Sore Menegangkan di Pasar Sanggeng Manokwari

“Nek meh motret neng pasar ngati-ati yo Sha, ojo sembarangan!” pesan Mas Yobo dalam bahasa Jawa yang sangat medhok. Bertahun-tahun tinggal di Manokwari rupanya tak sedikit pun mengubah aksen yang dia miliki.

Saya sudah sering mendengar atau membaca kisah tentang orang-orang yang berkunjung ke daerah, khususnya ke Papua, bahwa mereka tidak boleh memotret orang seenaknya. Beberapa kasus yang terjadi, seusai mereka memotret warga lokal, mereka akan dimintai uang oleh orang-orang tersebut.

Kali ini guide dadakan saya, sekaligus kakak kelas masa SMA yang ternyata juga adik tingkatnya Mas Chan di kampus mengingatkan lagi. Saya pun mengangguk tanda mengerti.

***

berdua saja

Sedari dulu, tiap kali berkunjung ke tempat baru, saya selalu suka keluyuran di pasar. Berjalan di lorong-lorong remang yang kadang kumuh, melihat rupa-rupa barang dagangan yang terkadang asing bagi saya, mendengar interaksi antar warga, membaui aneka aroma, semuanya menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Mengunjungi pasar adalah salah satu cara saya untuk lebih mengenal sebuah daerah. Umpama membaca buku, mengunjungi pasar adalah skimming. Dari pasar saya jadi tahu tentang kondisi masyarakat setempat dalam wujud yang paling asli dan tanpa polesan.

Karena itu ketika memiliki waktu luang di sore hari setelah acara inti “BAKTI Jelajah Daerah Bersama Media dan Blogger” usai, saya pun minta tolong pada Mas Yobo untuk mengantarkan menuju pasar. Di Manokwari ada 2 pasar yang cukup besar, yakni Pasar Sanggeng dan Pasar Wosi. Kali itu saya memilih untuk mengunjungi Pasar Sanggeng yang lokasinya lebih dekat dengan hotel tempat saya menginap.

pasar sanggeng

Baca: BAKTI Palapa Ring Timur di Manokwari

Pasar Sanggeng ini terdiri dari beberapa bagian. Di bagian depan yang menghadap jalan raya terdapat gedung bertingkat sebagai bangunan utama. Selain itu di bagian belakang terdapat los-los beratapkan terpal. Dan di paling ujung terdapat los-los ikan yang berbatasan langsung dengan Teluk Dorei.

Berhubung hari sudah sore, saya pun melipir ke pasar bagian belakang, ke tempat penjualan ikan. Sebagai bocah gunung yang jarang melihat ikan laut, mata saya terbelalak lebar. Rasanya senang sekali melihat aneka ikan segar dari ukuran kecil hingga besar.

Jika di pasar yang biasa saya kunjungi mentok saya hanya melihat nila, lele, kembung, atau ikan patin dengan ukuran biasa, maka di Pasar Sanggeng ini saya melihat macam-macam ikan yang saya sendiri tak tahu namanya. Satu-satunya yang bisa saya kenali adalah ikan kembung.

penjual pasar sanggeng

“Mari kakak, dibeli ikannya kakak” tawar seorang bapak-bapak sambil menata ikannya dalam tumpukan-tumpukan kecil. Melihat ikan-ikan segar itu rasa hati ingin memborong semuanya, tapi mau dimasak di mana? di hotel? Saya hanya tersenyum sambil melewati mereka.

Berbeda dengan di Jawa, di mana ikan dijual perkilo, di Pasar Ikan Sanggeng ini saya jarang sekali melihat timbangan. Ikan-ikan disini hanya dihitung atau ditumpuk menjadi gundukan kecil, lantas kita bisa membelinya per tumpuk.

“Ikan ini berapa om?” tanya saya tak tahan saat melihat tumpukan ikan kembung segar.

“15 ribu saja, adek” jawabnya.

