Berkereta ke Solo Bersama Ibu

kereta ke solo

Seumur-umur ibu saya belum pernah naik kereta. Berkali-kali saya berjanji mengajaknya, berkali-kali pula rencana itu batal. Makanya saat bulan kemarin ibu ke Jogja, saya berusaha melunasi janji. Saya pun mengecek jadwal kereta ke Solo, sekaligus cek jadwal lengkap kereta dari Solo ke Semarang.

Jadi idenya begini. Dari Jogja kami akan naik Pramek ke Solo. Di Solo kami akan putar-putar keliling kota sejenak, kemudian lanjut lagi naik kereta ke Semarang. Lantas menginap di Kota Atlas sekaligus mengunjungi saudara yang tinggal di sana. Tapi sepertinya itu akan melelahkan bagi ibu, makanya opsi Solo-Semarang dicoret.

Pada kamis pagi, kami bertiga (saya, ibu, dan Renjana) meluncur ke Stasiun Lempuyangan. Saat itu saya belum memiliki tiket dan berencana membeli tiket go show. Dari rumah pukul 7.30, berharap bisa dapat tiket pukul 9-nan.

Ternyata saya terlalu percaya diri. Di loket sudah tertera pengumuman bahwa tiket Prameks sudah ludes. Untuk keberangkatan tercepat adalah pukul 10.51 WIB. Saat saya meminta pendapat pada ibu beliau bilang tidak masalah menunggu lama. Akhirnya kami pun menunggu nyaris 3 jam di stasiun.

Sekitar pukul 10.30, kami sudah diijinkan masuk ke peron. Ibu nampak begitu bersemangat, bahkan beberapa kali minta difoto untuk dipasang di status WA-nya. Saya hanya tertawa. Senang sekali melihat ibu seantusias ini setelah tahun-tahun sebelumnya ibu kehilangan gairah hidup akibat kepergian Bapak.

ibu sasha

Kereta yang ditunggu pun akhirnya tiba. Kami bergegas masuk dan mencari kursi untuk duduk. Ternyata kereta sudah penuh, untuk masih ada satu kursi tersisa. Ibu saya arahkan untuk duduk di kursi tersebut. Sedangkan Renjana memilih untuk berdiri di depan jendela.

“Wah, ternyata penak numpak kereta, ora mumet” kata ibu. Lagi-lagi saya tertawa dan mengiyakan pernyataan ibu.

“Iki aku iso karo nulis wasap, padahal biasane nek numpak mobil karo wasapan mual” imbuhnya.

Setelah satu jam perjalanan, kereta pun tiba di Solo. Kami bergegas menuju shelter BST. Menurut seorang kawan, jika ingin berkunjung ke Pasar Gedhe saya bisa langsung naik BST dari depan stasiun. Beruntung saat itu ada bus yang baru tiba.

Lagi-lagi dengan penuh percaya diri saya mengajak Renjana dan ibu masuk. Ternyata setelah bus berjalan dan ngobrol dengan kondektur kami salah jalur. Semua akibat ke-sotoy-an saya. Sambil cengar-cengir saya pun minta turun di shelter depan Pizza Hut jalan Slamet Riyadi, kemudian memesan gocar.

Berhubung hari sudah siang, kami mengubah rencana. Pasar Gede skip, tapi langsung menuju ke Pasar Klewer. Maklum, namanya juga simbok-simbok, yang diincer mesti batik. Tapi sebelumnya makan siang dulu di depan Masjid Agung.

Menurut pengemudi Gocar yang kami naiki, di daerah situ ada warung tengkleng Bu Edi yang cukup terkenal dan enak. Tapi sayangnya ibu ogah makan di situ. Saat saya tawari makanan yang lain beliau juga tidak mau. Ibu malah memilih untuk makan nasi lodeh dan ikan pindang. Yasalaaaam, jauh-jauh naik kereta ke Solo makannya sama aja seperti yang biasa saya masak.

Usai makan kami berjalan kaki ke Klewer yang hanya seperlemparan batu. Ibu belanja kain brokat dan batik untuk adik. Saya beli blouse untuk sendiri dan hem untuk Renjana. Dari Pasar Klewer kami langsung bergegas menuju Stasiun Balapan guna mencari tiket balik ke Jogja. Kami berharap bisa mendapat tiket untuk jam 3 atau 4 sore.

Lagi-lagi sesampainya di Stasiun Balapan tiket telah ludes. Tiket Prameks hanya ada untuk keberangkatan pukul 18.00 dan loket pembeliannya pun baru dibuka 3 jam sebelum berangkat. Kami pun menunggu lagi satu jam untuk antri tiket. Begitu tiket sudah di tangan kami memutuskan untuk ke Taman Balekambang sembari menunggu jam 6 sore.

Ternyata Taman Balekambang cukup menyenangkan, ya. Sejak masuk gerbang dan melihat tanah lapang dengan banyak pohon Renjana langsung lari-lari. Belum lagi saat melihat ada Rusa, Monyet, Angsa, dan aneka burung. Dia benar-benar menemukan habitatnya. Lari ke sana ke mari tanpa kenal lelah.

