Mandiri Jogja Marathon 2018 dan Pelajaran Hidup Dari Berlari

Mandiri Jogja Marathon 2018 bukan hanya sebuah event lari demi merebutkan gengsi. Lebih dari itu, gelaran ini juga menjadi bukti cinta atas apa yang diyakini. Bahwa semua hal harus diperjuangkan, termasuk mimpi. Walau kadang berujung perih seperti kisah Jonggrang Bondowoso, selama kita sudah memperjuangkannya,tak ada yang patut disesali.

Majestic Prambanan

Majestic Prambanan

Saya tak pernah membayangkan bisa berdiri di hadapan Candi Prambanan sedini itu, 04.16 WIB. Adzan subuh pun belum juga terdengar dan ayam yang menghancurkan mimpi Bandung Bondowoso untuk mempersunting Roro Jonggrang belum juga berkokok.

Ini bukanlah kali pertama saya ke candi subuh-subuh. Sebelumnya, saya pernah beberapa kali menyaksikan sunrise dari deretan stupa Borobudur. Namun untuk Candi Prambanan, ini adalah pengalaman pertama. Biasanya saya ke Prambanan saat siang terik, sehingga kesan yang saya dapat tentang candi hindu ini hanyalah panas. Tapi menyaksikan candi di kala pagi benar-benar berbeda.

Siluet Prambanan berdiri dengan sangat anggun, tinggi menjulang memamerkan keperkasaannya. Pancaran lampu sorot menjadikan lekuk bangunan yang sempat terkubur akibat erupsi merapi ini terlihat semakin jelas. Rasanya lagu Lobow sangat tepat menggambarkan Prambanan pagi itu “kau cantik hari ini, dan aku suka”. Saya pun tak henti-hentinya berdecak kagum sambil sesekali memencet tombol shutter kamera.

Jika bukan karena gelaran Mandiri Jogja Marathon 2018, kesempatan ini rasanya mustahil untuk saya peroleh. Bayangkan, saat orang masih lelap bergelung dengan selimut saya justru sudah berlari-lari kecil di pelataran candi yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Rakai Balitung tersebut.

Tak hanya saya, ribuan peserta event lari yang diselenggarakan Bank Mandiri ini juga sudah mulai menyemut di kompleks halaman candi. Ada yang datang sendiri-sendiri, ada pula yang datang beramai-ramai bersama keluarga mereka.  Meski mata masih terlihat sedikit berat untuk terbuka, namun raut bahagia dan semangat terpancar jelas dari wajah-wajah mereka. Sesekali ada semburat ketegangan yang melintas, namun bisa ditutupi dengan tawa bahagia.

Mengapa Prambanan?

Mandatory spot

Mandatory spot

Bukan tanpa alasan jika gelaran Mandiri Jogja Marathon 2018 dilaksanakan di Candi Prambanan. Sebagai salah satu ikon wisata Provinsi DIY, candi yang terletak tepat di garis batas antara Kabupaten Sleman DIY dan Kabupaten Klaten Jawa Tengah ini merupakan lokasi yang paling strategis.

Kawasan yang dikelola oleh PT Taman Wisata Candi ini memiliki halaman yang sangat luas sehingga cocok dijadikan lokasi berkumpul ribuan pelari dari seluruh penjuru Indonesia hingga dari negara-negara lain. Selain itu, kawasan sekitar Candi Prambanan juga merupakan areal perkampungan dan persawahan yang masih luas dengan latar Gunung Merapi yang berdiri gagah.

Dengan memilih lokasi event di Candi Prambanan, maka para pelari yang mengikuti ajang lari bergengsi ini bisa menyaksikan lansekap moii indie Yogyakarta yang indah lengkap dengan keramahan khas penduduknya. Sebagai tambahan, para pelari juga bisa menikmati kemegahan candi lain seperti Candi Plaosan dan Candi Sewu yang lokasinya berdekatan dengan Candi Prambanan. Oleh karena itu, tajuk Mandiri Jogja Marathon 2018 yang berbunyi “berlari bersama kearifan budaya Yogyakarta” menjadi sangat tepat.

Serba-Serbi Mandiri Jogja Marathon 2018

Titik start

Titik start

Berhubung saya terlalu takjub dan terpukau dengan kemegahan candi, saya terlambat masuk ke race village. Sehingga saat tiba di garis start, rombongan pelari kategori Full Marathon (FM) sudah dilepas dan mulai berlari. Saat itu yang sudah berbaris di garis start adalah pelari yang mengikuti kategori Half Marathon (HM).

