Tentang Jogja dan Semangat Juang yang Tak Lekang

Jogja itu kumpulan rindu yang menjadi candu. Tentang kesal yang tak timbulkan sesal. Tentang kesah yang tak menjadi amarah. Tentang patah hati berkali-kali, namun kita masih bisa bangkit dan jatuh hati lagi.

jogja1

Semesta masih lelap dalam tidur panjangnya saat roda sepeda motor yang saya tumpangi membelah jalanan salah satu sudut pelosok Bantul. Hujan yang datang di penghujung malam menyisakan genangan air di bahu jalan. Sesekali air tersebut tampak berkilau terkena lampu sorot sepeda motor atau membiaskan cahaya lampu penerang jalan.

Selain dua motor yang ditungganggi oleh saya dan 3 kawan lainnya, tak ada lagi kendaraan yang melintas. Maklum, saat itu pukul 03.30 pagi. Orang-orang lebih memilih bergelung dalam selimut tebal dibanding keluyuran di jalan raya.

Saat mata saya nyaris terpejam, kawan saya mengerem dengan mendadak dan menjadikan sepeda motor sedikit oleng. Ternyata dia juga sama mengantuknya, sehingga tak menyadari jika di depannya ada sepasang suami istri yang berjalan beriringan sambil memikul hasil bumi. Untung kawan saya sigap. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada kami.

Bukannya marah kepada kami yang sembrono, pria paruh baya dengan keriput yang menghiasi wajahnya itu justru meminta maaf. “Nyuwun ngapunten nggih mas, mbak. Kula mlampah wonten tengah mergi,” (Mohon maaf ya mas, mbak. Saya jalan kakinya di tengah). Sebuah keramahan dan kerendahan hari khas perdesaan yang sangat jarang dijumpai dewasa ini.

Sambil melanjutkan perjalanan, kawan saya pun berkisah bahwa dia kerap menjumpai sosok-sosok keluarga yang berjalan kaki pada dini hari guna sampai di kota sebelum fajar tiba. Tujuan mereka satu, menjual hasil panen, kemudian uangnya akan digunakan untuk mencukupi keperluan sehari-hari.

“Mereka itu rumahnya jauh-jauh lho Sash. Dan mereka akan jalan kaki belasan bahkan mungkin puluhan kilo pulang pergi. Makanya mereka berangkat pagi-pagi buta gini,” terang kawan saya.

“Hal-hal gini yang bikin aku nggak mau males-malesan. Mereka saja sudah sepuh tapi masih mau bekerja keras, masak aku yang muda dan punya banyak fasilitas malah seenaknya dan enggak mau berjuang. Terserah sih orang-orang nganggep aku workaholic, tapi bekerja sebaik-baiknya itu caraku menghargai kehidupan” imbuhnya lagi.

Subuh itu, saya yang sedikit mengeluh karena terpaksa lembur dan harus pulang pagi-pagi buta merasa tertampar. Perjuangan saya tidak ada apa-apanya dibanding mereka.

Lantas saya teringat akan Mbah Sadinem, perempuan lanjut usia asal Bantul yang pernah saya jumpai di Keben, Keraton.  Kala itu hari sudah malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Bukannya beristirahat di rumah, Mbah Sadinem justru masih setia menunggui dagangannya berupa sekar ganten alias bunga-bunga yang biasa dicari orang. Rupanya dia berharap mendapat keuntungan lebih dari acara Miyos Gongso yang sedang dihelat oleh Keraton Yogkarta.

Tak jauh beda dengan sepasang suami istri yang saya jumpai pada waktu subuh di jalanan basah sudut Bantul. Mbah Sadinem ini berkisah bahwa hari-harinya dihabiskan dengan bunga-bunga. Setiap hari dia memetik aneka bunga yang ada di halaman rumahnya di Jogja Selatan, lantas dibawanya berjalan kaki ke Pasar Ngasem (saat Pasar Ngasem masih menjadi pasar hewan). Jika ada acara semacam Miyos Gongso atau sekaten, terkadang dia tidak pulang ke rumahnya karena harus berjualan hingga malam.

Mengingat semua anaknya yang sudah berkeluarga, sebenarnya bisa saja dia memilih diam di rumah dan tak perlu susah payah berjualan bunga. Namun jawaban yang keluar dari mulutnya justru menggetarkan hari saya, “selama tubuh masih kuat, pantang bagi saya untuk nganggur dan hidup numpang orang lain, mbak,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Lagi-lagi saya tertampar. Ucapannya tepat menohok jantung saya.

13 tahun melewati hidup di Jogja kerap membawa saya berjumpa dengan sosok-sosok tangguh seperti dua kisah yang sudah saya ceritakan. Mulai dari kisah para nelayan di Pantai Gesing yang menembus gelombang besar guna mencari ikan, kisah wanita perkasa di lereng Merapi yang mencari rumput untuk hewan ternaknya, penarik becak yang berjuang demi menyekolahkan anaknya, dan banyak kisah-kisah lain yang menyentuh hati.