Whaaat? Setumpuk ikan kembung hanya 15 ribu? Duuuh, di Pasar gentan harganya bisa berlipat-lipat. Itu pun tak lagi segar dan sudah menginap di kulkas.

Semakin dalam menerobos pasar, saya semakin banyak melihat jenis ikan. Mulai dari ikan kecil sampai ikan sebesar bayi. Di salah satu sudut nampak seorang lelaki muda sedang beraksi. Di depannya terlihat ikan besar yang menggelapar. Dia sendiri baru saja selesai mengasah pisau tajam dan hendak memotong ikan tersebut. Beberapa ibu-ibu nampak berkerumun menunggu dia beraksi.

Berhubung kepo, saya pun penasaran mendekat guna mengabadikan momen tersebut. Sebelum mengambil kamera, saya mengingat pesan Mas Yobo.

“Kakak, bolehkah saya foto?” tanya saya meminta ijin.

Lelaki tersebut menatap sekilas dan menjawab singkat “jangan!” sedangkan kawan-kawannya terbahak menggodanya. Saya pun langsung memasukkan kamera ke dalam tas lagi. Namun belum juga kamera masuk lelaki tersebut tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya dan berkata “boleh nona, tadi cuma bercanda” fiuuuuuh.

atraksi ikan

Dia pun lantas beraksi menggunakan pisaunya memotong ikan besar dengan sangat cepat. Aiiih, mendadak saya ingat tayangan TV Champion Jepang tentang bapak-bapak yang memotong ikan dengan sangat lincah. Tak tak tak tak, tak berapa lama ikan tersebut sudah berubah menjadi irisan sebesar kepalan tangan dan masuk ke kantong ibu-ibu.

Puas memotret dan melihat ikan, saya pun berjalan ke pinggir menjumpai ibu-ibu yang berjualan sayuran. Kemangi, kangkung, cabe, tomat, semua terlihat bersih dan segar. Rupanya para penjual di sini punya trik, mereka mengguyur dagangan mereka dengan air supaya sayuran tersebut selalu segar.

sanggeng

sayuran pasar sanggeng

Mata saya pun terpaku pada tumpukan piring plastik berisikan satu set bumbu masak, mulai dari kunyit, kemangi, cabai, tomat, daun jeruk, hingga bawang merah. Rupanya bumbu tersebut merupakan bumbu untuk ikan kuah kuning. Mereka menjualnya satu paket untuk memudahkan pengunjung. Mereka juga menjual tomat, bawang merah, bawang putih, hingga cabai dalam piring-piring plastik. Satu piring dihargai 5 ribu rupiah.

Rata-rata semua pedangang di tempat ini menjual dagangannya dalam harga genap. 5 ribu, 10 ribu, 15 ribu, atau kelipatannya. Saya tidak tahu alasannya apa, mungkin untuk memudahkan mereka dalam menghitung sehingga tidak sulit saat memberikan kembalian.

***

Selepas dari Pasar Ikan, saya pun memasuki los pasar yang lain. Kali ini isinya macam-macam, mulai dari sayuran, bumbu, pakaian, mainan anak-anak, hingga kacet VCD bajakan. Berhubung saya datang menjelang Natal, di dalam pasar saya melihat seorang ayah yang asyik menghias pohon natal mini dibantu beberapa anak kecil.

jual vcd

Di sisi luar ada dua orang remaja berteriak dengan suara nyaring “Banting-banting kakak, 10 ribu saja”. Awalnya saya tak paham apa maksudnya banting-banting. Setelah saya perhatikan dengan seksama rupanya dua bocah itu menjual mercon. Dan istilah untuk petasan/mercon adalah banting-banting.

Lelah berkeliling, saya pun berjongkok di sebelah mama penjual dan ngobrol singkat. Mama tersebut bernama Selfrina, setiap sore dia berjualan di Pasar Sanggeng. Jualannya tidak banyak, dia hanya membawa apa saja yang ada di kebunnya. Sore itu dia menjual rica (cabe rawit), kasbi (ubi), dan beberapa sayuran.

mama selfrina

Saat saya sedang asyik ngobrol dan mengambil gambarnya, tiba-tiba seorang pria mendekati saya dengan tatapan yang tidak bersahabat. Dia berdiri di belakang saya dan mengeluarkan kata-kata yang menyerupai gumaman namun masih jelas saya dengar.