Dalam gelaran Mandiri Jogja Marathon 2018 ini ada 4 kategori yang dilombakan, yakni FM (42,195 km), HM (21 km), 10K, serta 5K. Sedangkan untuk pemilihan pemenang sendiri nantinya masih akan dibagi-bagi kategori male dan female. Kali ini juga ada sistem penghitungan waktu alias Cut of Time (COT). Jadi waktu lari masing-masing peserta akan dibatasi. Jika mereka tiba di garis finish melebihi COT, maka mereka tidak akan mendapatkan medali finisher.

Tepat pukul 05.30, bendera start dikibarkan oleh Ibu Rinni (menteri BUMN) menandai dimulainya lari untuk kategori HM. Bersamaan dengan semburat jingga yang merekah di ufuk timur, derap langkah ribuan pelari menghentak di aspal basah sisa hujan semalam.

Berderap

Berderap

Melihat keriuhan yang terjadi mendadak pikiran aneh melintas di kepala. Andaikata kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso terjadi pada masa kini, bisa jadi kekalahan Bandung Bondowoso bukan disebabkan karena tipuan Roro Jonggrang. Pasukan jin yang membantu Bondowoso membangun candi bukan terbirit-birit karena mendengar ayam jantan berkokok dan mengira hari sudah pagi. Mereka juatru ngacir karena takut mendengar riuh rendah derap kaki para pelari.

Usai melihat para pelari diberangkatkan, saya pun kembali lagi ke race village. Kompleks halaman Candi Prambanan yang dipenuhi rumpuh hijau dan pohon rindang ini sudah disulap menjadi kawasan yang menarik. Terdapat panggung utama yang akan digunakan untuk memberikan hadiah serta pertujukan GAC guna menghibur para pelari. Di sisi lain terdapat area food court yang berisi stand-stand penjual makanan khas Yogyakarta.

Beragam makanan mulai dari sate klatak, gudeg, tengkleng, hingga jajanan pasar seperti mata kebo, clorot, jadah tempe, semua tersedia dengan lengkap. Untuk menikmati makanan tersebut, pengunjung cukup menggunakan e-money Mandiri. Jadi semua transaksi yang terjadi di race village ini adalah cashless. Keren kan, jajan klepon tapi bayarnya nggak pakai recehan, cukup gesek.

Selain stand makanan, di race village ini juga terdapat booth-booth menarik yang bisa digunakan untuk foto. Tak hanya itu, beberapa orang yang berdandan menjadi tokoh Punokawan serta Rama dan Shinta juga siap berfoto bersama para pengunjung.

Aneka jajanan yang bisa dibeli menggunakan e-money

Aneka jajanan yang bisa dibeli menggunakan e-money

Lompatan bahagia para finisher

Lompatan bahagia para finisher

Nggak apa-apa sampai finish telat, yang penting cekrek dulu #prinsip

Nggak apa-apa sampai finish telat, yang penting cekrek dulu #prinsip

Jika lelah berlari, jalan kaki pun tak mengapa

Jika lelah berlari, jalan kaki pun tak mengapa

Ekspresi syukur

Ekspresi syukur

Pelajaran Hidup dari Mandiri Jogja Marathon 2018 dan Paradigma yang Berubah

Selama ini saya adalah orang yang cukup skeptis dengan olah raga lari yang sedang marak dan digandrungi banyak orang khususnya masyarakat urban. Sepakat dengan perkataan sahabat saya, Andina, “lari itu meditatif, enaknya sendirian, nggak usah balapan”.

Ya, bagi saya sama seperti jalan kaki, lari adalah laku meditatif, sesuatu yang tidak usah diburu waktu. Apalagi ditambah saya yang memang tidak terlalu suka olah raga apa pun, paradigma “ngapain lari capek-capek udah gitu harus bayar pula” tertancap erat di benak.

Ternyata Mandiri Jogja Marathon 2018 mengobrak-abrik pandangan saya yang salah selama ini.

Sebagai muggle di dunia lari dari kenyataan, saya melihat banyak hal baru saat menyaksikan para pelari memasuki titik finish. Bahwa ternyata, lari adalah sebuah analogi untuk perjuangan hidup yang paling tepat.

Semua orang berlomba-lomba untuk mencapai titik akhir yang paling cepat, tidak hanya lebih cepat dari orang lain, namun sebisa mungkin juga menciptakan best performance masing-masing.  Tidak peduli laki-laki, perempuan, dewasa, atau masih anak-anak, siapa yang berlatih lebih keras, siapa yang berjuang lebih sungguh, siapa yang mempersiapkan diri sebaik mungkin, dialah yang akan mendapatkan hasil terbaik. Semua jadi mandiri dalam melatih dirinya.

