Minggu Melamun: Kemilau Senja

senja-indah

Pada sebuah kepulangan setelah perjalanan ke timur, pikiran saya melompat-lompat tanpa henti. Kala itu saya duduk sendiri di kursi paling ujung, dekat dengan pintu gerbong sekaligus bersebelahan dengan toilet. Jika tak ada kawan yang bekerja di PT KAI, mungkin hari itu saya bakalan nggembel di Surabaya sebab semua tiket sudah ludes terjual. Di menit-menit terakhir saya ingat bahwa ada kawan yang bisa dimintai tolong, dan Puji Tuhan dia bisa mendapatkan satu tiket untuk saya.

Masih di atas kereta Sancaka yang melaju menuju Jogja, ingatan saya terus berputar laksana gulungan rol film. Subuh tadi masih bergelung selimut di Bromo, lantas kebingungan di tengah hujan deras tentang bagaimana cara kembali ke Surabaya, hingga akhirnya bertemu rombongan pria baik yang bersedia memberi tumpangan, galau masalah tiket kereta, hingga akhirnya sekarang sudah duduk manis di tepi jendela.

Terkadang hidup memang seperti itu. Bergerak naik turun seperti roller coaster, berdetak begitu cepat, stakato. Suka duka datang bergantian, bahkan terkadang perpindahannya begitu cepat sehingga terkadang batas antara tawa dan air mata sangatlah rapuh. Kita pun harus pandai untuk mengimbangi lajunya, jangan sampai lengah lantas terjerembab dalam kubangan rasa tanpa ujung.

Di tengah lamunan tersebut mata saya tertumbuk pada sinar mentari yang mulai lindap ke batas cakrawala. Tadinya matahari tertutup awan gelap yang cukup tebal sehingga suasana sore begitu sendu. Namun tinggal beberapa langkah dari cakrawala, dia terbebas dari belenggu awan lantas menampakkan kemilau sinarnya yang begitu menawan. Semburat cahaya keemasan membelah angkasa. Bahkan awan yang tadi menutupinya bisa berubah indah karena sinarnya. Burung-burung yang semula lesu pun akhirnya turut bersuka. Semesta senja berubah menjadi begitu semarak. Dan sebagai pamungkas, mentari tenggelam dengan gagahnya sembari menyisakan aneka rona warna di angkasa.

Saya yang dasarnya orang naturalis nyaris menitikkan air mata melihat keindahan yang sedemikian rupa. Senja yang berkilau ini akan selalu lekat dalam ingatan. Usai menyaksikan senja, lamunan saya pun semakin dalam.

Saya ingin saat usia senja nanti bisa berkilau seperti senja yang baru saja saya saksikan. Meski fajar saya dipenuhi kabut dan awan tebal sehingga mentari tak terlihat, siang saya penuh hujan badai, tapi saya mau senja saya sempurna.

Saya ingin menua dengan tenang dan bahagia. Bahkan jika bisa dengan berkilau, old but gold. Mungkin masa kecil saya penuh dengan penderitaan, masa muda saya berdarah-darah dengan segudang problema, tapi saya ingin masa tua saya sempurna. Saya ingin usia senja saya kelak menjadi berkat bagi orang-orang, bahkan menjadi inspirasi, hingga akhirnya saat saya pergi orang-orang tetap mengenang saya dengan baik seperti saya mengenang senja kali ini.

Yang harus saya lakukan sekarang adalah hidup sebaik-baiknya, bekerja sebaik-baiknya, berjuang sebaik-baiknya, jangan pernah menyerah dalam tiap keadaan, dan tentu saja selalu mengandalkan Dia dalam segala perkara.  Sekali lagi, saya ingin menua dengan tenang dan bahagia.

Elisabeth Murni

Puan kelana. Peramu kata. Pencipta bahagia.

You may also like...

7 Responses

  1. Hastira says:

    ako doakan agar hidupmu sellau baik penuh semangat

  2. Nia Haryanto says:

    Semoga semua keinginannya tercapai, ya. Ya, hidup yang tenang dan bahagia memang dambaan semua manusia. Termasuk saya. :)

  3. represented what i feel mbaaaaak..
    me too, want an old but gold.
    bisa sembuh dari luka-luka masa lalu. bisa bangkit membangun istana mimpi untuk menatap senja yang sempurna.

Sharing yuk!