“Kakak dari mana? Jangan suka ambil foto sembarangan di sini. Kakak wartawan kah? Jangan cerita yang tidak benar soal kami. Hati-hati kakak!”

Sontak saya mematung. Tak tahu apa yang hendak diinginkannya. Sambil memasukkan kamera ke dalam tas saya jawab bahwa saya sudah meminta ijin kepada Mama Selfrina untuk mengambil gambarnya. Saya juga bilang bahwa saya bukan wartawan melainkan pengunjung biasa yang sedang jalan-jalan. Sambil menjawab saya berjalan menjauhinya dan bergegas menuju Mas Yobo yang menunggu saya di parkiran.

Tapi lelaki itu terus mengikuti saya dan berkata “Iya mama itu sudah memberi ijin, tapi kakak tak bisa sembarangan ambil foto. Kemarin di gunung sana ada orang yang ambil foto, setelah itu ada orang yang mati. Jangan pikir kami semua bodoh” katanya seperti meracau tidak jelas. Saya pun makin ketakutan. Yang ada dalam pikiran saya adalah orang ini hendak meminta uang gara-gara saya memotret di pasar.

Saya berjalan makin cepat, bahkan setengah berlari. Berhubung orang tersebut lebih pendek dari saya, dia agak kesulitan mengejar. Saat sudah bertemu Mas Yobo saya bercerita singkat soal kejadian di pasar dan mengajaknya bergegas pergi. Saat itu saya benar-benar panik dan takut. Tangan saya terasa sangat dingin dan berkeringat.

Belum juga motor dinyalakan, lelaki tadi sudah ada di depan kami. Haduh, mampus ni, pikir saya ketakutan. Saya pun berdiri di belakang Mas Yobo dan menyuruhnya yang berbicara dengan lelaki itu. Lagi-lagi dia meracau soal tidak boleh memotret di pasar dan ada indikasi hendak meminta uang. Untung Mas Yobo mampu berbicara dengan baik kepada orang tersebut sehingga akhirnya dia pergi sendiri. Fiiuuuuh legaaaa. Saat itu juga saya merasa plong.

Bagi saya kejadian itu teramat membekas. Pengalaman yang cukup menegangkan. Jika saya sendirian dan tidak ada Mas Yobo entah apa yang akan terjadi. Beruntung guide saya ini sudah bertahun-tahun tinggal di Manokwari sehingga dia bisa menghadapi perilaku orang-orang di sana.

Di jalan pulang Mas Yobo berkata bahwa kemungkinan dia bukan orang Manokmwari. Dilihat dari postur tubuhnya dan wajahnya kemungkinan dia masyarakat gunung. Dan memang, warga Papua gunung cenderung lebih mudah curiga pada orang-orang baru dibandingkan masyarakat pantai yang lebih terbuka.

Pengalaman menyusuri Pasar Sanggeng ini benar-benar menjadi pelajaran baru buat saya. Bahwa saya sebagai pejalan harus paham dengan budaya tempat saya berkunjung. Selain itu yang paling penting jangan memotret sesuka hati. Sebisa mungkin mintalah ijin pada obyek manusia yang hendak difoto. Lawong sudah minta izin saja nyaris dimintai uang, apalagi kalau yang asal jepret. Jadilah pejalan yang sopan!

Kalau teman-teman sendiri pernah ada pengalaman menegangkan saat jalan-jalan nggak? Bagi cerita di kolom komentar dong!

 

 

 

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

41 Responses

  1. Kalau ditanya pernah ada hal yang membekas seperti cerita Mbak Sha, aku jadi mikir kayaknya sih nggak ada. Atau justru kebalikannya, ada banyak banget sampai bingung ceritanya. Haha

    Itu Ibu Selfrina-nya nggak mbelain ya?