Lari juga bukan olahraga yang esklusif, semua orang bisa dan boleh melakukannya. Dengan berlari, semua perbedaan melebur menjadi satu. Para pelari sudah tidak mempedulikan lagi perbedaan masing-masing individu, yang menjadi fokus mereka adalah satu, garis finish.

Saya cukup takjub saat kemarin melihat mbak-mbak bercadar finish di kategori 5K dengan durasi yang cukup cepat. Bayangin ya, lari memakai celana dan kaos aja kadang terasa susah dan gerah, tapi mbak ini bisa lari menggunakan rok panjang, jilbab besar, plus cadar. Sungguh saya menjura.

Cadar tidak menghalangimu untuk berlari

Cadar tidak menghalangimu untuk berlari

Mengikuti ajang lari semacam Mandiri Jogja Marathon 2018 ini juga mengajarkan soal empati. Mencapai titik akhir secepat mungkin memang tujuan. Namun kita juga tidak bolah egois dengan mengorbankan orang lain.

Selama ini dalam upaya menggapai mimpi dan ambisi, seringkali kita hanya terfokus pada hal tersebut dan lupa dengan orang-orang di sekitar kita. Kita hanya fokus pada langkah kita dan mengabaikan sesama. Tapi lewat menyaksikan Mandiri Jogja Marathon 2018 kemarin saya lagi-lagi diingatkan satu hal. Oke, kamu boleh fokus ke tujuan, tapi ingatlah bahwa bukan itu sumber kebahagiaan utama. Saling berbagi dan menolong orang lain juga akan menciptakan kebahagiaan yang lain.

Tentu saja bukan tanpa alasan saya mengatakan kalimat ini. Saya tersentuh dengan adegan seorang pria memapah pria lainnya dan bersama-sama berjalan kaki memasuki garis finish. Jika pria itu egois, bisa saja dia meninggalkan kawannya yang cidera. Tapi dia memilih untuk melewatkan waktu terbaiknya dan justru memapah kawannya yang terluka.

Memapah yang cidera dan saling menyemangati

Memapah yang cidera dan saling menyemangati

Terlepas dari banyaknya kekurangan sana-sini yang dikeluhkan oleh para peserta, buat saya gelaran Mandiri Jogja Marathon adalah event lari berskala nasional yang menarik untuk diikuti. Tidak hanya oleh para pelari, namun juga orang-orang biasa seperti saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa soal dunia lari. Dengan mengikuti rangkaian kegiatan ini, ada banyak hal baru yang saya peroleh, ada banyak kesalahan pemahaman yang akhirnya menjadi tercerahkan.

Mandiri Jogja Marathon 2018 telah usai seminggu yang lalu. Semoga segala kekurangan yang terjadi, semua kritik, dan semua saran yang membangun bagi panitia bisa dievaluasi guna kebaikan MJM 2019. Dan semoga tahun depan saya bisa bergabung lagi di acara ini dengan status baru, peserta lari ahaaay. Diaminkan, jangan?

 

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

6 Responses

  1. Aku rasanya suatu saat pengen nyoba event lari gini 😂 kayaknya menyenangkan, tambah temen juga dan paling asik dapet mendalinya.

    Mbak aku kagum ama foto di awal Prambanan di Pagi hari 💃 bagus bangett

    • Iya ku juga sesekali jadi pengen coba ikutan event lari gini, seru kayaknya.

      Akupuuun, beneran keren bangeeet. Apalagi pas langitnya masih gelap, magis lah lihatnya.

  2. Bara Anggara says:

    Kecantikan prambanan yang menyihir di pagi hari hampir aja bikin lupa kalau lagi ikut event lari ya hihi..

    Aku blm pernah ikut event lari gini euy..

    -Traveler Paruh Waktu

  3. Wisnu Tri says:

    Mak Jleb banget pas baca part mbak-mbak bercadar finish dalam waktu yang singkat & ada mas-mas yang rela membantu peserta lain yang cedera kaki, mbak. Dibalik riuhnya kompetisi bergengsi ini, ternyata masih ada orang yang peduli dan mengesampingkan egonya untuk meraih kemenangan semata. *salut*

    Laaah? Aku kok jadi bingung ya? Pas baca di paragraf-paragraf atas kayaknya ada kalimat “berlari-lari kecil saat subuh”, tapi kok di akhir tulisan berdo’anya “tahun depan bisa ganti status sebagai peserta lari”. Ini kemaren nggak ikutan lari jadi peserta berati mbak? 😀

    • Keren banget lah pokoknya kemarin itu. Saya jadi melihat sisi lain dari event ini.

      Ahahahaha, akutu berlari kecilnya dari parkiran, ke komplek candi, terus ke titik start, kak. Buat liputan aja, nggak ikutan event larinya ahahahahaha.

Sharing yuk!