Palang Merah Indonesia, Ada Dimanapun Untuk Siapapun

Jogja, Akhir Mei 2006

Mentari masih mengintip malu-malu saat goncangan besar itu datang dengan tiba-tiba. Hanya dalam hitungan 57 detik, tak sampai 1 menit, gempa berkekuatan 5,9 SR meluluhlantakkan Jogja bagian selatan dan sebagian Jawa Tengah. Rumah-rumah ambruk, tanah longsor, jalanan retak, akses komunikasi terputus. Tak hanya itu, ribuan nyawa juga melayang akibat gempa besar yang terjadi di pagi hari.

Dengan cepat tanggap, Palang Merah Indonesia langsung mendirikan pos-pos kemanusian yang tersebar di berbagai tempat. Saat malam saya melewati kawasan Imogiri, tenda-tenda besar berlogo palang merah dan bulan sabit telah berdiri sebagai hunian sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Tak hanya itu, mereka juga mendirikan dapur umum, posko kesehatan, posko pendidikan, hingga posko trauma healing. Hingga beberapa bulan berikutnya, Palang Merah Indonesia tetap ada di lokasi bencana untuk mendampingi warga.

Jogja, November 2010

Putih, semua terlihat putih. Namun bukan putih yang mendamaikan, jusru putih yang mencekam. Ya, Jogja sedang berselimut abu vulkanik. Sejak berminggu-minggu lalu Merapi erupsi dan mengeluarkan material vulkaniknya tanpa henti. Debu berterbangan kemana-mana, menutupi dedaunan, rumah-rumah, jalanan, dan semua hal yang ada di luar. Semuanya menjadi kelabu. Di dalam kota orang-orang memilih untuk berdiam diri di dalam rumah menunggu suasana membaik.

Namun di Jogja bagian lain ada banyak orang dengan jaket berlogo palang merah yang tak takut menerjang abu vulkanik. Bersama dengan relawan lain mereka bahu membahu menyelamatkan warga yang terdampak erupsi. Mereka juga membuat barak pengungsian, membangun dapur umum, memberikan pertolongan pertama bagi warga yang terluka, hingga melakukan sesi trauma healing bagi anak-anak maupun orang dewasa.

Sekali lagi, Palang Merah Indonesia berada di garda terdepan untuk membantu korban bencana.

ed-cross-day-ransel-hitam

Palang Merah Indonesia, Ada Dimanapun Untuk Siapapun

Palang Merah Indonesia, Ada Dimanapun Untuk Siapapun

Palang Merah Indonesia, sebuah organinasi kemanusian yang sudah ada sejak jaman kemerdekaan. Pada awal pembentukannya, organisasi ini bertujuan untuk membantu korban perang serta terlibat dalam kegiatan donor darah. Namun seiring dengan berjalannya waktu, PMI telah melebarkan sayapnya dengan melakukan tugas-tugas kemanusiaan di daerah bencana. Kegiatan PMI yang berhubungan dengan response bencana mulai dari melakukan pertolongan pertama saat bencana, membantu masyarakat dalam menghadapi bencana, mengurangi dampak bencana, serta mitigasi bencana alias memberikan pelatihan tentang cara-cara meminimalisir terjadinya bencana.

Karena itu ketika terjadi dua bencana besar di Yogyakarta PMI hadir untuk membantu masyarakat dan melakukan tugas-tugas kemanusiaan. Tak hanya di Yogyakarta tempat saya tinggal, PMI juga merambah seluruh penjuru Indonesia dalam membantu korban bencana. Dengan 1,5 juta relawan yang tersebar di 33 provinsi, 371 kabupaten/kota, serta 2.654 kecamatan (data per Maret 2010 dari website pmi.or.id), PMI siap melakukan pelayanan untuk siapa pun dan dimanapun tanpa pandang bulu.

Pada saat terjadi gempa, saya bergabung menjadi relawan bersama-sama dengan kawan-kawan kampus.  Begitupula saat erupsi merapi, bersama-sama kawan komunitas saya bergabung menjadi relawan untuk melakukan trauma healing bagi anak-anak. Dengan pengalaman tersebut saya pun kerap bekerjasama dengan kawan-kawan relawan dari Palang Merah Indonesia.