    Salah satu cita-citaku tuh jualan sayur atau buah tapi semuanya dari kebun sendiri.

    • Saking banyaknya jadi ngerasa biasa aja ya, Gal.
      Mama Selfrina nggak ngeh juga, si bapak itu omongnya bisik-bisik. Pasarnya bising juga kan, orang ngomongnya keras-keras. Jadi aku langsung pamit aja.

      Jadi tu ya, di Manokwari selain jualan di pasar, banyak juga orang yang jualan di depan rumah mereka. Bikin semacam gubug gitu, dan jualannya hasil kebon. Kalau cabe, tomat, atau jeruk dipiringin gitu jugak.

      • Nah iya mungkin emang dasarnya aku penakut, jadi pasti deg-degan takut bahkan buat ke parang tritis gitu. overthinking. Tapi karena sadar jadi kadang abai aja, “ah paling mung overthinking kayak biasane.”

        Wah itu karena saking melimpahnya hasil kebun mereka atau gimana, Mbak?

  2. Diah says:

    Pasarnya ramai sampai sore/malam ya mbak? Kalau di Jawa kan rata-rata tengah hari udah bubar.

    Soal harga jual, saya jadi ingat dulu pas pindahan dari Tangerang ke Madiun. Di Madiun sini sempat kaget. Kok masih ada harga 700 rupiah segala, hahaha… Sedangkan pas di Tangerang dulu harganya selalu ‘genap’ 500, 1.000, 5.000, dst.

    • Ini itungannya emperannya sih mbak, bagian belakangnya jadi rame sampai jam 7an lah. Kalau gedung utamanya di bagian depan cuma sampai sore aja kayaknya.

      Waaah 700rupiah ahahahaha. Saya aja yang sama-sama Jawa, dari Wonosobo ke Jogja juga kaget mbak. Kalau di Wonosobo beli bawang brambang atau cabe gitu kan biasanya per ons atau seperempat, setengah kilo gitu. Kalau di Jogja saya bisa aja minta beli 2ribu dikasih. Kalau di Wonosobo dulu mah mesti dimarahi penjualnya hehe.

  3. Hastira says:

    pasarnay sederhana sekali ya

  4. Rahma balci says:

    tapi seru ya kalau jalan2 ke pasar, saya juga disini kalau tiap musim panas,suka maksain ngajak suami ke pasar besar dekat pantai, dinegara 4 musim nemu sayuran tropis itu juga kayak nemu harta karun, meski cuma nemu pare,ga lupa saya foto:D sayurnya, tapi kalo orang2nya disini jg sama,harus tanya dulu,kadang ada jg yang ga suka difoto-foto, kalo di posisi yang sama ditanya2 orang asing gitu saya jg mungkin cemas, mikir yang engga2, apa kameranya direbut,atau dia maksa2 minta duit, syukur temannya bisa nolong ya mbak. kunjungan pertama, slm kenal ya:)

    • Wah apalagi di luar negeri biasanya soal privasi lebih dijaga ya mbak, gabisa sesuka hati motret orang dan diunggah. Iyaaa, kemarin ketakutan saya kalau dimintai duit terus dibikin ribut gitu, gabawa duit juga soalnya ahahahaha.

      Btw terima kasih sudah berkunjung. Salam kenal juga, mbak :)

  5. Bara Anggara says:

    Ngeri banget ya sampai diikutin gitu.. Aku kemarin pas di Papua juga dibilangin sih jangan foto2 sembarangan, kalau mau foto harus ijin dulu mau difoto atau enggak.. Tapi untungnya semua aman2 aja, ga ada yg rese.

    -Traveler Paruh Waktu

    • Iya mas, aku gemeteran ahahahaha. Takutnya didenda atau apalah. Sini kan pendatang ya, ogah kalau ribut sama warga lokal. Emang sih ya, etikanya kita harus ijin saat minta foto.