Tak hanya didominasi oleh kaum tua, beberapa kali saya juga jumpa dengan generasi muda yang berjuang demi bisa mewujudkan mimpi-mimpi dan harapan mereka. Mungkin kita masih ingat kisah Desi, siswa SMK yang tak malu menjual slondok demi membayar biaya sekolah. Ada juga kisah Bripda Taufik, remaja yang tinggal di bekas kandang sapi dan mampu mewujudkan cita-citanya menjadi polisi. Atau kisah dynamic duo NDX A.K.A Familia yang sempat menjadi kuli bangunan dan penjaga warnet sebelum menjadi penyanyi kondang seperti saat ini. Ada satu benang merah dari kisah-kisah mereka, yakni perjuangan tanpa kenal lelah.

Saya tak bisa membayangkan jika orang-orang seperti mereka merasa lelah dan berhenti memperjuangkan mimpinya. Mungkin hidup mereka akan berhenti di satu tempat. Mandeg. Tidak akan terjadi perubahan apa pun. Justru bisa saja kemunduran yang dialami. Tak ada kisah hidup mereka yang bisa menjadi inspirasi. Untungnya mereka tidak menyerah pada keadaan, justru berjuang melawannya dan menjadikan semua kemustahilan itu menyingkir.

Perjuangan. Berjuang. Itulah kata kunci yang mampu mengubah keadaan. Dan di Jogja saya belajar tentang nilai-nilai perjuangan itu.

Di kota ini mimpi saya pernah melambung begitu tinggi dan kemudian terhempas, terjun bebas. Menimbulkan luka lebam dan memar di sekujur badan. Jatuh bangun, remuk redam, bahkan nyaris tersungkur kalah dan menyerah. Hingga terpikir untuk meminggir.

Namun Jogja mengajari saya untuk tidak menjadi pecundang yang meninggalkan gelanggang pertandingan. Hidup itu berat dan saya harus berjuang. Menjadi atau tidak menjadi. Perlahan, Jogja mendidik saya untuk berani berdiri di atas kaki sendiri.

Ternyata selain soal rindu, pulang, dan angkringan, Jogja juga tentang semangat perjuangan. Semangat bekerja keras tanpa kenal lelah juga menyerah.

Menjadi Jogja adalah menjadi manusia dengan daya juang serta daya hidup yang tinggi. Menjadi Jogja adalah menjadi manusia yang tidak menyerah dan pasrah pada keadaan yang menghimpit. Menjadi Jogja adalah tidak tunduk, namun justru berdiri dan melawan pada semua bentuk ketidakadilan, diskriminasi, intoleransi, dan segala hal yang mampu memecah belah persatuan Indonesia. Menjadi Jogja adalah menjadi manusia yang berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Menjadi Jogja adalah menjadi Indonesia.

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

14 Responses

  1. Dwi Susanti says:

    Ketika aku pernah bertanya kepada temen-temenku yg tidak juga lulus (pada masa itu) ada alasan yang cukup menggelitik mbak: “belum rela meninggalkan Jogja.” Dan begitupun ketika dia kembali ke daerah asalnya, pasti yang diangen-angen kapan lagi nostalgia ke Jogja.

    Secuil santun, sapa, ramah, budaya, yang masih menaungi Jogja, semoga begitu dan tetap begitu. Jogja itu candu.

  2. Betul mbak sash, di jogja itu banyak yg sepuh2 yang semangatnya gak kalah sama yg muda2.

  3. Nurfah Fitriyani says:

    Terima kasih tulisannya, mba. Sudah kembali menyalakan semangat juang dan keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.

    Salam kenal

  4. Tulisan yang manis. Membaca dan ‘mendengarkan’nya langsung dari orang yang pernah jatuh bangun di kita ini, rasanyw seperti meneguk air kelapa muda di tengah pantai yang terik. Menyegarkan, dan kagum. Semoga beruntung, mbak Sasha. Selamat!

  5. ranselusang says:

    kalo baca cerita ini membuat aku membayangkan semua keluh kesah bercampur aduk. antara harapan dan perjuangan hampir hilang. namun semangat masih belum padam untuk mewujudkan nya sebelum menjadi pecundang

    terima kasih sudah membawa ku berandai andai kak :)

  6. charis fuadi says:

    aku sepuluh tahun di jogja kehidupannya memang membuat kita menjadi manusia, benar-benar jadi manusia, bekerja keras, salang menghormati, saling sapa dan senyum mereka yang akan selalu saya kenang

    • Iya, Jogja itu bukan semata tentang letak geografis tapi lebih tentang orang-orang dan hati yang ditemui di sepanjang langkah. Semoga nafas Jogja yang seperti ini selalu terjaga yak.

  7. Leo Martha says:

    Tulisan yg keren Sha…andai ga malu, mungkin dulu aku bakal pake alesan ‘masih pengen di Jogja’ buat alibi atas skripsi yg molor…hahahaa…
    Sayangnya…ga kayak kamu, aku ga berhasil dapetin jodoh orang Jogja :-(

    • Makasi Mas Leo :)

      Ahahaha, ternyata kita sesama geng “skripsi molor” tos dulu ah.

      Yawes sekarang nabung aja, biar tua kelak bisa beli rumah di Jogja dan pensiun di kota yang ngangeni ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *