#Modal100K Bisa ke Gunung, Telaga, dan Laut

Helo sobat Ransel Hitam! Apa kabar?

Nggak terasa udah weekend lagi ya. Rencana mau pada ngapain nih buat ngisi weekend? Ngemall, nonton bioskop, piknik hore, atau mau di rumah aja gara-gara tanggal tua dan nggak ada duit buat jalan? Hihihihi. Iya nih, udah tanggal tua duit di kantong semakin menipis. Mau ngemall takut sakit hati gara-gara pengen sesuatu tapi nggak bisa kebeli. Mau nonton bioskop kalo weekend tiketnya mahal. Mau piknik juga duit mepet.

Eittts, tapi jangan desperate dulu. Tau nggak sih, dengan modal 100 ribu kita bisa jalan kemana-mana lho. Jadi gini, ceritanya Blog Jalan Jalan yang kece ituh lagi ngadain giveaway yang isinya nantangin kita nih. Kira-kira dengan modal 100 K kita bisa kemana? Sebagai pemudi yang suka tantangan dan banci kontes tentu saja saya nggak mau ketinggalan buat ikutan event kece ini dong.

Modal 100 K mau jalan-jalan kemana?

Modal 100 K mau jalan-jalan kemana?

Tinggal di Jogja yang notabene harga apa-apa masih jauh lebih murah dibanding kota-kota besar lain tentu saja menjadi keuntungan tersendiri. Dengan modal terbatas saya masih bisa merasakan yang namanya piknik ceria. Bahkan misal duit saya tinggal 3.000 perak, saya masih bisa city tour naik TransJogja dari Malioboro, ke Kotagede, ke Prambanan, ke Jombor, dan balik lagi ke Malioboro. Tapi ya itu, saya cuma ngeliatin suasana kota dari dalam bis ngahahaha. Bagi kalian yang selo ide ini bisa di coba lho.

Tapi kali ini saya punya cerita seru. Dengan modal kurang 100 ribu, saya dan suami bisa piknik sehari semalam, pulang dengan perut kenyang, dan tentu saja kaki gempor tiada tara haha. Dan percaya nggak sih? Masih ada sisa uang di dompet lho.

Berhubung kami berdua suka kegiatan outdoor, tentu saja rute jalan-jalan kami nggak jauh dari urusan trekking dan camping. Kali ini yang menjadi tujuan utama kami adalah kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran yang terletak di tenggara Jogja, tepatnya di Kabupaten Gunungkidul.

Setelah mengisi tangki si Supri tua dengan bensin seharga Rp 18.000, pada Sabtu sore kami berdua menyusuri jalanan kota nan padat menuju Nglanggeran. Karena rencananya hendak menginap, tentu saja kami membawa perlengkapan camping. Untunglah peralatan tempur Mas Chan lengkap, jadi kami tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa tenda, SB, maupun matras.

Ketika tiba di kawasan Nglanggeran ternyata matahari masih bersinar cerah ceria. Rasanya nggak asyik kalau mendaki masih panas. Kami berdua pun memutuskan untuk mampir ke Embung Nglanggeran guna menikmati sunset. Setelah membayar parkir Rp 2.000 dan tiket Rp 6.000 untuk dua orang kami pun lantas menaiki tangga berundak guna mencapai embung.

Bersyukur kali itu cuaca cerah, sehingga kami bisa menyaksikan sunset yang indah. Berlatar gunung batu dan telaga buatan yang terhampar, kami seolah-olah sedang menikmati sunset diantara pantai dan gunung. Bagi kalian penggemar senja, Embung Nglanggeran sangat recommended untuk dikunjungi.

embung nglanggeran

Senja di Embung Nglanggeran

Puas menikmati senja, kami pun meluncur menuju basecamp Gunung Nglanggeran. Buat kawan-kawan yang belum tau, Gunung Nglanggeran adalah gunung api purba yang pernah aktif jutaan tahun lalu. Saat ini bentuknya lebih menyerupai gugusan gunung batu yang menjulang tinggi dan menjadi salah satu spot pendakian favorit di Jogja. Cukup treking 1 jam, kita sudah sampai puncak dan menyaksikan panorama yang indah. Rutenya pun cukup menantang dan bervariasi, mulai dari jalan conblok, jalan tanah, jalan setapak, hingga tangga kayu yang curam. Inilah tempat yang tepat untuk latihan sebelum mendaki gunung-gunung tinggi.

Sebelum mendaki Nglanggeran, kami berdua mengisi perut dengan menikmati soto ayam dan teh hangat di salah satu warung. Untuk ukuran tempat wisata, harga makanan relatir murah. Kami hanya merogoh kocek sebesar Rp 14.000 untuk dua mangkuk soto, teh hangat, dan krupuk.

Perut kenyang, kantuk pun menyerang. Sebelum mata terlanjur berat, kami pun memutuskan untuk mulai mendaki. Tentu saja mendaftar di basecamp dulu dan menitipkan motor di tempat parkir. Disini kami mengeluarkan uang Rp 20.000. Yang Rp 18.000 untuk retribusi 2 orang, yang Rp 2.000 untuk biaya parkir.

Rupanya selain kami, malam itu ada banyak orang yang berniat camping di Nglanggeran. Menghabiskan weekend dengan beraktivitas di alam terbuka kini memang menjadi alternatif yang menyenangkan. Di tengah gelap malam bertabur bintang, kami pun melangkah tercepuk-cepuk melewati rute pendakian menuju puncak.