  6. Wew.. Seger-seger banget sayuran sama ikan-ikannya.. Yang harganya Rp15.000 itu murah tenin.. haha

    Wah, pengalaman asal jepret trs ditegur juga pernah.. Syukur dengan jurus 1001 ngeles, bisa lolos dengan mudah.. haha
    Itu betulan karena minta bayaran kah..? hadehh

    • Makanya itu mas, aku ngiler. Mbayangke ikan sesegar dan sebanyak itu ada di pasar yang biasa kukunjungi di Jogja. Pasti aku makan ikan terus biar ndak dimarahi bu susi hihihi.

      Enggak tahu sih dia maunya apa, curiga aja sih mungkin dikiranya aku siapa gitu. dan bisa jadi mau malak juga hehe.

  7. Baktiar Sontani says:

    Wah repot juga kalau ada kejadian seperti pas lagi motret, untung aku jarang motret orang kecuali kalo ada acara…

  8. Wah…malah baru tahu kalau ada larangan mengambil foto juga. Tahunya cuma kalau nabrak babi suruh ganti rugi..
    Baca cerita mbak shasha tu seru.. Jadi terbawa perasaan ikut perjalanan ke sana..

    • Di Papua (dan beberapa daerah) emang gitu mbak, kadang warga memanfaatkan orang yg mengambil gambar mereka diam-diam buat dimintain uang. Iya kalau nabrak babi lebih parah lagi dendanya, apalagi babi betina.

  9. dismonimo says:

    Kalo aku yang digituin sama orang, aku juga udah takut mb. Apalagi posisinya sebagai orang luar.

    Btw, mb sasha jadinya belanjan apa aja di pasar? Ehehe

  10. yuuhhhh, mbak sasa, aku jadi inget perjalananku ke papua, selama di sana nggak pernah pergi tanpa guide (temen sendiri sih), gaberani mba… kalau mau motret di mana pun sebenernya juga harus izin sih, dan harus bener-bener dapet izin… duh kangen ikan kuah kuning juga, ternyata cara jual bahan-bahannya unik gitu yaa…

    • Sama Mbaaak, akupun selalu ditemani Mas Yobo ini hihi. Untung akhir tahun ya, jadi kantornya dia libur. Selepas acara resmiku selesai aku diajakin jalan-jalan sama dia ke banyak tempat. Daaan ditraktir ikan kuah kuning jugaaaa, duh juwarak deh ya, endeeeeus.

  11. agi tiara says:

    tapi emang topik soal foto (street) seperti ini sering jadi obrolan antar teman-teman fotografer sih mba. memang bagusnya kalo mau foto izin dulu dengan orang yang akan difoto. dulu pernah baca nicoline menulis soal ini. tricky memang

    • Aku juga kadang ngikutin obrolan itu dari kawan-kawan fotografer mbak, riskan memang ya. Tapi kalau aku pribadi sih sekarang prefer minta ijin dulu sama yang bakalan difoto.

  12. Ririe Khayan says:

    Wah, ikan kembung segar setumpuk cuma 15 rebu? padahal ikannya banyak, bisa lebih dr 1 kg kan ya?

    Lombok, tomat dan aneka sayurannya juga.menggiurkan.

    Kalau ditanya pengalaman di pasar yang menegangkan, sepertinya belum ada. Tapi kalau ditanya, seberapa menarik dan serunya belanja di pasar, saya jawab seruu dan menarik banget, suka kalap beli sayuran, trs sampe rumah bingung sayuran mana yang mau dimasak duluan.

    • Iya mbak, murah banget. Sayurannya tuh kelihatan segar-segar, bukan yang layu gitu, jadi mupeng buat beli-beli.

      Ahahahaha, ternyata saya ada temannya. Kalau di pasar lihat sayuran hijau segar langsung pengen borong, akhirnya sampai rumah bingung mau masak apa ahahahaha.

  13. Kebetulan suamiku dibesarkan di Papua (tepatnya di Biak), dia sering cerita tentang pasar disana. Membaca blog ini Saya jadi seperti melihat langsung apa yang pernah Saya bayangkan karena hanya dengar cerita.

