Berkelana Sejauhnya dan Ibu Akan Menantimu di Beranda

renjana berkelana

Oh, Ibu tenang sudah
lekas seka air matamu
sembapmu malu dilihat tetangga

Oh, ayah mengertilah
Rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya 

Saat mudik ke Wonosobo beberapa minggu lalu, di sela pillowtalk hingga dini hari dengan adik semata wayang saya, ada satu pertanyaan yang dia lontarkan yang membuat saya terdiam beberapa saat sebelum menjawabnya.

“Mbak nggak kepikiran buat balik lagi ke rumah? Mbak nggak mikirin bapak ibu yang mulai sepuh?”

Setelah jeda beberapa detik akhirnya saya pun menjawab “Sejak pertama kali keluar dari rumah 12 tahun lalu aku sudah merasa bahwa aku nggak akan balik dan hidup disini lagi. Entah kalau kelak Tuhan berkehendak lain.”

Ya, sejak dulu, sejak lulus SMA dan memutuskan merantau ke Jogja saya sudah memantapkan diri untuk tidak akan kembali lagi ke rumah dan tinggal bersama orangtua. Kala saya memutuskan resign dari pabrik kata-kata dan hidup nggak jelas di Jogja, bapak ibu berulangkali membujuk saya untuk pulang dan mencari pekerjaan di Wonosobo. Tapi saya tetap diam tak bergeming.

Ini bukan berarti saya tak peduli pada orangtua dan tidak menghormati mereka. Tapi saya tahu, jika saya pulang bisa jadi hubungan kami tidak semakin erat namun justru merenggang karena akan banyak perdebatan yang kerap timbul. Setelah sekian lama hidup sendiri rasanya saya tidak mampu jika harus hidup bersama lagi dengan orangtua dan harus berkompromi tentang banyak hal. Perkara berbakti pada orangtua itu lain lagi.

Untuk saat ini saya tidak terlalu memikirkan hal tersebut. “Lagipula kan masih ada kamu di rumah dek? Jadi aku nggak terlalu kepikiran sih,” lanjut saya. Dan adik saya pun bergumam dalam kegelapan.

Obrolan sepintas lalu itu dengan cepat lenyap dari otak saya. Hingga akhirnya beberapa waktu lalu saya melihat seorang kawan menautkan sebuah link artikel di beranda facebook. Artikel yang bersumber dari hipwee itu judulnya “Nak, kamu boleh berkelana ke suluruh dunia. Tapi ingat pulanglah kepada mama untuk terakhir kalinya” kalau penasaran bisa baca disini.

Banyak kawan saya yang jadi baper gara-gara baca itu. Apalagi yang sudah emak-emak dan punya anak. Mereka jadi galau abis ngebayangin ditinggal berkelana oleh anak-anaknya saat dewasa kelak. Sedangkan saya? Saya enggak baper tuh. Bahkan cenderung biasa aja.

Saat ini status saya bukan hanya seorang anak, namun juga seorang ibu dari anak lelaki. Seperti yang saya yakini tatkala pertama saya keluar rumah dulu, saya tahu bahwa kelak saya pasti akan ditinggalkan berkelana oleh anak saya. Apalagi saya juga mendidiknya untuk menjadi pengelana. “Bertualanglah, supaya tau bahwa bumi yang Tuhan ciptakan itu luas sehingga kau akan semakin kagum dan berserah kepadaNYA”.

Saya percaya hukum tabur tuai. Ketika saya memilih pergi dari rumah, maka kelak saya pun harus maklum jika anak lelaki saya memutuskan untuk meninggalkan ibu bapaknya dan berkelana menuju jauh. Saya tak boleh tangisi. Justru saya harus mendukung tiap pilihannya. Yang saya lakukan sekarang adalah mendidiknya sebaik-baiknya, menikmati tiap momen kebersamaan dengannya, dan menyiapkan hati jika kelak ditinggal pergi. Lagipula saya percaya, sejauh apa dia bertualang kelak dia pasti akan tetap singgah ke pelukan simboknya kok.

Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumah 

 

Menulis ini di siang yang mendung
sembari mendengarkan “di beranda” tanpa henti
dan sesekali menatap bayi yang tertidur lelap

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

3 Responses

  1. ah saya juga suka lagu banda neira yg itu mbak ^^
    setiap dengeriin lagu tsb saya jd ingat bapak & ibu :’)

  2. Benerr sekali mass..

Sharing yuk!