Manajemen Bencana Ala Palang Merah Indonesia

Ada satu hal yang saya ingat betul, tatkala relawan dari posko-posko lain sudah kehabisan energi dan memutuskan untuk mundur dari daerah bencana, relawan Palang Merah Indonesia tetap bertahan disana hingga proses pemulihan usai. Dulu saya cukup heran dengan hal tersebut, namun setelah melihat lebih dalam tentang PMI saya jadi tahu bahwa ternyata dalam manajemen bencana ada 3 hal yang dilakukan oleh PMI, antara lain sebagai berikut:

  1. Kesiapsiagaan Bencana

Kesiapsiagaan Bencana merupakan program PMI yang bertujuan untuk mendorong dan memberdayakan masyarakat agar memiliki pemahaman khusus sehingga mampu mencegah serta mengurangi dampak dan risiko bencana yang mungkin terjadi di tempat tinggalnya. Program yang bertajuk PERTAMA (Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat) ini diterapkan di daerah rawan bencana baik banjir, gempa, longsor, tsunami, hingga gunung erupsi. Langkah yang dilakukan oleh relawan PMI adalah memberikan pelatihan kepada masyarakat. Sedang lingkup bidang program PERTAMA meliputi bidang kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan hidup. Masyarakat secara sadar diajak untuk menjaga lingkungan tempat tinggal mereka supaya bisa meminimalisir dampak bencana.

  1. Tanggap Darurat Bencana

Dengan menjalankan prinsip “6 jam sampai di lokasi bencana”, PMI berusaha melakukan aksi cepat tanggap dan terkoordinasi saat bencana tiba. Untuk mendukung aksi ini maka relawan PMI dibantu oleh armada pendukung seperti helikopter, ambulans, mobil unit donor darah, mobil tangki air, hingga mobil amphibi. Kegiatan PMI di lokasi bencana pun tidak hanya terbatas pada pelayanan kesehatan melainkan juga pada evakuasi korban, penampungan darurat, dapur umum, distribusi bantuan, hingga mengurusi masalah air dan sanitasi.

  1. Pemulihan Bencana

Setelah masa tanggap darurat bencana usai, PMI tidak serta merta meninggalkan lokasi bencana. Mereka masih mengawal masyarakat dengan melakukan program pemulihan bencana. Program pemulihan atau recovery  yang diberikan ini adalah dukungan psikososial untuk meminimalisir trauma yang dialami para penyintas. Kegiatan yang dilakukan oleh PMI biasanya tidak hanya untuk orang dewasa melainkan juga untuk anak-anak, remaja, hingga lansia. Selain berupa kegiatan permainan, ada juga program konseling. Tak hanya itu, PMI bergandengan dengan banyak pihak juga akan mendirikan hunian sementara bagi para penyintas sebelum mereka bisa kembali ke rumah masing-masing.

Mengetahui hal tersebut saya akhirnya jadi paham, mengapa PMI bisa bertahan begitu lama di lokasi bencana. Sebab mereka tidak hanya melakukan aksi tanggap darurat bencana namun terus berlanjut hingga pasca bencana. Relawan PMI bukanlah relawan yang asal-asalan, melainkan telah dibekali dengan kemampuan dasar yang mumpuni sehingga mereka mampu melakukan tugas-tugasnya dengan baik, memanusiakan manusia melalui aksi kemanusiaan. Saya berharap semoga masyarakat Indonesia tidak memandang sebelah mata terhadap organinasi kemanusiaan ini. Justru yang harus dilakukan adalah memberi apresiasi. Karena tidak semua orang bisa melakukan tugas-tugas kemanusiaan seperti ini.

Jayalah selalu Palang Merah Indonesia!

 

 

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

7 Responses

  1. Andro says:

    Saya dulu waktu SMP dan SMA pernah jadi bagian dari PMI atau lebih tepatnya sebagai anggota PMR.
    Waktu itu sempat menjadi relawan bencana Merapi kalau tidak salah sekitar tahun 94 an (saya masih SMP) dan memang benar tim PMI yang datang lebih dahulu ke lokasi bencana walau sebatas sebagai tim di dapur umum dan memakai peralatan sederhana tp cukup membantu para korban sebelum datang tim dapur umum dari TNI yang mana peralatannya lebih canggih.
    nih sepenggal lirik dari Mars PMI:

    “Palang Merah Indonesia, sumber kasih umat manusia
    Warisan luhur nusa dan bangsa, wujud nyata pengayom Pancasila

    Gerak juangnya ke seluruh nusa, mendarmakan bakti bagi Ampera
    Tunaikan tugas suci, tujuan PMI di persada bunda pertiwi
    Untuk umat manusia diseluruh dunia, PMI mengantarkan jasa”

    Siamo Tutti Fratelli :)

  2. ACT says:

    generasi muda yang suka PMR atau PMI mereka mempunyai kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, semangat kawan

  3. Pas SMP pernah ikut PMR. Sekarang kontribusi ke PMI melalui donor darah 😀

  4. Whh ini dia info yang selama ini saya cari

  5. widiarto says:

    artikel yang sangat menarik

Sharing yuk!