Menikmati keindahan malam di Nglanggeran bersama kawan

Menikmati keindahan malam di Nglanggeran bersama kawan

Setengah jam kemudian kami sudah tiba di pos 1. Dari tempat ini kita bisa melihat kota Jogja dihiasi lautan lampu beraneka warna. Indah dan menenteramkan. Kami hanya beristirahat sejenak di pos ini, lantas melanjutkan perjalanan lagi ke pos selanjutnya. Nah di pos 2 inilah kami dan beberapa kawan yang bergabung mendirikan tenda. Sebenarnya pengen ngecamp di puncak sih, tapi tubuh sudah capek.

Tenda sudah berdiri, matras sudah dibentangkan, api unggun sudah dinyalakan, lantas apalagi yang akan dilakukan kalau bukan curhat berjamaah? Hihihihi. Satu hal yang paling saya sukai dari camping adalah suasana kebersamaan dan keakraban yang mudah terbangun, meski dengan kawan-kawan yang baru kenal. Malam itu pun kami habiskan dengan ngobrol ini itu dan bercanda sepuasnya kemudian dilanjutkan dengan tidur di tenda masing-masing.

Keesokan paginya, sekitar pukul 04.30, kawan-kawan dari tenda sebelah sudah membangunkan untuk mengejar sunrise. Tapi saya dan suami terlalu malas dan memilih bergelung di SB. Sekitar pukul 6 kurang baru kami berdua keluar dari tenda dan berjalan menuju puncak. Meski terlambat tiba kami tak menyesal, sebab pagi itu awan menghiasi langit sehingga mentari tak terlihat dengan jelas. Aktivitas yang kami lakukan di puncak tentu saja foto-foto narsis.

Panorama pagi dari puncak Nglanggeran

Panorama pagi dari puncak Nglanggeran

Narsis dulu :)

Narsis dulu :)

Sekitar pukul 09.00 WIB, kami pun bergegas turun guna sarapan mie instan, membereskan tenda dan mengemasi barang-barang. Niat awal sih sebenarnya pengen langsung pulang dan istirahat di rumah soalnya senin kembali bekerja. Tapi beberapa kawan merayu kami untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Parangtritis.

Tanpa basa-basi kami pun langsung mengiyakan. Dari Gunungkidul kami meluncur ke Kabupaten Bantul. Memasuki pos retribusi kami harus membayar Rp 7.000 untuk 2 orang sudah termasuk asuransi kecelakaan. Saya adalah orang yang sering berubah jadi bego kalau harus main ke pantai siang-siang. Maklum bocah gunung, lebih suka aroma kabut daripada aroma laut.

Pantai Parangtritis dan Air Terjun Musimannya

Pantai Parangtritis dan Air Terjun Musimannya

Daripada bengong mau ngapain siang-siang di pantai, saya dan suami memutuskan untuk meluncur ke kawasan gumuk pasir. Katanya sih fenomena gumuk pasir ini merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. Di tempat ini kita bisa merasakan sensasi gurun pasir. Dan tau nggak sih, ternyata Agnez Mo dan Hivi pernah bikin video klip disini lho. Hari itu niatnya saya pengen foto-foto ala Mbak Agnez, tapi udara panas membuat saya menyerah dan nggak jadi photo session, cukup jeprat jepret ambil gambar gumuknya aja.

Gumuk Pasir Parangtritis. Serasa di padang gurun

Gumuk Pasir Parangtritis. Serasa di padang gurun

Hari beranjak semakin siang dan kami berdua pun sudah amat lelah. Akhirnya pulang kerumah menjadi pilihan. Etapi mumpung berada di daerah Bantul, nggak ada salahnya mampir ke Kompleks Candi Hati Kudus Ganjuran. Disini kami beristirahat sejenak di pendopo yang adem dan nyaman, kemudian berdoa di depan candi. Ya, Ganjuran memang merupakan salah satu tempat yang bisa dijadikan alternatif wisata religi. Selain memiliki ruang ibadah berupa pendopo besar yang megah, di tempat ini juga terdapat candi dengan arca Yesus memakai mahkota raja jawa di relungnya.

Mendaraskan doa di depan Candi Gereja Ganjuran

Mendaraskan doa di depan Candi Gereja Ganjuran

Usai berdoa di Gereja Ganjuran, kami berdua pun mampir ke salah satu warung bakmi di Jalan Parangtritis guna mengisi perut. Bantul memang dikenal memiliki banyak warung bakmi yang enak. Saat itu saya pesan Mi Goreng Jawa dan Es Jeruk sedangkan suami pesan Nasi Goreng dan Es Teh. Makan siang yang lezat itu cukup kami tebus dengan harga Rp 24.000.

Kali ini kami benar-benar memutuskan untuk pulang. Selain hari yang beranjak sore, tubuh kami juga lebih luar biasa. Perjalanan lebih dari 24 jam akhir pekan ini benar-benar berkesan. Dengan modal kurang dari Rp 100.000, kami berdua sudah bisa jalan-jalan sampai gempor dan perut kenyang. Akhir pekan mendatang kira-kira piknik kemana lagi ya?

By the way ini total pengeluaran jalan-jalan kami
Bensin Rp 18.000
Tiket embung & Parkir Rp 8.000
Soto Rp 14.000
Gunung Nglanggeran & parkir  Rp 20.000
Retribusi parangtritis + parkir Rp 9.000
Mie & Nasi Goreng Rp 24.000
Total pengeluaran Rp 93.000
Sisa Rp 7.000

Sekedar tips, untuk meminimalisir budget jalan-jalan, sebaiknya kita membawa bekal makanan kecil dan minuman dari rumah. Selain ramah lingkungan (tidak menambah banyak botol plastik terbuang) tentunya juga ramah dikantong hehehe.

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway JALAN JALAN MODAL 100 RIBU

Ps: Sebenarnya artikel ini telah saya upload pada tanggal 20 September 2014. Namun berhubung blog error dan database hilang, maka artikel ini saya publish ulang.

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

Sharing yuk!