  14. Mei says:

    saya suka kehidupan tradisional seperti ini, unik. membaca cerita ini saya membayangkan ada di sana dan gagal fokus sama ikan-ikan segarnya mereka, sayuran dan bumbu dapur yang seger-seger. pas lagi saya mau masak pepes ikan :) ajak-ajak ya Mba kalau mau berkunjung ke tempat-tempat unik seperti ini lagi :)

  15. Riana Dewie says:

    Waduh ngeri. Kalau saya yang jadi mbak sash, paling wis semaput Ning dalan. Palagi dikejar orang kek gt .btw pengalamannya asik mbak 😁

  16. Seram banget, Sash. Saya juga akan takut jika ada yang gitu. Semoga saja insan demikian yang berlebihan dan bisa jadi main ancam pakai cerita bohong bisa diamankan, itu akan mengganggu ketenangan pasar Turis jadi takut datang, dan yang rugi ya warga asli pesisir sana.
    Saya suka ikan dan suka kehidupan pasar. Memang mengasyikkan melihat lorong pasar tradisional di sana. Lucunya cara dagang mereka tak berubah, di majalah “Intisari” saja cara jualan mereka gitu. Ditumpuk dan dipilah dalam deretan rapi tanpa timbangan. Murah juga harganya padahal dulu sangat mahal. Semoga Papua kian maju masyarakatnya secara pendidikan dan pengetahuan. Jangan jadi daerah 3 T lagi.

    • Ya gitu deh mbak, bertahun-tahun hidup dalam “cengkeraman” membuat mereka banyak menaruh curiga dan praduga terhadap pendatang. ya nggak bisa disalahkan 100% sih.

      Di Manokwari ini harganya tidak semahal yang saya kira. Masih standar kok. Tapi kalau sudah masuk ke daerah gunung memang mahal-mahal sekali, soalnya akses ke sananya sangat susah, harus memakai pesawat juga to. Amiiiin, doa kita semua semoga pembangunan di Indonesia semakin merata.

  17. Slamsr says:

    penasran, kira kira apa yang dibicarakan mas yobo kepada pria yang menghadang bilang “setelah motret ada yang mati” itu sampai akhirnya gak mengikuti lagi.

    Dan saya masih penasaran, ini yang mati orang gunungnya atau yang motret..

    • dia cuma ngejelasin kalau saya cuma jalan-jalan aja, nggak ada maksud apa-apa, lagian juga cuma udah ijin sama orang2 yang ditemui, tapi dia ngomongnya pake logat papua gitu, terus gatau deh ngomong soal apa. pokoknya terus si bapak itu ngeluyur pergi.

      kayaknya sih orang gunungnya, mas. jadi setelah ada orang luar datang motret2 tak berapa lama ada warga yang mati gitu. embuhlah. dia ngomongnya juga cepat. dan aku masih ingat jelas wajah bapaknya.

  18. wisnutri says:

    Bacanya ikutan deg-deg’an, mbak. Bisa jadi referensi juga ini. Dulu tak kira yang ada tradisi “ijin” dulu itu cuma untuk masyarakat yang tinggal di gunung. Ternyata di pasar pun, harus ijin juga?

    Berati semua foto yang ada di blog ini, nggak serta merta jadi gitu aja mbak? Bener-bener harus ijin dulu sama orang yang ada di dalam foto kah?

    • Kalau di Papua mah mending di semua tempat ijin, mas. Daripada berabe hehe.
      Saya emang kebiasaan minta ijin kalau mau motret orang yang kelihatan wajahya, tapi ya enggak semua foto juga sih hehehe. Cuma pas perjalanan ke Papua kemarin emang minta ijin dulu. Ijin motret aja tapi, bukan ijin mengunggah di blog ahahaha.

  19. Lina Sophy says:

    Beh ketemu preman rasanya gimana kalau aku ya hahaha, ngeri ya? Asyik ya aja bisa langsung lihat dagangan yg iketan dan piringan langsunh, aku taunya di tv doang 😂

Leave a Reply to Nisya Rifiani Cancel reply