri lamunan sampai selarut ini.

  2. Seminggu yg lalu teman sekelas anakku meninggal Shay,bikin ingat akan kematian dan sudah siap belum tiba2 dipanggil?
    Jadi tambah melamun kaan

  3. Terima kasih, tulisannya membuat saya ingat lagi tentang menjadi manusia yang bermanfaat, kalu sudah meninggal ya yang tersisa hanya nama. Nama itu tidak lepas dari kepribadian seseorang selama hidup. Kalo nama ‘si A’ semasa hidup koruptor.. maka tag koruptor akan terus melekat sampai ia mati..

Sharing yuk!