Beruntung warga Solo mempunyai public area seperti ini. Saya membayangkan jika Jogja punya taman besar dan rindang di tengah kota pasti akan menyenangkan. Saya pasti akan sering “ngumbar” bocah. Sebenarnya Jogja punya sih taman besar yang sangat rindang, banyak hewannya juga. Tapi masuknya kudu bayar 25rebu, namanya Gembira Loka Zoo hehehehe.

ibu

Ibu sendiri terlihat sangat nyaman berada di tempat ini. Kami berdua duduk di bawah pohon Beringin yang besar sambil berbincang banyak hal. Sejak rentetan badai yang melanda dan mencapai puncaknya pada tahun 2017, hubungan kami sempat merenggang. Bahkan ada masanya saya benar-benar malas bercakap karena tahu hanya akan berakhir dengan saling menyakiti. Puji Tuhan masa-masa sulit itu terlewati.

Kini kami berdua bisa kembali bercakap dengan hangat, saling terbuka satu sama lain. Sesaat sebelum kami kembali ke Jogja ibusempat berkata satu hal yang membuat saya berkaca-kaca “Maturnuwun yo, nduk. Aku seneng banget dino iki.”

Ibu berkali-kali mengucapkan terima kasih karena sudah saya ajak naik kereta dan jalan-jalan. Ibu bilang beliau merasa sangat bersyukur dan bahagia. Di titik itu rasanya saya pengen nangis. Yang saya lakukan ke ibu ini nggak ada apa-apanya dibanding segala hal yang sudah ibu korbankan buat saya. Saya kadang lupa berterima kasih sama ibu, tapi ibu justru yang berterima kasih pada saya.

renjana solo

Ternyata benar, hal-hal sepele yang kita lakukan ke orang tua bisa menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan buat mereka. Seremah apa pun itu. Di atas kereta Prameks yang melaju ke Jogaj saya berjanji dalam hati, ingin sering-sering membuat ibu bahagia meski dengan cara yang sederhana. Selagi masih diberi kesempatan. Selagi ibu masih ada.

 

Jogja, 22 Juli 2019
Ditulis sebulan setelah perjalanan

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

11 Responses

  1. Anazkia says:

    Aih…
    Terharu
    Semoga diberkati…

    Salam buat Ibu.

    Jadi inget perjalanan dengan Ibu ngajak pulang ke kampung halaman naik kereta. Baca ini jadi pengen nulis juga. Saya mah latahan, ya 😂😂😂😂

  2. Aji Sukma says:

    Woiii BST kan jg punya beberapa koridor/jalur. Ngapa main naik kaga nanya2 dl. Wkwkwkwk dasyarrrrrr

    Iya bener mba, aku pun lg suka menghabiskan waktu berdua sm ibu, minimal masak bareng atau makan di luar bareng. Rencana dr beberapa tahun lalu yg blm kesampaian, pengin jalan ke singapur. Smoga sgera terwujud. Huhuuu seneng baca cerita ini. Sehat2 utk utinya renjana, smoga panjang umur. Amiiin

    • Diem brisik! Ahahahahaha. AKu mau hambur-hambur uang kok, cobain naik BST lanjut gocar ahahahahaha.

      Iya, selama ibu masih sehat, selama masih bisa diajak merasakan “kenikmatan duniawi” emang sudah seharusnya kita meluangkan waktu buat beliau ya. Sebelum kelak menyesal.

      Amiiiin buat doa baiknya Omaji. Semoga Bapak Ibu juga sehat-sehat ya :)

  3. wisnutri says:

    Terharu pas baca kalimat –“Maturnuwun yo nduk,”–ke bawah. Apalagi buat anak-anak rantau yang (mungkin) baru bisa pulang dan ketemu sama orang tua, minimal 1 bulan sekali. Baca bagian paragraf itu langsung adem mbak.

    Aku juga pernah ngalamin itu kehabisan tiket prameks yang go-show. Mau nggak mau ya, kudu njogrog di stasiun dulu. Padahal juga nggak pas weekend. Eladalah, tetep wae kentekan tiket.

    • Enggak tau pas baca ulang artikel ini kok aku juga pengen mewek baca endingnya. Ingat banget momen itu mas.

      Iya niiih, Prameks beneran laris manis. Kudu pesen jauh2 hari emang biar kebagian.

  4. Duuh mbak jadi kelingan :’)
    Dulu sejak ibuk kena stroke dan ga bisa jalan normal lagi, aku punya rencana mau nyewa mobil buat pulang ke kampung halaman ibuk. Nengokin makam orang tua beliau. Tapi malah ibuk udah keburu nyusul :’)

    • Huhuhuhu, maaf ya kalau postingan ini mengenang kepedihan, bukan bermaksud begitu.
      Mari berdoa untuk mereka yang telah meninggalkan kita, pasti mereka sudah jauh lebih berbahagia :)

  5. Sulis says:

    Ibu mu msh muda ya sha, gaul lagi… Aku jd pengen ngajak ibuku naek kereta juga, ke cimahi.. rumah kakakku..

    • Udah sepuh mbak ibuku tu, 60an. Dulu beliau menikah umur 30, dan sekarang usiaku udah 30 lebih. Tapi banyak orang bilang ibu memang awet muda, kalau sama adik2nya malah dikira ibu yang ragil hehe. Pasti ibu Mbak Sulis bakalan seneng juga nih kalau diajakin naik kereta.

  6. Dheka Desi says:

    Aku kalo naik Prameks pasti pesan tiket dulu seminggu sebelumnya Mbak. Biar nggak kehabisan tiket di jam kita mau naik kereta

Sharing yuk!